Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Melihat Pendidikan yang Berpijar dalam Gelap dan Akses yang Terbatas

Pataka Eja by Pataka Eja
17 September 2025
in Opini
0
252

Foto: Kawan-kawan relawan bersama siswa sekolah dalam proses belajar mengajar

Opini oleh : Syahrul Gunawan


Katanya, pendidikan adalah hak bagi semua warga negara. Ia jelas termaktub dalam payung hukum tertinggi di negara yang telah memasuki usia ke-80 tahun. UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1-5, jelas mengatur mengenai hak dan kewajiban negara dan warga negara tentang pendidikan.

80 tahun harusnya menandakan usia kedewasaan sebuah bangsa. Jika ia seorang manusia, umurnya masuk dalam golongan lansia bijak yang telah kenyang akan berbagai pengalaman. Namun, pada kenyataannya, bangsa ini harus masih banyak berbenah. Terutama masalah pendidikan yang menjadi tanggung jawab utama negara dalam mencapai tujuannya, “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Gemerlapnya kota yang dihiasi gedung pencakar langit berbanding terbalik dengan gelapnya desa yang disusupi kegelapan di malam hari. Kemilau lampu taman-taman kota tak mampu dinikmati oleh mata masyarakat yang hidup tanpa aliran listrik kala temaram. Di satu sisi semua hal diakses melampaui batas, di sisi lain ada wilayah yang tak mampu mengakses segala hal karena keterbatasan.

Walau dalam kondisi demikian, satu hal yang mesti tetap berpijar dalam kondisi apapun, yakni pendidikan. Sebab pendidikan adalah pelita yang akan menerangi kehidupan yang gelap. Namun, ia harus dibarengi dengan fasilitas yang layak dan tenaga pengajar yang handal.

Kita tentu sepakat, bahwa pendidikan di negeri yang kaya akan hasil alam ini masih belum merata. Pendidikan masih terdesentralisasi di titik tertentu, di titik yang ramai, di titik yang aksesnya mudah dijangkau. Tak ayal, pendidikan di pelosok-pelosok desa mengalami ketimpangan jika disandingkan dengan pendidikan di wilayah lain yang mudah dijangkau.

Tapi, haruskah pendidikan kita dipeta-petakan oleh letak geografis? Tentunya tidak, di setiap sudut-sudut negeri ada anak yang menggantungkan harapan dan cita-citanya dengan belajar di sekolah yang layak. Dengan guru yang kompeten dan ikhlas mendidik serta mengarahkan muridnya penuh kasih sayang.

Jauh dari ramai hiruk-pikuk kota, membuat salah satu dusun¹ yang tanpa aliran listrik dan jaringan yang terbatas, terlihat dibeda-bedakan dengan daerah lain. Di dalamnya, ada sekolah dasar² yang siswanya berjumlah total ±60 orang, tetapi biasanya yang hadir hanya ±20 orang.

Di sekolah ini diisi anak-anak yang penuh semangat untuk mengenyam pendidikan. Tapi naas, mereka tertinggal dari segi sarana dan prasarana yang menunjang mereka untuk menggapai mimpinya.

8974
Foto: Sekolah dan akses jalan dusun

Malam hari, dusun ini begitu gelap dengan pencahayaan yang terbatas, hanya beberapa titik yang diterangi lampu hasil dari tenaga surya ataupun genset milik pribadi warga. Belum lagi, jalanan yang menanjak dan menurun dipenuhi dengan bebatuan. Sekilas sangat tertinggal jauh dari wilayah lain.

Tapi dengan penuh semangat, siswa-siswi di sana tetap belajar ke sekolah, walau ada yang tak mengenakan seragam lengkap. Tanpa sepatu, hanya mengenakan sendal, tak jarang hanya beralaskan kaki, tanpa tas yang bagus, hanya bermodalkan semangat.

Di satu kesempatan, penulis bersama kawan-kawan di sebuah komunitas³ melihat langsung kondisi yang ada di sana. Kondisi yang mencekik leher, menampar hati, dan menusuk pikiran. Bahwasanya, pendidikan yang layak belum merata di tanah air tercinta.

Di tengah peliknya ketimpangan sosial, tentu tetap ada sepotong jiwa yang dengan ikhlas berbagi senyum dan keceriaan. Hal tersebut tersalurkan lewat sebuah komunitas yang bergerak secara kolektif-kolegial, berangkat dari prinsip yang sama (baca: kepedulian). Layaknya menjadi ujung tombak, komunitas yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan bahu-membahu mencoba tetap membuat pendidikan di pelosok-pelosok tetap berpijar.

Sabtu, 12 September 2025 di malam penghujung kegiatan, penulis dan kawan-kawan di komunitas menggelar nonton bareng film “Laskar Pelangi” bersama siswa dan masyarakat sekitar. Penerangan yang terbatas, listrik seadanya dari tenaga surya dan genset milik warga, film itu diputar dan disaksikan secara seksama.

Dengan penuh harapan semangat yang dituangkan dalam film merebak dan merambat ke siswa yang ada dan membuka pikiran masyarakat sekitar mengenai pentingnya menyekolahkan anaknya. Sekaligus memberi stimulus bahwa di tengah keterbatasan dan bagaimanapun kondisinya, pendidikan harus tetap berpijar, sebab ia adalah pelita untuk masa depan yang  cerah.

4684
Foto: Suasana pemutaran film “Laskar Pelangi” yang ditonton bersama siswa dan masyarakat

Menjangkau sudut-sudut negeri, membuka mata dan hati pemangku kebijakan untuk menggunakan kebijaksanaannya dalam bertanggung jawab atas amanah rakyat. Sekali lagi, tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa itu harus diwujudkan. Ia bukan hanya sekedar tujuan, tapi upaya merawat pondasi sebuah bangsa lewat generasi masa depan yang cerdas dan punya kebijaksanaan.

Dengan segala keterbatasan, dengan segala kekurangan yang nampak jelas di sana, tak ada alasan negara lepas tangan dari tanggung jawabnya. Negara harus hadir menjangkau segala penjuru negeri. Warga negara harus dipenuhi haknya mendapatkan pendidikan yang layak. Sebuah pendidikan yang memanusiakan manusia dengan fasilitas yang layak dan setara tanpa dibeda-bedakan antara yang jauh dan yang dekat dari pusat pemerintahan.

“Jika hari ini kau masih melihat pendidikan di negeri ini belum merata, maka jangan sungkan untuk menggerakkan hati dan jiwamu untuk mengabdikan diri pada bangsa dan negara, walau secara sukarela.”

– Syahrul Gunawan

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 10 29 At 10 50 51
Opini

Menyumpahi Pemuda, Event Tahunan 28 Oktober

29 Oktober 2025
83
Grgwr
Opini

Membaca Kajao Laliddong: Sebuah Pesan Untuk Pak Prabowo

15 Februari 2026
40
Screenshot
Opini

Desaku Berdaya : Tak Butuh MBG Menyapa

29 November 2025
111
Whatsapp Image 2025 12 22 At 08 05
Opini

Menafsirkan Ulang Kepemimpinan Mahasiswa di Tengah Perubahan Zaman

22 Desember 2025
132

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi