Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Menyumpahi Pemuda, Event Tahunan 28 Oktober

Pataka Eja by Pataka Eja
29 Oktober 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 10 29 At 10 50 51

Oleh: Aldi Tri Putra


Setiap tanggal 28 Oktober, tiba-tiba semua orang mendadak nasionalis. Semua timeline berubah jadi merah putih, semua organisasi mahasiswa sibuk melakukan aksi, orasi, dan video heroik dengan backsound lagu. Ada yang pakai jas almamater, ada yang naik ke mobil truck, dan tentu saja, tim dokumentasi. Sebab, percuma aksi tanpa dokumentasi, tak ada bukti kalau sempat “berjuang.”

Begitulah setiap tahun. Sumpah Pemuda kini lebih mirip event tahunan, bukan peringatan historis. Di antara spanduk yang penuh jargon dan orasi yang penuh kata “bangkit”, kita sering lupa bahwa dulu, para pemuda bersumpah bukan untuk update story, tapi untuk melawan kenyataan. Ironinya, sekarang banyak aksi peringatan justru jadi ajang eksistensi semu, sekadar ingin tampak keren, bukan benar-benar peduli. 

Padahal, kalau mau jujur, semangat Sumpah Pemuda itu lahir dari kegelisahan yang nyata. Tahun 1928, pemuda dari berbagai daerah berkumpul karena resah. mereka hidup dalam penjajahan, dan satu-satunya cara untuk keluar dari itu adalah bersatu. Mereka tidak punya sponsor, tidak ada panggung, tidak pula undangan camping. Mereka hanya punya satu hal, kesadaran. Sesuatu yang sayangnya mulai punah di banyak kepala pemuda hari ini.

Di titik ini, kita perlu bertanya, apakah semangat pemuda masih hidup, atau sudah digantikan oleh hasrat tampil di publik? Banyak aksi sekarang lebih fokus pada pencitraan. Foto saat orasi harus bagus, captionnya harus menggugah. Bahkan, kadang orasinya lebih pendek dari caption Instagramnya. Kita menghadapi generasi yang ingin dikenal sebagai pejuang, tapi takut jadi pejuang sungguhan.

Inilah yang disebut aktivisme kosmetik, seorang aktivis yang berjuang hanya sejauh kamera merekam. Gerakan bukan lagi gerak, tapi gesture. Segalanya diatur agar tampak revolusioner di media sosial, meskipun substansinya kosong. Pemuda tidak lagi berbicara soal cita-cita bangsa, melainkan tentang exposure. Kita tidak sedang membangun kesadaran, tapi sedang berlomba jadi figur yang paling “kelihatan peduli”. 

Dan ironinya, semua itu dibungkus dengan kalimat indah seperti “membangkitkan semangat Sumpah Pemuda”. Padahal yang dibangkitkan hanya algoritma media sosial. Gerakan pemuda kini lebih sering berputar di lingkaran simbolik, aksi, unggah, lalu hilang. Tidak ada kesinambungan, tidak ada refleksi, apalagi keberlanjutan. Seolah perjuangan itu cukup direkam, bukan dijalankan.

Sementara itu, kondisi sosial politik tetap saja suram. Korupsi makin lihai, kebijakan makin absurd, ketimpangan makin lebar. Tapi pemuda lebih sibuk berdebat soal siapa yang paling “idealis.” Banyak yang tak sadar, bahwa mereka telah jadi bagian dari sistem yang mereka kritik, menjadi buzzer halus dalam bentuk baru seorang mahasiswa yang aktif asal dapat undangan, aktivis yang kritis asal tetap diajak diskusi oleh pejabat.

Sumpah Pemuda hari ini sering dijadikan panggung selfie, bukan panggung kesadaran. Kata “bersatu” kini kehilangan ruhnya. Kita bersatu saat foto bareng, tapi saling tikam di rapat internal. Bahkan organisasi pun sering jadi cermin dari penyakit bangsa yang penuh simbol heroik, tapi miskin etika dan gagasan.

Menyumpahi pemuda dalam konteks ini bukan berarti mencaci mereka, tapi mengguncang mereka dari mimpi palsu. Karena kita sedang hidup di zaman di mana perjuangan berubah jadi gaya hidup. Menjadi aktivis tak lagi soal keberanian, tapi soal posisi dan jaringan. Kita sibuk memperjuangkan “nama baik pribadi dan organisasi”, tapi lupa memperjuangkan kebenaran.

Padahal, sumpah itu bukan sekadar kalimat, melainkan komitmen moral. Dan komitmen itu tidak bisa lahir dari seremoni tahunan. Ia harus hidup dalam keseharian, dalam cara kita berpikir, bersikap, dan menolak tunduk pada ketidakadilan. Jika tidak, maka peringatan 28 Oktober hanyalah drama nasional yang diputar ulang setiap tahun dengan aktor yang berganti, tapi naskahnya tetap sama, berteriak sejenak, lalu lupa.

Mungkin memang sudah saatnya pemuda disumpahi ulang, bukan oleh penjajah, tapi oleh sejarahnya sendiri. Agar kita sadar bahwa sumpah itu bukan milik masa lalu, melainkan tanggung jawab hari ini. 

Tags: 28oktoberindonesiapemudasumpahpemuda
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

1q
Opini

Makna dan Semangat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober: Menyatukan Langkah Menuju Indonesia Emas

28 Oktober 2025
138
Whatsapp Image 2024 07 26 At 22 58 35 9a14d79c
Opini

Mereka Seharusnya Lebih Belajar Soal Agama

27 Juli 2024
126
Muh Fajar Nur
Opini

Tengkorak di Bendera, atau Tengkorak di Kepala?

5 Agustus 2025
172
Foto Istimewa 20240731 155825 0000 1536x1025
Opini

UINAM Value II: Brutalitas Kampus di Bawah Rezim Tuli Aspirasi

17 Agustus 2025
166

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi