Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Seksisme: Kerap Pelakunya Ternyata adalah Pembaca

Pataka Eja by Pataka Eja
6 Februari 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 08 18 At 02 28

foto Andi Nur Salsabilah

Oleh: Caca


Label “terlalu sensitif” kerap dilekatkan pada perempuan setiap kali mereka menolak candaan seksis, mempertanyakan bahasa yang merendahkan, atau mengkritik ruang diskusi yang eksklusif dan maskulin. Istilah ini tampak sepele, bahkan rasional, namun sesungguhnya berfungsi sebagai alat pembungkam. Dengan menyebut perempuan sensitif, persoalan dilepaskan dari substansi ketidakadilan dan dialihkan menjadi persoalan emosi individu.

Perempuan dianggap tidak cocok berada di tongkrongan atau ruang diskusi bukan karena argumennya lemah, melainkan karena kehadirannya mengganggu kenyamanan struktur yang telah mapan. Ruang-ruang yang mengklaim diri sebagai arena intelektual sering kali dibangun di atas standar maskulinitas tertentu: dingin, kompetitif, tahan hinaan, dan kebal terhadap empati. Siapa pun yang menolak norma ini—terutama perempuan—dianggap tidak rasional.

Di sinilah kritik feminis menjadi relevan. Simone de Beauvoir menjelaskan bahwa perempuan sejak lama diposisikan sebagai “the Other”, pihak yang emosinya dianggap berlebihan dan pikirannya dianggap turunan. Ketika perempuan bereaksi terhadap pelecehan, reaksi itu tidak dibaca sebagai respons yang sah, melainkan sebagai bukti kelemahan. Padahal, yang disebut “sensitif” sering kali adalah kesadaran etis terhadap ketidakadilan.

Bell hooks menegaskan bahwa patriarki mempertahankan dirinya melalui normalisasi kekerasan simbolik. Candaan yang merendahkan perempuan dianggap wajar, sementara keberatan atasnya dianggap mengganggu. Dengan kata lain, perempuan tidak dinilai terlalu sensitif—masyarakatlah yang terlalu terbiasa dengan kekerasan.

Judith Butler kemudian membantu kita memahami bahwa suara perempuan yang dianggap “berisik” atau “emosional” justru menandakan adanya ketimpangan dalam relasi kuasa. Ketika perempuan berbicara, batas-batas kenyamanan patriarkal terguncang. Maka, alih-alih mendengar kritiknya, sistem memilih mendiskreditkan pembicaranya.

Jawaban atas judul ini menjadi jelas: perempuan selalu dianggap terlalu sensitif bukan karena mereka lemah, melainkan karena mereka berani menolak ketidakadilan yang telah lama dinormalkan. Label tersebut adalah mekanisme defensif untuk melindungi privilese, bukan penilaian objektif atas rasionalitas.

Ironisnya, mereka yang gemar melabeli perempuan sensitif sering kali adalah pihak yang paling rapuh terhadap kritik. Sedikit perlawanan dianggap ancaman, sedikit keberanian dianggap bencana. Di titik ini, feminisme tidak sedang merusak ruang diskusi, melainkan membersihkannya dari kemunafikan intelektual.

Solusi dari situasi ini tidak cukup dengan meminta perempuan “lebih kuat” atau “lebih santai”. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang: mengakui bahwa emosi bukan lawan dari rasionalitas, dan bahwa kritik perempuan adalah bagian sah dari diskursus publik. Selain itu, perempuan perlu terus membangun solidaritas, memperkuat literasi kritis, dan menciptakan ruang alternatif yang tidak menjadikan pelecehan sebagai harga masuk.

Sebab, kemanusiaan yang sejati tidak menuntut sebagian orang untuk kebal terhadap luka. Ia justru dimulai dari kesediaan mendengar mereka yang selama ini disuruh diam.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 09 02 At 20 02
Opini

Hari Kemerdekaan ke-80 dan Bayang-Bayang Pemilu Kotor

2 September 2025
139
Img 20250820
Opini

Mengukir Mimpi di Gerbang Kampus: Suara Yang Tak Boleh Dibungkam Oleh Keterbatasan

20 Agustus 2025
57
Foto Muh Thafdil Wirawan S
Opini

Menambang Data, Menjemput Masa Depan

30 Juli 2025
81
Dsc022072
Opini

Antara Stagnasi dan Harapan: Membaca Ulang Arah Gerakan HIPMA Gowa

18 Desember 2025
428

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi