Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Resensi

KITA SEMUA HARUS MENJADI FEMINIS

Yang bermasalah dari gender adalah ia menentukan bagaimana seharusnya kita berlaku dan lakon seperti apa yang mesti kita perankan. Gender menafikan kita sebagai individu yang autentik

Renaldy Pratama by Renaldy Pratama
2 Juli 2024
in Resensi
0
Images
Oleh: Ditootid

Judul Buku : A Feminist Manifesto, Kita Semua Harus Menjadi Feminis
Penulis : Chimamanda Ngozi Adichie
Penerbit : Odyssee Publishing
ISBN : 978-0-7334-2609-4
Tahun Terbit : 2019

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan penulis pada 26 April 2022. Setelah membaca tulisan Sucitra berjudul “Mengapa Perempuan Dibatasi”, penulis merasa penting untuk mempublikasikan kembali resensi buku dari sebuah buku yang pertama kali membuka cakrawala penulis betapa lingkungan yang kita bangun selama ini sama sekali tidak ramah gender.

Tujuannya sederhana, agar diskursus tentang ketidakadilan gender menyeruak ke dalam batang tubuh Hipma Gowa yang pada gilirannya nanti akan mengantarkan kita pada terciptanya lingkungannya yang lebih sehat dan ramah gender.

Selamat membaca!

 

Istilah feminisme bukanlah hal baru yang penulis dapatkan dengan membaca buku bersampul warna merah jambu ini. Topik tentang feminisme cukup ramai diperbincangkan di lingkungan penulis. Riuh rendah perbincangan tersebut tak ayal membuat penulis juga ikut tercebur.

Kesimpulan yang bisa penulis tarik dari berbagai macam orang yang menyampaikan topik mengenai feminisme yang ia pahami, bahwa relasi sosial yang telah kita bangun konon katanya mengakar ketidakadilan gender dan kontruksi gender tersebut memposisikan perempuan sebagai jenis kelamin yang paling dirugikan.

Namun, ada beberapa alasan yang membuat penulis  kurang tertarik dengan narasi feminisme.  Pertama,  narasi feminisme yang sering penulis jumpai pembahasannya menitikberatkan pada jenis kelamin tertentu (perempuan) yang dirugikan oleh jenis kelamin lainnya (laki-laki). Padahal menurut penulis, persoalannya bukan pada jenis kelamin mana yang dirugikan yang perlu kita bahas, tetapi ketidakadilan itu sendiri yang perlu kita lawan atas nama kemanusiaan.

Kedua, feminisme membuat kita bias dalam melihat masalah utama yang melahirkan segala bentuk ketidakdilan di dunia ini, yaitu kapitalisme. Banyak orang-orang membicarakan persoalan feminisme yang penulis jumpai (khususnya perempuan) justru mempertontonkan sentimen antar jenis kelamin. Narasi kebencian dengan menyudutkan jenis kelamin tertentu menurut penulis sangat tidak sehat. Selain itu, sentimen antar jenis kelamin ini yang membuat kita bias dalam melihat masalah utama yang tentunya akan berakibat pada melemahnya agenda-agenda perubahan menuju dunia yang lebih berkeadilan bagi manusia.

Nah, buku berjudul “A Feminist Manifesto Kita Semua Harus Menjadi Feminis” karya Chimamanda Ngozi Adichie ini adalah buku pertama yang penulis baca mengenai topik feminisme. Dan ternyata dengan membaca buku bersampul merah jambu tersebut, argumentasi dan pertanyaan-pertanyaan skeptis yang penulis yakini persoalan feminisme selama ini paling tidak bisa terjawab.

Mengapa feminisme menitikberatkan pada perempuan, bukan pada manusia itu sendiri?

Pertanyaan di atas ternyata juga pernah beberapa orang menanyakan kepada Chimamanda. Mengapa menggunakan kata feminis? Mengapa tidak bilang saja anda seorang yang mengimani hak asasi manusia, atau semacamnya? Bagi  Chimamanda, dengan menggunakan kata seorang yang mengimani hak asasi manusia atau semacamnya, itu tidak sama sekali jujur. Walaupun menurutnya feminisme juga bagian dari hak asasi manusia secara umum.

Mengapa tidak jujur? Dengan mengatakan demikian, itu sama saja kita menyangkal bahwa masalah spesifik dan khusus serta khas mengenai gender (khususnya gender melekat pada perempuan). Ini juga sama halnya dengan menyangkal bahwa berabad-abad lamanya perempuan menjadi jenis kelamin yang paling rentan mengalami ketidakadilan. Sebab dunia ini seakan mengamini bahwa terlahir sebagai seorang manusia berjenis kelamin perempuan adalah sebuah kesalahan.

Feminisme membuat kita bias dalam melihat masalah utama, yaitu kapitalisme.

Baik laki-laki maupun perempuan selama berabad-abad pula memiliki potensi yang sama untuk dimiskinkan di bawah dominasi kapitalisme yang kian mengakar dan terus berevolusi. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya menyibukkan diri dengan sentimen antar jenis kelamin.

Tapi, bagi Chimamanda gender dan kelas adalah dua hal yang berbeda. Di atas budaya tidak ramah gender yang kita bangun selama ini, laki-laki miskin masih tetap memiliki hak istimewa karena terlahir sebagai seorang laki-laki adalah sebuah keistimewaan. Namun, tidak bagi perempuan. Di tengah dominasi kapitalisme dan budaya tidak ramah gender, perempuan akan mendapatkan ketidakadilan yang berlipat ganda.

Buku yang ditulis oleh seorang perempuan yang dibesarkan di Nigeria ini pula dapat memperlihatkan bagaimana diskriminasi yang dialami oleh perempuan yang mungkin selama ini kita anggap adalah suatu hal yang lumrah terjadi.  Selain itu, buku ini juga dapat membantu kita dalam memahami feminisme dengan lebih sederhana.

“Budaya tidak membentuk manusia. Manusialah yang membentuk budaya”

Buku ini memperlihatkan kepada kita betapa budaya yang kita bangun hari ini ternyata telah membuat perempuan tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan hanya karena terlahir sebagai manusia yang berjenis kelamin perempuan. Bahkan tanpa kita sadari, disetiap sudut ruang dan waktu perempuan terus menerus mengalami ketidakadilan. Ketidakadilan tersebut kita anggap sebagai sesuatu hal yang lumrah dan bahkan kodrati karena lingkungan sosial kita yang sangat patriarkis.

Sebagai seorang yang terlahir sebagai perempuan di tengah-tengah lingkungan yang patriarkis, Chimamanda Ngozi Adichie yang menyebut dirinya sebagai seorang “Feminis Afrika Bahagia yang Tidak Membenci Pria dan Suka Memakai Lip Gloss dan Sepatu Hak Tinggi untuk Dirinya Sendiri dan Bukan untuk Mengesankan Pria” juga mengalami ketidakadilan sejak kecil hingga dewasa.

Semasa di Sekolah Dasar, Chimamanda ingin sekali menjadi pengawas kelas. Bagi Chimamanda, posisi sebagai pengawas kelas suatu hal yang luar biasa karena dapat menulis nama-nama yang kerap membuat kebisingan di dalam kelas. Selain itu, pengawas kelas juga diberikan semacam tongkat ketika hendak menyisir meja-meja untuk mengawasi anak-anak yang ribut.

Untuk memilih pengawas kelas, guru Chimamanda melakukan serangkaian tes dan siswa yang mendapatkan skor tertinggilah yang dipilih sebagai pengawas kelas. Dalam tes tersebut, Chimamanda mendapatkan skor tertinggi. Namun sial bagi Chimamanda yang terlahir sebagai perempuan, gurunya mengatakan bahwa pengawas kelas harus seorang laki-laki.

Gurunya lupa menjelaskan dari awal karena menurutnya ketentuan bahwa laki-laki adalah yang paling berhak memimpin wajib diimani setiap orang. Bahwa akses terhadap jabatan-jabatan yang bersifat publik sudah menjadi hak laki-laki untuk berdiri dengan gagah dipucuknya. Akhirnya, laki-laki yang memiliki skor tertinggi kedua di bawah skor Chimamanda yang terpilih menjadi pengawas kelas.

Masih banyak perlakuan tidak adil hanya karena terlahir sebagai seorang perempuan  yang diceritakan oleh Chimamanda dalam buku ini. Bahkan, ketidakadilan tersebut juga Chimamanda alami ditempat parkir kendaraan. Seorang tukang parkir yang ia beri uang tidak mengucapkan terima kasih kepadanya hanya karena ada seorang laki-laki yang menemaninya. Tukang parkir tersebut malah mengucapkan terima kasih kepada laki-laki yang menemani Chimamanda karena pandangan umum mengatakan bahwa hanya seorang laki-laki yang dapat menghasilkan uang.  Kemanapun perempuan melangkahkan kaki,  perlakuan diskriminatif akan terus membuntutinya dari segala sisi.

Termasuk dalam dunia kerja. Undang-undang Lilly Ledbetter yang ramai dibahas pada salah satu Pemilu di Amerika Serikat melegitimasi diskriminasi upah bagi perempuan. Laki-laki dan perempuan melakukan pekerjaan yang sama, dengan kualifikasi yang sama, tetapi perempuan akan dibayar dengan upah yang lebih murah.

Lalu apa yang bermasalah dari konstruksi gender?

Yang bermasalah dari gender adalah ia menentukan bagaimana seharusnya kita berlaku dan lakon seperti apa yang mesti kita perankan. Gender menafikan kita sebagai individu yang autentik. Itu disebabkan oleh konstruksi gender sudah mengkondisikan kita.

Dalam budaya tidak ramah gender bukan hanya manusia berjenis kelamin perempuan saja yang dirugikan. Manusia yang terlahir berjenis laki-laki pun dirugikan. Sebagai contoh laki-laki pengawas kelas yang sudah disebutkan sebelumnya. Ia memiliki hati yang manis dan lembut, dan sama sekali tidak berminat untuk berpatroli mengawasi situasi kelas menggunakan tongkat. Namun, karena ekspektasi gender menyakini bahwa laki-laki merupakan jenis kelamin superior yang memiliki ketegasan dan kecakapan tertentu, alhasil laki-laki pengawas kelas tersebut harus terpaksa berpura-pura demi memenuhi ekspektasi gender yang dilekatkan padanya.

Olehnya itu, tegas dan tanpa terkecuali “Kita Semua Harus Menjadi Feminis”

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Jbkhjvhjvhjv
Resensi

Hi. Serana Adreena: Potret Luka, Cinta, dan Tanggung Jawab Seorang Kakak

25 Desember 2025
175
Resensi

TUGAS CENDIKIAWAN MUSLIM

5 Juli 2024
104
As
Resensi

Resensi Buku: Filosofi Teras

14 November 2024
232
Sampul Foto
Resensi

Demon Slayer: Infinity Castle (Part I)

25 Agustus 2025
151

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi