Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Tanggung Jawab Kolektif Semesta: Nafas yang Menghidupkan Pendidikan

Pataka Eja by Pataka Eja
3 Mei 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 05 02 At 20 47

Oleh : Nur’alim         

Pendidikan tidak pernah tumbuh dari ruang hampa. Tetapi lahir  dari perjumpaan banyak tangan, banyak hati, dan banyak kesadaran. Namun hari ini, kita seperti menyaksikan pendidikan berjalan sendirian dipikul oleh sekolah, dibebani oleh Guru, sementara semesta di sekelilingnya perlahan menjauh.

Kita sering berbicara tentang mutu pendidikan, tetapi lupa bahwa mutu tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau angka-angka capaian. Mutu lahir dari ekosistem yang hidup dari keluarga yang peduli, masyarakat yang mendukung, dan negara yang hadir dengan kebijakan yang adil. Ketika salah satu elemen melemah, maka pendidikan kehilangan keseimbangannya.

Masalah pendidikan di Indonesia bukan hanya soal akses atau fasilitas, tetapi krisis partisipasi. Keluarga menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada sekolah. Sekolah berjalan dalam batas-batas administratif. Masyarakat belum sepenuhnya menjadi ruang belajar yang sehat. Negara hadir, tetapi seringkali belum cukup menyentuh akar persoalan di lapangan. Akibatnya, pendidikan menjadi parsial tidak utuh.

Namun, di tengah kompleksitas itu, kita tidak kekurangan harapan, yang kita butuhkan adalah keberanian untuk menghidupkan kembali partisipasi semesta sebagai fondasi pendidikan.

Begitupun dengan kehadiran Program Sekolah Rakyat menjadi penting untuk dibaca secara jernih dan bijak. Program ini tidak sekadar alternatif, tetapi menjadi ruang koreksi bagi sistem pendidikan formal yang selama ini cenderung kaku dan seragam. Sekolah Rakyat menghadirkan pendidikan yang lebih dekat dengan realitas masyarakat, lebih lentur dalam pendekatan, dan lebih terbuka terhadap partisipasi komunitas.

Namun demikian, Sekolah Rakyat tidak boleh diposisikan sebagai “pengganti” sekolah formal, apalagi menjadi simbol ketimpangan baru. Tetapi harus tumbuh sebagai untuk tetap menjangkau yang belum terjangkau, menguatkan yang sudah ada dan yang membuka ruang keterlibatan masyarakat secara lebih luas. Negara perlu memastikan bahwa program ini berjalan dengan kualitas yang terjaga, dukungan yang memadai, serta arah yang tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Di sinilah letak pentingnya sinergi: ketika sekolah formal, Sekolah Rakyat, keluarga, dan masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling mengisi dan menguatkan.

Namun, semua solusi itu akan kembali pada satu hal mendasar: kesadaran kolektif. Tanpa kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, maka segala program hanya akan menjadi formalitas.

Kita perlu mengubah cara pandang dari “siapa yang bertanggung jawab” menjadi “bagaimana kita berbagi tanggung jawab”.

Di situlah letak kebijaksanaan pendidikan: bukan pada seberapa banyak kebijakan dibuat, tetapi pada seberapa dalam keterlibatan dibangun.

Pendidikan bermutu untuk semua bukanlah utopia. Tetapi menjadi kemungkinan yang nyata, selama kita mau berjalan bersama. Ketika keluarga menghidupkan nilai, sekolah menumbuhkan akal, masyarakat menjaga lingkungan, dan negara memastikan keadilan, serta inovasi seperti Sekolah Rakyat diberi ruang untuk tumbuh, maka pendidikan akan menemukan jalannya.

Dan pada akhirnya, kita akan sampai pada satu kesadaran sederhana namun mendalam: bahwa untuk mendidik satu generasi, tidak cukup satu sistem namun dibutuhkan satu semesta yang saling menguatkan.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20251028 Wa0013
Opini

Ketika Semangat 1928 Bertemu Gelombang Demonstrasi 2025

28 Oktober 2025
123
Img 20250810 174412
Opini

Bangun di Sepertiga Malam: Gaya Hidup Sehat dan Bernilai Ibadah

27 November 2025
89
266441604 1009201916604096 6903033586605320215 N
Opini

REFLEKSI HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL: DIMANA RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN?

2 Juli 2024
114
Sdvsdcds
Opini

Matinya Ruang Diskusi : Kampus dan Krisis Budaya Dialektika Mahasiswa

14 Mei 2026
129

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi