Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Milad IMM Ke 62: Merawat Rumah Bersama

Pataka Eja by Pataka Eja
14 Maret 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 03 14 At 15 08

Oleh: Mubarak (Ketua Umum PK IMM FSH UINAM)


Tadi malam kami di komisariat yang ada di UIN kembali bersilaturahmi dalam agenda buka puasa bersama. Suasana yang sederhana, namun terasa hangat dan penuh kebersamaan. Setelah berbuka dan berbincang sebentar, kami berpisah dengan satu kesepakatan kecil bertemu lagi di kedai kopi yang bernama PART 2 malam itu. Tempatnya tidak jauh, salah satu kedai kopi yang ada di Samata.

Sekitar pukul Sepuluh malam kami kembali duduk bersama. Obrolan mengalir begitu saja, ditemani secangkir kopi dan canda yang sesekali pecah di antara cerita. Pada momen seperti itu, rasanya beban pikiran seakan hilang. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Hanya ada kebersamaan sebagai kawan seperjuangan di Ikatan.

Namun setelah pulang, seperti kebiasaan banyak orang hari ini, saya membuka media sosial. Di sana saya melihat begitu banyak ucapan selamat milad untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ada yang dalam bentuk template, ada juga yang dalam bentuk video yang cukup kreatif. Hampir semua ucapan itu berisi doa dan harapan agar IMM tetap menjadi organisasi yang memberi kontribusi bagi umat, bangsa, dan persyarikatan Muhammadiyah.

Di antara sekian banyak ucapan itu, ada satu kalimat yang membuat saya cukup “salfok”. Dalam salah satu ucapan disebutkan bahwa IMM adalah organisasi gerakan intelektual. Kalimat itu mungkin terdengar biasa saja. Bahkan mungkin sering kita dengar dalam berbagai forum kaderisasi atau diskusi internal. Namun entah mengapa, pada malam itu kalimat tersebut terasa berbeda. Ia seperti menjadi pengingat kecil tentang identitas kita sebagai kader.

Jika direnungkan lebih jauh, penyebutan IMM sebagai organisasi gerakan intelektual sebenarnya mengandung dua kata kunci yang tidak bisa dipisahkan, gerakan dan intelektual. Gerakan menandakan bahwa IMM bukan sekadar ruang berkumpul atau organisasi yang hidup dalam kegiatan seremonial. Ia adalah wadah perjuangan yang menuntut aksi nyata. Sementara intelektual menegaskan bahwa setiap gerakan yang dilakukan harus dilandasi oleh pemikiran, refleksi, dan kesadaran kritis.

Gerakan tanpa intelektualitas berpotensi menjadi tindakan yang emosional dan kehilangan arah. Sebaliknya, intelektualitas tanpa gerakan hanya akan berhenti sebagai wacana yang tidak memberi dampak nyata bagi masyarakat. Di titik inilah IMM mencoba memadukan keduanya mengajak kader untuk berpikir sekaligus bergerak, membaca realitas sekaligus meresponsnya melalui tindakan.

Hal ini sebenarnya selaras dengan penegasan awal ketika IMM didirikan. Sejak awal, IMM diposisikan sebagai organisasi gerakan mahasiswa Islam yang menjadikan Trilogi Ikatan spiritualitas, intelektualitas, dan humanitas sebagai kompas perjuangannya. Trilogi ini bukan sekadar slogan atau rangkaian kata yang dihafalkan dalam forum kaderisasi. Ia adalah nilai dasar yang seharusnya hidup dalam diri setiap kader IMM.

Spiritualitas mengingatkan bahwa setiap gerakan kader harus berlandaskan nilai-nilai keislaman. Intelektualitas menuntut kader untuk terus belajar, membaca, berdiskusi, dan mengembangkan kapasitas berpikir kritis. Sementara humanitas mengarahkan kader untuk peka terhadap persoalan kemanusiaan dan realitas sosial yang terjadi di sekitarnya.

Namun dalam dinamika organisasi, kita juga harus jujur mengakui bahwa tidak semua kader selalu berada dalam kondisi yang sama. Ada kalanya seseorang menjadi kurang aktif atau bahkan menjauh dari aktivitas Ikatan. Sebagian memang karena kesibukan akademik atau tanggung jawab pribadi. Tetapi tidak jarang juga karena adanya kekecewaan terhadap dinamika organisasi itu sendiri.

Kekecewaan itu bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa karena perbedaan pandangan, konflik kecil dalam kepengurusan, atau perasaan tidak dihargai dalam ruang organisasi. Hal-hal seperti ini sebenarnya sangat manusiawi terjadi dalam sebuah gerakan mahasiswa yang dinamis. Namun yang sering menjadi persoalan adalah ketika kekecewaan itu tidak pernah dibicarakan.

Ada kader yang memilih diam. Ia tidak lagi aktif, tidak lagi hadir dalam forum, dan perlahan menjauh dari aktivitas organisasi. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena memilih memendam perasaan kecewa itu sendiri. Sikap diam ini mungkin terlihat tenang di permukaan, tetapi sebenarnya menyimpan persoalan yang tidak pernah selesai.

Jika dibiarkan, keadaan seperti ini bukan hanya merugikan individu, tetapi juga bisa menjadi aib bagi Ikatan. Sebab organisasi yang sehat seharusnya mampu menjadi ruang dialog, ruang menyampaikan kritik, dan ruang memperbaiki diri bersama. Organisasi yang hidup bukanlah organisasi yang sepi dari perbedaan, tetapi organisasi yang mampu mengelola perbedaan itu menjadi kekuatan untuk bertumbuh.

Dalam konteks kehidupan beragama, kita sering mendengar istilah “Islam KTP”, yakni seseorang yang secara identitas beragama Islam tetapi nilai-nilai Islam tidak benar-benar tercermin dalam perilakunya. Jika istilah ini kita tarik dalam konteks organisasi, bukan tidak mungkin muncul refleksi serupa dalam IMM.

Ada orang yang secara formal pernah menjadi kader atau bahkan masih tercatat sebagai bagian dari IMM, tetapi nilai-nilai IMM tidak lagi hidup dalam dirinya. Di titik inilah muncul refleksi yang mungkin bisa disebut sebagai fenomena “IMM NIA”. Bukan berarti ia tidak pernah berada di IMM, tetapi nilai-nilai Ikatan tidak lagi hadir dalam sikap dan cara pandangnya.

Padahal, IMM sejak awal tidak hanya menawarkan ruang gerakan, tetapi juga menyediakan kompas nilai. Kompas ini penting agar setiap langkah kader tidak kehilangan arah. Dalam IMM ada kalimat yang sering diucapkan yaitu kader Ikatan harus anggun dalam moral dan unggul dalam intelektual. Artinya, gerakan kita bukan sekadar aktif, tetapi juga memiliki etika, integritas, dan kualitas pemikiran yang kuat.

Karena itu, menjadi kader IMM sebenarnya bukan sekadar soal identitas organisasi. Ia adalah proses panjang membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik, baik dalam aspek spiritual, intelektual, maupun sosial. Proses ini tentu tidak selalu mudah. Ia membutuhkan kesadaran, komitmen, dan kesediaan untuk terus belajar dari pengalaman, termasuk belajar dari konflik dan kekecewaan yang mungkin pernah terjadi.

Mungkin karena itulah, malam tadi ketika duduk santai di kedai kopi bersama kawan-kawan komisariat, saya merasa ada sesuatu yang sederhana tetapi bermakna. Obrolan ringan yang kami lakukan sebenarnya bukan sekadar mengisi waktu. Ia adalah bagian dari kebersamaan yang membentuk rasa memiliki terhadap Ikatan.

Pada akhirnya, refleksi ini bukan untuk menilai siapa yang paling aktif atau siapa yang paling layak disebut kader. Refleksi ini lebih tepat diarahkan kepada diri sendiri. Sesekali kita perlu berhenti sejenak dan bercermin, apakah kita benar-benar menjalani nilai-nilai IMM dalam kehidupan kita, atau jangan-jangan kita hanya merasa menjadi bagian dari IMM tanpa menghadirkan nilai-nilainya dalam diri kita.

Dan jika memang ada kekecewaan dalam perjalanan ber-IMM, mungkin yang lebih bijak bukanlah memilih diam dan menjauh. Sebab Ikatan seharusnya menjadi rumah Bersama tempat kita belajar, berbeda pendapat, bahkan saling mengoreksi.

Pada momentum milad IMM yang ke-62 ini, semoga Ikatan terus tumbuh menjadi organisasi yang tidak hanya bergerak, tetapi juga benar-benar memberikan dampak bagi umat, bangsa, dan Indonesia. Tema milad tahun ini, “Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia,” bukan sekadar rangkaian kata yang indah, tetapi harapan besar yang dititipkan kepada kita sebagai kader ikatan.

Namun harapan itu hanya akan terwujud jika kita tetap menjaga Ikatan ini sebagai rumah bersama. Dan jika Ikatan adalah rumah, maka tugas kita bukan hanya tinggal di dalamnya, tetapi juga merawatnya agar tetap hangat, terbuka, dan nyaman bagi siapa pun yang ingin bertumbuh di dalamnya.

Selamat milad Ikatanku. Semoga kita semua tetap menjadi bagian dari mereka yang menjaga rumah ini.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

07 45 56 Images
Opini

Belenggu Patriarki Terhadap Perempuan

13 September 2025
72
Whatsapp Image 2025 10 18 At 21 13
Opini

Hari Jadi Sulawesi Selatan; Sebuah Refleksi atas Luka Sejarah dan Identitas yang Terlupakan

18 Oktober 2025
596
Img
Opini

Dari Sawah ke Gedung; Jejak Mahasiswa Perantau

8 Agustus 2025
101
Img 20250822
Opini

Negara dalam Cengkeraman Elit

22 Agustus 2025
97

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi