Opini Oleh : Elma Wahyuni
Kasus perempuan yang diduga disekap oleh kekasihnya selama tiga tahun dalam kondisi yang mengenaskan. kembali membuka luka lama tentang cara masyarakat memandang kekerasan terhadap perempuan.
Alih-alih berfokus pada tindakan keji yang dilakukan pelaku, perhatian publik seringkali justru tertuju pada korban. Pertanyaan yang muncul berulang kali adalah: “Mengapa ia tidak kabur?”, “Mengapa ia bertahan selama itu?”, atau “Mengapa tidak melapor sejak awal?”
Sekilas, pertanyaan tersebut mungkin terlihat sebagai bentuk rasa ingin tahu. Namun, jika ditelaah lebih dalam, pertanyaan itu mencerminkan budaya yang masih menempatkan korban sebagai pihak yang harus menjelaskan, membuktikan, bahkan mempertanggungjawabkan kekerasan yang dialaminya.
Dalam banyak kasus, korban dipaksa menjawab mengapa ia tidak melakukan sesuatu, sementara pelaku jarang dituntut menjelaskan mengapa ia memilih melakukan kekerasan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat masih terjebak dalam budaya victim blaming atau menyalahkan korban.
Akibatnya, fokus pembahasan bergeser dari tindakan pelaku kepada keputusan-keputusan korban. Padahal, persoalan utama dalam setiap kasus kekerasan bukanlah mengapa korban bertahan, melainkan mengapa pelaku merasa berhak menyakiti, mengontrol, dan merampas kebebasan orang lain.
Korban Selalu Menjadi Sasaran Pertanyaan
Dalam berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan, pola yang sama terus berulang. Ketika perempuan mengalami kekerasan seksual, masyarakat bertanya tentang pakaian yang dikenakannya.
Ketika perempuan mengalami kekerasan dalam pacaran atau rumah tangga, masyarakat mempertanyakan alasan ia tetap bertahan. Bahkan ketika perempuan menjadi korban pembunuhan oleh pasangan, tidak sedikit yang mencari-cari apa yang mungkin dilakukan korban hingga memicu kemarahan pelaku.
Pola ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kecenderungan untuk mencari kesalahan pada korban. Seolah-olah selalu ada tindakan korban yang dapat menjelaskan atau bahkan membenarkan kekerasan yang terjadi.
Dalam cara berpikir seperti ini, pelaku tidak lagi menjadi pusat perhatian, melainkan hanya menjadi bagian dari latar belakang cerita.
Padahal, tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan tindakan kekerasan. Tidak ada pilihan korban yang dapat menghapus tanggung jawab pelaku atas perbuatannya.
Mengapa Korban Tidak Mudah Pergi?
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan dalam kasus kekerasan adalah: “Mengapa korban tidak kabur?” Pertanyaan ini muncul karena banyak orang membayangkan bahwa keluar dari situasi kekerasan adalah perkara sederhana. Mereka melihatnya sebagai keputusan rasional yang dapat dilakukan kapan saja.
Kenyataannya jauh lebih kompleks.
Korban kekerasan seringkali hidup dalam situasi yang penuh ketakutan, ancaman, dan kontrol yang dilakukan secara terus-menerus.
Mereka dapat mengalami isolasi dari keluarga dan teman, kehilangan akses terhadap bantuan, hingga mengalami manipulasi psikologis yang membuat mereka merasa tidak berdaya.
Dalam banyak kasus, pelaku secara sistematis menghancurkan rasa percaya diri korban sehingga korban merasa tidak memiliki pilihan lain.
Kekerasan bukan hanya persoalan luka fisik. Kekerasan juga menciptakan penjara psikologis yang membatasi kemampuan korban untuk mengambil keputusan secara bebas.
Ketakutan akan ancaman, rasa malu, tekanan sosial, ketergantungan ekonomi, serta minimnya dukungan dari lingkungan sering kali membuat korban sulit keluar dari situasi tersebut
Karena itu, bertahan dalam situasi kekerasan bukanlah tanda kelemahan. Sering kali, itu adalah strategi bertahan hidup yang dipilih korban dalam kondisi yang sangat terbatas.
Yang Harus Dipertanyakan Adalah Pelaku
Jika masyarakat benar-benar ingin memahami akar persoalan, maka pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah kepada korban, melainkan kepada pelaku.
Mengapa seseorang merasa berhak mengendalikan hidup orang lain?
Mengapa seseorang mampu mengurung, menyiksa, atau memperlakukan pasangannya sebagai milik pribadi?
Bagaimana seseorang dapat mempertahankan tindakan kekerasan selama bertahun-tahun tanpa rasa bersalah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting karena mengarah pada sumber masalah yang sebenarnya, yaitu perilaku pelaku dan struktur sosial yang memungkinkan kekerasan terjadi.
Ketika perhatian publik terus berpusat pada korban, pelaku justru mendapatkan ruang untuk menghindari pertanggungjawaban moral maupun sosial.
Mengalihkan fokus kepada pelaku juga membantu masyarakat memahami bahwa kekerasan terhadap perempuan bukanlah persoalan individu semata, melainkan persoalan relasi kuasa yang tidak setara.
Kekerasan lahir dari keyakinan bahwa seseorang memiliki hak untuk mengontrol, mendominasi, dan menentukan hidup orang lain.
Patriarki dan Budaya Menyalahkan Korban
Budaya menyalahkan korban tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dalam struktur sosial patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rentan untuk dihakimi dan dipersalahkan.
Dalam budaya patriarki, perempuan sering kali dibebani tanggung jawab untuk menjaga diri dari kekerasan, sementara laki-laki jarang diajarkan untuk bertanggung jawab atas perilaku kekerasannya.
Akibatnya, ketika kekerasan terjadi, masyarakat lebih mudah bertanya apa yang seharusnya dilakukan perempuan daripada mempertanyakan tindakan laki-laki yang melakukan kekerasan.
Cara pandang ini sangat berbahaya karena dapat membuat korban enggan melapor. Korban khawatir akan disalahkan, tidak dipercaya, dipermalukan, atau bahkan dianggap sebagai penyebab kekerasan yang dialaminya.
Pada akhirnya, budaya menyalahkan korban tidak hanya melukai korban untuk kedua kalinya, tetapi juga menciptakan lingkungan yang memungkinkan pelaku terus beroperasi tanpa pengawasan sosial yang memadai.
Mengubah Perspektif Masyarakat
Sudah saatnya masyarakat mengubah cara pandang terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan. Fokus utama harus diarahkan pada tindakan pelaku, bukan pada keputusan korban.
Kita perlu membangun empati terhadap korban dengan memahami bahwa setiap orang menghadapi kekerasan dalam situasi yang berbeda-beda.
Tidak semua korban memiliki akses yang sama terhadap bantuan, perlindungan hukum, dukungan keluarga, atau sumber daya ekonomi.
Oleh karena itu, tidak adil jika masyarakat menghakimi korban berdasarkan standar yang dibangun dari kenyamanan dan keamanan yang tidak dimiliki korban.
Selain itu, media, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan negara memiliki tanggung jawab untuk membangun kesadaran publik bahwa kekerasan tidak pernah menjadi kesalahan korban.
Pendidikan mengenai kesetaraan gender dan perspektif korban perlu diperkuat agar masyarakat mampu melihat persoalan secara lebih adil dan manusiawi.
Kasus perempuan yang disekap selama tiga tahun bukan hanya kisah tragis tentang satu individu. Kasus ini adalah cermin yang memperlihatkan bagaimana masyarakat masih sering gagal menempatkan tanggung jawab pada pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
Selama perhatian publik masih dipenuhi pertanyaan seperti “mengapa korban tidak kabur?”, kita sesungguhnya sedang mengalihkan fokus dari kejahatan yang dilakukan pelaku. Kita sedang menuntut korban untuk menjelaskan penderitaannya, sementara pelaku luput dari sorotan yang semestinya.
Karena itu, ketika mendengar kasus kekerasan terhadap perempuan, mari mengubah pertanyaan yang kita ajukan. Jangan lagi bertanya mengapa korban tidak pergi. Tanyakan mengapa pelaku merasa berhak menahan, mengontrol, dan menyakiti.
Jangan lagi mencari kesalahan pada perempuan yang sedang berjuang untuk bertahan hidup. Arahkan perhatian pada mereka yang menciptakan teror dan penderitaan tersebut.
Sebab yang salah bukan perempuan yang bertahan di tengah kekerasan. Yang salah adalah mereka yang memilih melakukan kekerasan. Dan selama masyarakat masih sibuk mencari kesalahan korban, pelaku akan selalu menemukan tempat untuk bersembunyi.




