Patakaeja.id – Pemerintah Kota Makassar resmi meluncurkan layanan angkutan laut antar pulau yang dikenal dengan nama Pete-Pete Laut, Pada Jumat (12/6/2026).
Setelah diluncurkan, layanan ini akan mulai beroperasi untuk melayani mobilitas masyarakat di wilayah kepulauan, khususnya warga Kecamatan Kepulauan Sangkarrang.
Pada tahap awal, Pete-Pete Laut dioperasikan menggunakan satu unit kapal dan akan melayani pelayaran sekali dalam sepekan, setiap hari Senin mulai pukul 07.00 WITA.
Adapun rute pelayaran dimulai dari Pulau Baranglompo menuju Pulau Bonetambu, Pulau Lumu-Lumu, Pulau Langkai, Pulau Lanjukang, kemudian berlabuh di Kota Makassar sebelum kembali ke Pulau Baranglompo.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengatakan peluncuran ini menjadi langkah awal untuk memperkuat konektivitas antar pulau sekaligus mempermudah akses masyarakat kepulauan menuju Kota Makassar.
“Melalui operasional awal ini, kami akan mengevaluasi dan menentukan rute yang paling efektif. Insya Allah, setelah berjalan dengan baik, armada akan ditambah pada tahun depan,” ujar Munafri saat peluncuran.
Layanan Pete-Pete Laut diprioritaskan bagi masyarakat kepulauan, terutama tenaga pendidik, tenaga kesehatan, serta para pelajar yang rutin melakukan perjalanan ke Kota Makassar. Menariknya, seluruh layanan ini diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya.
“Setiap perjalanan kapal ini tidak dikenakan tarif. Semua gratis untuk masyarakat yang berada di wilayah kepulauan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar, Muhammad Rheza, menjelaskan bahwa kapal yang digunakan merupakan kapal hibah dari Kementerian Perhubungan pada tahun 2019 bernama Banawa Nusantara 27.
Menurutnya, kapal tersebut telah melalui proses perbaikan dan pemeliharaan sehingga kini siap dioperasikan untuk melayani masyarakat.
“Kami melakukan perbaikan dan perawatan secara bertahap sehingga kapal ini dapat beroperasi dan dimanfaatkan oleh masyarakat mulai hari ini,” kata Rheza.
Dalam operasionalnya, kapal akan diawaki oleh lima orang kru yang terdiri atas seorang kapten, seorang juru mudi, dan tiga anak buah kapal yang telah memiliki sertifikasi sesuai standar keselamatan pelayaran.
Rheza juga menjelaskan bahwa operasional Pete-Pete Laut tidak memerlukan anggaran baru karena menggunakan alokasi anggaran yang selama ini telah tersedia untuk operasional kapal. Anggaran tersebut mencakup kebutuhan bahan bakar, pemeliharaan kapal, hingga jasa awak kapal.
Ke depan, Pemerintah Kota Makassar berencana menambah frekuensi pelayaran agar layanan ini dapat dinikmati lebih banyak masyarakat.
“Insya Allah pada anggaran perubahan nanti, kami berharap frekuensi pelayaran tidak hanya sekali dalam sepekan, tetapi bisa menjadi dua hingga tiga kali dalam sepekan,” tutupnya.
Kehadiran Pete-Pete Laut diharapkan menjadi solusi transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat kepulauan, sekaligus memperkuat konektivitas antara pulau-pulau di wilayah Makassar dengan pusat kota.




