Oleh: Muhammad Alif Wal Iqram
Apakah HIPMA Gowa sedang mengalami kemunduran? Pertanyaan ini kerap kali muncul dalam ritual perkopian para kader, namun jujur saja, belum ada yang dengan sadar dan berani mengatakan “ya, kita mundur”. Di sisi lain, juga sulit mengatakan bahwa kita sedang benar-benar melaju ke depan. Maka, satu kata yang paling mendekati mungkin adalah stagnasi, diam di tempat, tidak jatuh, tapi juga tak melompat.
Lebih dari setengah abad organisasi ini berdiri, HIPMA Gowa membutuhkan keberanian untuk bercermin. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk membaca kondisi objektif organisasi sebagaimana adanya. Sebab, tanpa pemahaman yang jujur atas realitas hari ini, sulit membayangkan arah perjuangan ke depan.
Kita seringkali merapalkan bahwa organisasi ini lahir bukan sekadar sebagai ruang berhimpun, tetapi sebagai laboratorium kaderisasi, intelektualisasi, dan pengabdian sosial yang berakar kuat pada nilai luhur sipakatau, sipakalabbiri, dan sipakainga. Pertanyaannya, sejauh mana nilai itu benar-benar hidup dalam praktik gerakan kita?
Penjara yang Nyata
Hari ini, tanpa kita sadari, kader-kader HIPMA Gowa seolah hidup dalam sebuah penjara gerakan. Bukan penjara fisik, melainkan penjara cara berpikir dan bertindak yang justru menghambat daya hidup organisasi.
Pertama, pragmatisme gerakan. Banyak agenda organisasi berjalan sekadar untuk menggugurkan kewajiban program kerja. Serba cepat, serba instan, dan sering kali kehilangan ruh nilai. Program dibuat demi laporan, bukan dampak. Padahal, pragmatisme semacam ini perlahan menggerus prinsip ideologis HIPMA Gowa yang seharusnya berorientasi pada pengabdian dan pemberdayaan. Lemahnya budaya riset, literasi, dan kolektivitas gerakan menjadi tumpukan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai.
Kedua, Romantisme sejarah. Kita terlalu sering memuja masa lalu. Kisah heroik para pendahulu, perjuangan generasi awal, dan romantika perlawanan sering diulang, namun lebih hanya sekedar nostalgia ketimbang energi pembaruan. Sejarah seharusnya menjadi kompas, bukan tempat pulang permanen. HIPMA Gowa tidak boleh berhenti pada romantisme masa lampau, tetapi mesti mentransformasikan semangat leluhur menjadi energi perubahan yang relevan dengan zaman.
Ketiga, ideologi yang berhenti di slogan. Nilai dan ideologi HIPMA Gowa kerap hanya menjadi jargon indah dalam forum formal. Ia tidak turun menjadi tafsir kritis, apalagi praksis nyata. Ketika ideologi tak diilmukan, ia berubah menjadi dogma kosong. Akibatnya, kader terjebak dalam fanatisme semu dan sekadar menjadi apologi organisasi.
Transformasi sebagai Keniscayaan
Dari situ, agenda perubahan menjadi keniscayaan, bukan pilihan.
Pertama, transformasi kesadaran kader. Kader tidak boleh diposisikan sebagai objek yang hanya menerima perintah. Kader harus dipandang sebagai subjek penuh, sebagai manusia sadar yang mampu berpikir, membaca realitas sosial, dan mengajukan kritik. Model kaderisasi yang hierarkis-konservatif perlu digeser ke arah dialogis-emansipatoris, bahwa Senior bukan penguasa, melainkan fasilitator pertumbuhan.
Kedua, transformasi nilai normatif menjadi ilmu. Merapalkan nilai sipakatau atau sipakainga saja tidak cukup. Nilai-nilai itu harus ditafsirkan secara keilmuan agar memiliki dasar rasional untuk diterapkan. Inilah pentingnya intelektualisasi gerakan, menjadikan riset, literasi, dan diskursus sebagai fondasi setiap langkah organisasi.
Ketiga, transformasi ilmu menjadi gerakan. Ilmu yang tak digerakkan hanya akan menjadi tumpukan wacana. Sebaliknya, gerakan tanpa basis ilmu akan jatuh pada reaksi emosional. Ideologi harus diilmukan, ilmu harus digerakkan, dan gerakan harus terukur secara strategis.
Keempat, transformasi kritik menjadi karya. Tak dapat dielakkan bahwa demonstrasi akhir-akhir ini dapat dikata tak berdampak besar bagi penentuan arah bangsa, HIPMA Gowa dituntut tampil berbeda. Kritik tetap penting, tetapi tidak boleh berhenti di teriakan. Zaman hari ini menuntut karya nyata, gagasan melawan gagasan, program melawan program. Inilah makna advokasi kritis-konstruktif berani mengoreksi, tapi juga siap memberi solusi.
Menutup dengan Kejujuran
HIPMA Gowa bukan organisasi kecil, dan juga bukan organisasi tanpa potensi, basis struktur yang luas dan warisan nilai kultural yang kuat menjadi ciri yang melekat. Akan tetapi persoalannya bukan pada kekurangan sumber daya, melainkan pada keberanian untuk berubah. Jika stagnasi hari ini diakui dengan jujur, maka harapan di hari esok bisa dirancang dengan sadar.
Karena pada akhirnya, HIPMA Gowa hanya akan hidup sejauh kader-kadernya mau berpikir, bergerak, dan berkarya. Bukan sekadar menjaga nama besar, tetapi menulis ulang sejarahnya sendiri, dengan kerja, kesadaran, dan keberpihakan pada upaya mewujudkan kontribusi nyata bagi keberlangsungan pembangunan bangsa dan daerahnya.




