Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Resensi

Demon Slayer: Infinity Castle (Part I)

Film ini bukan cuma tentang pedang dan jurus pernapasan yang memukau. Ia adalah sebuah perjalanan emosional yang memaksa kita melihat hati dan jiwa para karakternya.

Ahmad Bachtiar by Ahmad Bachtiar
25 Agustus 2025
in Resensi
0
Sampul Foto

Oleh: A. Zahraturugaisyiyah


Salah satu anime terpopuler abad ini yakni Demon Slayer. Anime ini menceritakan Tanjiro Kamado seorang anak laki-laki yang keluarganya dibantai oleh iblis yang menyisakan adek perempuannya yang bernama Nezuko namun sayangnya dia telah menjadi Iblis. Anime ini sudah merilis 5 season dan sekarang baru saja merilis movie terbarunya yang berjudul The Movie Demon Slayer: Infinity Castle (Part 1).

Movie ini awalnya memperlihatkan para pemburu iblis terjun bebas masuk ke dalam Infinity Castle yakni markas besar para iblis. diperlihatkan satu persatu hashira terjun bebas ke dalam gedung yang tak berujung.

Film ini bukan cuma tentang pedang dan jurus pernapasan yang memukau. Ia adalah sebuah perjalanan emosional yang memaksa kita melihat hati dan jiwa para karakternya. Kita diajak masuk ke dalam penderitaan dan motivasi mereka, baik itu Pemburu Iblis maupun para iblis. Dengan begitu, setiap tebasan dan pengorbanan yang terjadi di layar punya bobot dan makna yang lebih dalam.

1. Dendam yang tak terselesaikan: Shinobu vs Doma

Awal movie ini kita diperlihatkan pertarungan Douma vs Shinobu. Pertarungan ini adalah puncak dari sebuah dendam yang sudah lama terpendam. Kematian Kanae, kakak Shinobu, adalah luka yang tidak pernah sembuh. Pertarungan Shinobu melawan Douma, Iblis Bulan Atas Kedua, bukanlah duel kekuatan fisik, melainkan pertarungan kecerdasan dan pengorbanan.

Meskipun Shinobu tahu dia tidak bisa mengalahkan Doma dengan kekuatan pedangnya, dia menggunakan racun dari jurus Pernapasan Serangga yang ia kembangkan selama bertahun-tahun. Racun ini sangat mematikan, bahkan membuat Doma terkejut karena kekuatannya yang jauh lebih besar dari racun yang pernah dirasakan oleh iblis sebelumnya. Shinobu dengan berani menusuk Doma berulang kali, menyuntikkan racun ke dalam tubuhnya secara bertahap.

Momen ketika ia terluka parah dan hampir menyerah, lalu bangkit kembali setelah melihat bayangan kakaknya, adalah bukti tekadnya yang tak tergoyahkan. Shinobu tidak menyerah pada rasa sakit, ia bertekad menyelesaikan misinya. Pada akhirnya, Shinobu memilih jalan yang paling tragis namun efektif: membiarkan dirinya dimakan oleh Doma. Dengan cara ini, ia memastikan bahwa dosis racun mematikan dalam tubuhnya akan membunuh Doma dari dalam. Pengorbanan Shinobu adalah lambang dari cinta yang paling besar, di mana ia rela mati demi membalaskan dendam dan melindungi orang lain, seperti Kanao yang ia lindungi hingga detik-detik terakhir dengan memberikan isyarat untuk tidak bernapas karena teknik darah iblis Doma.

2. Pertarungan Kakak-Beradik: Zenitsu vs Kaigaku

Ini adalah pertarungan yang sangat personal dan emosional. Konflik antara Zenitsu dan Kaigaku adalah cerminan dari tragedi yang berakar dari rasa iri dan kesalahpahaman. Kaigaku, yang selalu merasa diremehkan dan iri pada perhatian yang diberikan kakek mereka kepada Zenitsu, memilih jalan iblis untuk mencari validasi. Ironisnya, kakek mereka justru sangat menghargai Kaigaku, bahkan menjadikannya panutan bagi Zenitsu. Kakeknya bahkan berulang kali mendorong Zenitsu untuk menjadi sekuat Kaigaku.

Kematian sang kakek dengan melakukan seppuku setelah mengetahui Kaigaku menjadi iblis, adalah beban yang sangat berat bagi Zenitsu. Ini mengubah Zenitsu dari seorang pengecut yang gemar merengek menjadi seorang pejuang yang penuh tekad. Ketika Zenitsu berhasil menciptakan jurus Pernapasan Petir Bentuk Ketujuh miliknya sendiri—suatu jurus yang tidak diajarkan oleh sang kakek—dan menggunakannya untuk mengalahkan Kaigaku, ia tidak hanya mengakhiri hidup iblis, tetapi juga menutup babak yang menyakitkan dalam hidupnya. Zenitsu membuktikan bahwa ia bisa melampaui kakaknya dengan tekad dan usaha, bukan dengan kecurangan atau ambisi. Ini adalah pertarungan yang dimenangkan bukan karena kekuatan, tetapi karena keberanian dan tekad untuk menghormati orang yang ia cintai.

3. Tragedi di Balik Kebrutalan: Tanjiro & Giyu vs. Akaza

Pertarungan ini adalah yang paling epik dan penuh makna. Akaza, yang sebelumnya membunuh Rengoku, kemudian menjadi musuh yang sangat personal bagi Giyu dan Tanjiro. Keduanya harus berhadapan dengan iblis yang memiliki kekuatan luar biasa, bahkan mampu meregenerasi meskipun kepalanya terpenggal.

Namun, yang membuat pertarungan ini begitu menarik adalah kisah masa lalu Akaza. Melalui flashback ke masa lalu Akaza sebagai Hakuji, kita melihat bahwa ia bukanlah monster yang terlahir dari kejahatan, tetapi korban dari tragedi yang berulang kali. Kematian ayahnya, dan kemudian pembunuhan tunangannya, Koyuki, dan mentornya, Keizo, oleh sekelompok pembenci, mengubahnya dari seorang manusia yang penuh cinta menjadi makhluk yang dipenuhi kebencian dan kehausan akan kekuatan.

Momen krusial terjadi saat Tanjiro memukulnya, yang membangkitkan kembali ingatannya sebagai Hakuji. Pukulan itu bukan serangan fisik, melainkan pukulan emosional yang memicu semua kenangan yang telah ia lupakan. Ia teringat kembali pada ayahnya yang memilih bunuh diri demi dirinya, pada Koyuki yang ia sayangi dan lindungi, dan pada Keizo yang menganggapnya sebagai keluarga. Pada akhirnya, Akaza memilih untuk mengakhiri hidupnya sebagai manusia, dengan menghentikan regenerasinya sendiri, dan kembali ke sisi Koyuki di alam baka. Kematiannya adalah akhir yang damai, bukan kehancuran.

Kimetsu no Flashback

Banyak yang menganggap flashback itu membosankan, terutama flashback Akaza yang mencapai 40 menit. Tapi, scene flashback tersebut punya tujuan penting. Tanpa flashback yang mendalam itu, kita tidak akan pernah mengerti mengapa Akaza menjadi iblis.

Film ini sengaja menampilkan cerita masa lalu Akaza secara detail untuk mengubah pandangan kita karena pada movie part 1 ini berfokus ke asal usul kehidupan Akaza. Akaza bukan lagi sekadar musuh kuat yang tiba-tiba muncul, melainkan seorang Hakuji, korban dari takdir yang kejam. Dengan memahami rasa sakitnya, kebenciannya terhadap orang lemah, dan kehancuran yang ia alami, kita bisa lebih berempati. Alih-alih merasa bosan, kita justru bisa merasakan kesedihan yang sama.

Reaksi para penonton yang menganggapnya membosankan mungkin karena mereka hanya menunggu adegan aksi tanpa ingin mendalami karakter. Tapi momen-momen emosional inilah justru menjadi daya tarik utama.

Finally, film ini bukan hanya sekadar tontonan, tetapi juga sebuah pengalaman emosional para karater. I’ll see you in 2027.

*Penulis merupakan Demisioner Ketua Bidang Media dan Komunikasi PC IMM Gowa
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2024 08 26 At 18
Resensi

Kebahagiaan seseorang tergantung pada kecerdasannya

26 Agustus 2024
111
Tinjauan Kekerasan Budaya Pasca 1965 Patanjala Vol 6 No 2 Juni
Resensi

Menyingkap Tabir: Akar Kekerasan di Balik Parade Pembantaian Pasca 1965

15 September 2025
43
2082526 7c7c4bcb 0117 4027 818e E388cca5d91c 2048 2730 E1564608533385
Resensi

Resensi Buku: Darah Kepahlawanan Anak Sultan Hasanuddin

21 Agustus 2025
93
C9eedaa1 3e93 4463 A48c B968aca8e89a
Resensi

Menjadi Lebih Dekat Dengan Buku

23 September 2025
37

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi