Oleh: Caca
Aksi demonstrasi selalu lahir dari suara rakyat yang resah, dari hati yang lelah melihat ketidakadilan, dari jeritan yang terlalu lama diabaikan oleh penguasa. Namun, setiap kali rakyat bersatu menyuarakan kebenaran, selalu saja ada tangan-tangan kotor yang mencoba membelokkan arah perjuangan. Mereka hadir dalam bentuk provokator, mereka yang sengaja dikerahkan untuk menciptakan kegaduhan, mengadu domba, dan merusak citra gerakan rakyat.
Inilah skenario usang yang terus diulang oleh kaum elite: saat rakyat mulai bergerak, mereka sisipkan api provokasi. Ketika kericuhan terjadi, media hanya menyorot kekacauan, sementara aspirasi rakyat tenggelam di balik headline yang mereka rekayasa. Elite pun kembali punya alasan untuk menekan rakyat, memperkuat cengkeraman, dan menutup telinga dari tuntutan yang sebenarnya. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap demokrasi, pengkhianatan terhadap hak rakyat untuk bersuara.
Kawan-kawan seperjuangan, jangan termakan skenario murahan ini. Menahan diri bukan berarti mundur. Menahan amarah bukan berarti menyerah. Justru dengan menahan diri, kita menjaga agar perjuangan tetap murni, agar suara kita tidak diperalat, dan agar barisan kita tetap utuh. Apa gunanya berteriak lantang jika kemudian kita terjebak dalam jebakan provokasi yang memang sengaja dipasang untuk memecah belah kita?
Elite selalu takut pada persatuan rakyat. Maka, mereka ciptakan adu domba: antara sesama massa aksi, antara rakyat dengan aparat, bahkan antarorganisasi rakyat sendiri. Padahal yang kita lawan bukan sesama rakyat, bukan sesama demonstran, bukan pula mereka yang sama-sama berjuang di jalanan. Lawan kita adalah ketidakadilan yang dibiarkan berkuasa, adalah sistem yang menindas dan menutup ruang hidup bagi rakyat kecil.
Hari ini, kita diuji: apakah kita akan terjebak pada provokasi atau tetap teguh pada tujuan perjuangan. Jangan biarkan kericuhan merampas substansi tuntutan kita. Jangan biarkan elite kembali menertawakan kita karena kita terpancing permainan mereka. Tahan diri, jaga barisan, satukan langkah.
Perjuangan bukan hanya tentang siapa paling keras berteriak, tapi siapa yang paling sabar menjaga arah. Menahan bukan berarti kalah. Menahan adalah strategi, agar kelak kita bisa melangkah lebih jauh dengan kekuatan penuh.
Maka saya tegaskan sekali lagi:
Bersabarlah, kawan-kawan!
Tahan diri hari ini, agar suara kita tidak dibungkam esok hari!
Tetap bersatu, tetap waspada, dan jangan biarkan provokator merampas perjuangan kita.




