Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Resensi

Resensi Buku: Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer

Pataka Eja by Pataka Eja
12 Oktober 2025
in Resensi
0
Img 20251012 Wa0006

Oleh: Erni Herawati


Judul Buku : Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer        (Catatan Pulau Buru)

Penulis       : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit     : Kepustakaam Populer Gramedia

ISBN           : 978-602-6208-82-8

Cetakan      : ke-33

Halaman    : 248 halaman

 

Buku Perawan Remaja dalam Cekraman Militer (Catatan Pulau Buru) karya Pramoedya Ananta Toer, dalam buku ini menceritakan kisah nyata perempuan remaja Indonesia yang di tipu dan dieksploitasi saat penjajahan Jepang.

Buku ini ditulis saat Pramoedya di asingkan di Pulau Buru yang dimana beliau merangkum beberapa wawancara atau kesaksian langsung dari korban dan mengungkapkan sisi kelam sejarah yang sering terlupakan.

Pada masa penjajahan Jepang kira-kira pada tahun 1943, Jepang menyerukan kepada seluruh masyarakat di Indonesia untuk menyerahkan anak perawan remaja mereka untuk di serahkam ke pemerintahan Jepang yang katanya mau disekolahkan ke Jepang.

Namun faktanya dalam kesaksian korban di buku ini mereka itu tidak pernah disekolahkan dan ironisnya mereka tidak pernah sampai ke Jepang bahkan mereka itu mendapatkan perlakuan yang kurang baik oleh militer Jepang pada saat itu yang membuat kehidupan para remaja ini hancur seketika.

Pram menuturkan bagaimana mereka kehilangan kehormatan, masa depan, bahkan nama baik mereka di mata keluarganya sendiri. Yang dimana tubuh mereka di jadikan alat perang lalu dibuang ketika tidak lagi dibutuhkan.

Yang membuat begitu pedih dalam catatan buku pram ini adalah bukan hanya kisah perawan remaja yang menjadi pemuas nafsu tentara Jepang, tetapi kenyataannya bahwa negara kita sendiri tidak pernah sungguh-sungguh menuntut keadilan, tidak ada pengadilan, tidak ada konpensasi seolah-olah penderitaan mereka itu bukan bagian dari sejarah bangsa.

Salah satu tulisan Pram dalam buku ini, Pram menuliskan bahwa dalam perundingan antara RI dan Jepang nasib para perempuan ini tidak pernah menjadi agenda resmi mereka, sehingga para korban ini menjadi buangan dan terlupakan hingga puluhan tahun dan ironisnya jika kita tarik ke masa sekarang pola ini masih ada, dimana tubuh perempuan ini masih menjadi alat medan kuasa dari pelecehan seksual yang ditutup-tutupin, hingga korban kekerasan yang justru disalahkan.

Negara ini masih sering absen dalam hal perlindungan sama seperti puluhan tahun yang lalu. Jelas buku ini ditulis oleh pram adalah salah satu bentuk sindiran kepada pemerintahan Indonesia yang gagal memberikan keadilan dimana tidak ada perlindungan hukum, tidak ada komisi resmi seolah-olah perempuan tidak layak diperjuangkan dalam diplomasi negara.

PERAWAN REMAJA di balik dua kata ini, tersimpan banyak luka, tubuh dan suara yang sudah lama di bungkam tanpa adanya keadilan.

Salah satu kutipan buku yang paling menyayat hati saya adalah:

“tak ada orang yang menolong saya, saya dibawa masuk ke dalam kamar kapal di geletakkan saya dan waktu terbangun seluruh tubuh saya lemas, pakaian rusak semua, badan sakit semua. Ya nak terang-terangan saja ibu sudah tua sekarang apapun guna malu, kemaluan ini bengkak saya menangis tapi setiap saya menangis dia malah datang lagi dan diulanginya perbuatannya dan saya pingsang lagi begitu terus sampai saya tak dapat menangis lagi”

Dari buku ini kita jadi tau banyak hal bahwa perempuan pada zaman dulu dan zaman sekarang itu memiliki hak kebebasan yang sangat jauh dari kata sama, perempuan sekarang mempunyai hak bebas untuk menentukan pilihannya, mau jadi wanita karir, alpha femele, sekalipun kita memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Sedangkan perempuan di zaman penjajahan tidak dapat bergerak bebas untuk dirinya sendiri melainkan di bawah tekanan para penjajah.

Untuk kekurangan dalam buku ini ada beberapa bahasa yang cukup berat karena menggunkan bahasa asli penduduk suku di pulau buru bahkan banyak dialog yang tidak memiliki terjemahan bahasa indonesia sehingga beberapa peristiwa menjadi agak bingung untuk di pahami.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2024 09 30 At 23 35 51 0920ac8c
Resensi

Bangkitlah Gerakan Mahasiswa

6 Oktober 2024
133
Img 20250523 Wa00632
Resensi

Harimau dalam Empat Wajah Simbol Makna dan Rahasia di Balik Sastra Indonesia

18 Desember 2025
91
Resensi

TUGAS CENDIKIAWAN MUSLIM

5 Juli 2024
103
Whatsapp Image 2024 08 26 At 18
Resensi

Kebahagiaan seseorang tergantung pada kecerdasannya

26 Agustus 2024
111

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi