Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Sering Merasa Sedih Dan Galau Tiba-Tiba? ~ Mungkin Itu Karena Kapitalisme

Pataka Eja by Pataka Eja
28 Januari 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 01 20 At 19 46

Oleh: Ajis Eka Putra

Manusia modern acap kali menjadi tiba-tiba sangat lemah tanpa sebab yang jelas, hanya karena kehidupannya yang condong ingin merasa mandiri seperti kebanyakan orang. Nilai kohesi sosial yang teriris oleh individualisme dan dukungan gerusan sosial media sangat yang menyediakan kita segala hal; kecuali kemanusiaan.

Saya pikir biang keladinya adalah sistem neo-kapitalistik

Seketika suasana sedikit canggung, “sepertinya tidak ada hubungannya deh,” kata kawan tongkrongan dengan tawa saat saya bilang bahwa konsumerisme dan kapitalisme telah membuat hubungan manusia dengan sekitarnya menjadi dangkal dan transaksional.

Saya pikir biang keladinya adalah sistem neo-kapitalistik.

Pendapat tersebut seharusnya tak terlalu mengagetkan, karena para pemikir kontemporer dengan diskursus tersebut telah lama berpendapat bahwa kapitalisme membawa virus mengerikan ke dalam tubuh dan pemikiran masyarakat kita.

Erich Fromm, seorang psikolog sosial dan psikoanalis Jerman-Amerika, melihat kapitalisme sebagai alasan mengapa masyarakat modern jadi sangat individualis dan kompetitif. Terlepas dari manfaatnya, kapitalisme bikin orang merasa terasing, kesepian, dan tak berdaya.

Tak jarang kebahagiaan digantungkan kepada hal-hal materialistik yang berada diluar dari diri kebanyakan orang hari ini. Mindset tersebut juga berpengaruh drastis dalam menentukan karakter penanganan emosi kita.

Hingga istilah self reward marak ditemukan diberbagai obrolan maupun konten media sosial,  namun ada tahapan dimana kita tidak lagi bisa membedakan apakah itu betul-betul standar pemenuhan kebutuhan atau hanya sekedar angan keinginan semata.

Saat itu digembar-gemborkan, maka terciptalah sebuah standar konsumsi yang jomplang, karena sosial media menyediakan algoritma tanpa filter, dimana tak jarang kita menjumpai konten “self reward dengan cara liburan ke tempat premium atau membeli barang limited edition” yang belum bisa dijangkau oleh semua golongan masyarakat.

Mari bayangkan, Ketika terdapat keluarga yang belum memiliki kemampuan untuk melakukan itu; namun selalu dicekoki dengan standar manusia lain. Ia akan merasa sangat ambigu untuk memilih memenuhi kebutuhan keluarga atau keinginan pribadinya.

Dilema ini sangat banyak dialami oleh masyarakat, terutama generasi muda hari ini. Mereka berada dalam budaya konsumerisme yang mengubah sedikit banyak sudut pandang manusia modern.

Perkembangan ini mengubah cara pandang manusia terhadap perilaku konsumsi manusia yang awalnya sebagai proses pemenuhan kebutuhan; namun, hari ini mengalami pergeseran nilai menjadi sarana pemenuhan keinginan, gaya hidup, hingga penopang status sosial.

Secara sederhana, budaya konsumerisme dapat diartikan sebagai sebuah pola perilaku konsumsi secara berlebihan, karena tidak lagi didasarkan pada standar kebutuhan; melainkan didasari oleh pemenuhan Hasrat sesaat. “ saya mau beli ini ah, pakaian limited edition, saya mau beli HP keluaran terbaru seperti yang ada di konten para influencer ah, wahh ada Sepatu running viral nih; check out ah… dst.” Nilai barang benar-benar tidak lagi dilihat dari fungsi utamanya melainkan makna simbolik yang melekat seperti; status sosial, gengsi, dan pengakuan dari lingkungan sekitar. Sehingga kita mengenal istilah “validasi sosial” nowdays

Merasa tidak berdaya, galau dan sendiri dalam sistem neokapitalistik

Neokapitalisme sering dikaitkan dengan munculnya masyarakat yang semakin individualis. Secara sederhana, neokapitalisme adalah istilah yang digunakan untuk menamai sistem kapitalistik yang lebih tajam, halus bahkan tak terlihat dengan menekankan pasar bebas, kompetisi, efisiensi, dan peran minimal negara dalam mengatur ekonomi.

Sehingga, tidak jarang kita merasa tidak punya sandaran, tidak memiliki ruang untuk menumpahkan Lelah, bahkan merasa tak ada satupun manusia yang dapat membantu kita.

Karena hampir semua  aspek dipandang sebagai “pasar”: hubungan sosial, pendidikan, bahkan diri sendiri diposisikan sebagai “investasi”. masyarakat didorong untuk terus bersaing, meningkatkan nilai diri, dan memikirkan keuntungan personal. Akibatnya, orientasi kolektif—seperti gotong royong atau kepentingan bersama—secara perlahan bergeser ke orientasi personal.

Ketika pergeseran orientasi kolektif tersebut tak terbendung, maka identitas manusia yang berdimensi sosial akan tergerus. Hal tersebut akan mengaminkan budaya  kompetisi yang diinginkan oleh sistem neokapitalis, dimana kompetisi menurutnya  adalah hal yang wajar, bahkan ideal. Sejak sekolah hingga dunia kerja, kita dilatih untuk menjadi “pemenang” secara individual.

Ini membentuk mentalitas bahwa keberhasilan adalah hasil usaha personal semata, bukan juga hasil dukungan sosial. Lalu, dampaknya apa? Dampaknya ialah, solidaritas melemah, karena orang lain lebih sering dipandang sebagai pesaing dari pada kawan.

Society  yang  terlanjur ter-desain oleh sistem individualistik ini akan merasa sangat-sangat baik-baik saja, hingga tiba-tiba mereka merasa sendiri ataupun dalam istilah hari ini “galau” tanpa alasan apapun.

Jadi, tidaklah mengherankan Ketika saya mengatakan bahwa hadirnya perasaan sendiri dan tak berdaya yang datang tiba-tiba itu karena kapitalisme; karena system ini menciptakan karakter individualis yang kuat dimana nilainya Adalah “saya adalah saya dan kamu adalah kamu”. Sedangkan, kata kita bermakna “apa yang bisa saya dapat dari kamu dan apa yang bisa saya berikan untukmu” secara materil.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

252
Opini

Melihat Pendidikan yang Berpijar dalam Gelap dan Akses yang Terbatas

17 September 2025
147
Whatsapp Image 2025 05 02 At 22 20 08 9605197a
Opini

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Mewujudkan Keadilan dan Kualitas Pendidikan

2 Mei 2025
139
Whatsapp Image 2024 07 30 At 11 24 48 E508d2da
Opini

Perkuat Aliansi, Ludahi SE 259 UINAM Beserta Para Elit Lembaga Kemahasiswaannya!

30 Juli 2024
112
Img 20251010 Wa0032
Opini

Pendidikan: Investasi yang Terabaikan atau Harapan yang Terlupakan?

10 Oktober 2025
122

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi