Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Membaca Kajao Laliddong: Sebuah Pesan Untuk Pak Prabowo

Pataka Eja by Pataka Eja
15 Februari 2026
in Opini
0
Grgwr

Oleh: Aul


Pesan tersebut tentu tidak disampaikan melalui surel ataupun pesan WhatsApp, toh pada masa Kajao Laliddong peralatan-peralatan modern yang menghubungkan individu-individu belum secanggih hari ini. Dapat diterka pula pesannya tidak akan berisi “Berhenti menanam sawit”, sebab pada masa itu juga Sawit belum menjadi komoditas dengan harga tinggi dan juga belum dikategorikan sebagai pohon seperti hari ini. Jadi jangan heran jika kelak kita akan melihat pengalihan fungsi hutan dengan berbagai macam pepohonannya menjadi hutan “pohon” sawit.

Siapa Kajao Laliddong?

Kajao Laliddong Lamellong merupakan salah seorang yang pernah menjabat sebagai penasihat kerajaan Bone, ia lahir pada tahun 1507 dimana Bone pada masa itu dipimpin oleh seorang perempuan yang bernama We Benrigau arumpone ke-4.

Kajao Laliddong atau Lamellong berasal dari keluarga menengah namun terhormat, sebab sifat-sifat kemanusian yang dimilikinya. Ia jujur, berani dan gemar membela hak-hak rakyat kecil sehingga diberi gelar sebagai “Tau Tongeng ri Gauna”.

Bagi Lamellong tidak ada pertanyaan yang tidak memiliki jawaban, setiap pertanyaan yang ditujukan kepadanya dijawab dengan penuh simbol-simbol dan metafora sehingga yang mendengarnya merasa kagum akan kecerdasan Kajao Laliddong. Wawasannya luas dan pengetahuannya jauh melampaui anak-anak seusia nya, namun tidak serta merta membuat Kajao Laliddong tidak bergaul dengan teman-teman seusianya.

Dalam berbagai catatan, Semasa Kecil Kajao Laliddong telah menjadi panutan bagi teman-temannya, ia memiliki sifat cerdas, berani dan jujur. Dalam pertikaian diantara teman-temannya Kajao Laliddong kerap hadir sebagai penengah yang adil sehingga dianggap sebagai penasihat yang bijak.

Kajao Laliddong diangkat sebagai diplomat kerajaan Bone pada masa Raja Bone ke-VII La Tenri Rawe Bongkang’e. Ia menjadi negosiator mendampingi Raja Bone dalam perjanjian Ulu Kanaya ri Calepa pada tahun 1565 yang merupakan sebuah perjanjian untuk memitigasi peperangan antara Gowa dan Bone serta menetapkan batas-batas antara kedua kerajaan. Kajao Laliddong juga terlibat dalam perumusan perjanjian antara tiga kerajaan, Bone, Soppeng dan Wajo yang dikenal dengan Lamumpatue ri Timurung atau perjanjian Tellumpoccoe tahun 1582.

Semasa hidupnya Kajao Laliddong telah merumuskan Pangadereng yang selanjutnya menjadi pedoman bagi setiap kerajaan di Sulawesi Selatan. Masuknya Islam menambah kelengkapan Pangadereng yang sebelumnya hanya berisi : (1) Ade’/Ada’ (2) Rappang (3) Bicara, dan (4) Wari kemudian dengan dianutnya Islam bertambah menjadi lima, yakni (5) Syara’.

Pesan dari Kajao Laliddong

Masa lalu tidak boleh dikurung dalam kungkungan zaman dan dilihat sebatas kisah usang yang tak lagi bermanfaat, Masa lalu kerap menyimpan pengetahuan yang jauh telah melampaui zamannya. Salah satunya adalah ajaran-ajaran dari Kajao Laliddong To Sualle Lamellong yang telah menjadi penasehat dan negosiator ulung bagi kerajaan Bone.

Bagi Indonesia yang begitu luas dan memiliki kekayaan kebudayaan yang melimpah, sejarah pula tidak boleh dikotak-kotakan berbasis wilayah, setiap pengetahuan yang dimiliki perlu dikomparasikan menjadi satu pengetahuan yang menjadi dasar bernegara.  Dan begitupun setiap individu untuk tidak lagi melakukan glorifikasi kedaerahan yang justru menimbulkan perpecahan, sebab Sejarah harus menceritakan apa adanya bukan ada apanya, “Katakanlah Kebenaran walaupun pahit” – HR. Ahmad.

Kajao Laliddong menyampaikan Pappaseng  kepada Raja Bone bahwa ada sifat yang harus dimiliki oleh seorang Raja dan juga manusia diantaranya adalah, (1) Lempu (Kejujuran), (2) Acca (Kecendekiaan), (3) Assitinajang (Kepatutan), (4) Getteng (Ketegasan), (5) Reso (Usaha Keras), dan (6) Siri’ (Kehormatan). Sepatutnya ini menjadi kriteria wajib yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang juga merupakan representatif dari sebuah negara, bukan sekedar menjadi perwakilan dari kelompok yang memenangkannya dalam pemilu namun semua rakyat tanpa memandang kasta maupun golongan. Ketika seorang pemimpin tidak lagi mampu memenuhi kriteria dasar sebagai pemimpin, maka kehancuran suatu negara hanya menunggu waktu.

Pesan yang lain dari Kajao Laliddong yang sepatutnya direfleksikan oleh bapak Prabowo  Subianto yang bertindak selaku pemimpin negara  as a Presiden kita semua adalah Tidak memejamkan mata siang dan malam serta pemimpin harus mampu bertutur kata dengan baik serta mampu menjawab pertanyaan sesuai konteksnya. Salah satu statement Prabowo yang cukup klimaks akhir-akhir ini adalah terkait Aceh dan Sumatera Barat yang akhir tahun kemarin terkena bencana alam, “Buktinya saya kalah di Sumatera Barat, Benar? Tetapi tetap MBG sampai ke Sumatera Barat. Saya juga kalah di Aceh kan? Tapi tetap kami bangun Aceh habis-habisan” Kata Prabowo (Tempo.co).

Selain itu, Prabowo juga sempat melontarkan kalimat aneh dan lucu : “Kalau tidak suka Prabowo, silakan 2029 bertarung” (Kompas.com). Dua kalimat yang dilontarkan oleh seorang Presiden cukup membuat kita geleng-geleng kepala. Santai aja kali pak, bapak masih punya chance kemenangan yang tinggi kok kalau melihat hasil survey kepuasan dan kebahagian masyarakat, kan pak Prabowo sendiri yang seringkali lontarkan, jadi gak usah takut pak.

Menjadi seorang pemimpin dalam identitas kebudayaan Indonesia yang majemuk seharusnya merangkul siapapun, Pemilihan umum adalah hak bagi setiap individu untuk memilih siapa yang menurutnya mumpuni menjadi pemimpin mereka dalam lima tahun kedepan. Prabowo sepatutnya tidak lagi membeda-bedakan setiap wilayah hanya berdasarkan suara yang ia peroleh dalam pemilihan umum. Kajao Laliddong berpesan “jangan  membiarkan rakyat bercerai berai”.

Kritik terhadap Prabowo dan konco-konconya dalam pemerintahan adalah hal lumrah itupun jika negara ini masih menganut pemerintahan berbasis demokrasi. Namun jika berubah jadi Neo-Orba, otoriter atau bun militeristik yah wassalam, atur saja sebaiknya bagaimana, adalah pokoknya.

Kita sebagai rakyat Indonesia  bukanlah bangsa yang sekedar kaya akan Sumber daya alamnya yang seenak jidat untuk dieksploitasi sedemikian rupa dan itupun hanya untuk segelintir orang. Kita juga kaya akan pengetahuan dari kebudayaan yang telah ada sejak zaman dahulu kala, sejak sebelum kolonialisme menancapkan kakinya di bumi ibu pertiwi. Namun tampaknya kolonialisme telah mengakar kuat jauh dalam pikiran, cap pribumi sebagai orang bodoh telah membawa kita bahkan lupa untuk mengenali kebudayaan sendiri.

“Akuilah dengan yang putih bersih, bahwa kamu sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru orang Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka memenuhi kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat” – Tan Malaka, Aksi Massa 1926.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 05 02 At 20 54 47 8c909f28
Opini

Pendidikan, Hardiknas, dan Politik Etis Belanda

2 Mei 2025
79
Img 20251206 Wa0025
Opini

Hari Peringatan Kekerasan Terhadap Perempuan: Apakah Perempuan Hari Ini Sudah Benar-Benar Bebas Dari Kekerasan?

6 Desember 2025
142
Img 20250901
Opini

Jangan Biarkan Provokator Merampas Perjuangan Kita

1 September 2025
47
Img 20250910 Wa0009
Opini

Fenomena Resistance Blue, Brave Pink, dan Hero Green: Simbol Perlawanan Kultural

9 September 2025
86

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi