Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Resensi

Menelisik Bisikan Tumbuhan dalam Jejak Fantasi

Pataka Eja by Pataka Eja
5 Maret 2026
in Resensi
0
209187186

Oleh: Aulia Fitriatus Sholikah

Judul : Duri dan Kutuk  
Penulis : Cicilia Oday
Penerbit : PT. Gramedia
Cetakan : Pertama, 2024
ISBN : 978-602-067-600-5
Tebal : 192 halaman

 

Bagaimana jika tumbuhan tidak hanya tumbuh dan layu tapi juga bergerak, berbicara, bahkan bisa berinteraksi dengan manusia? Bahkan bisa berbicara sesama tumbuhan lain dan saling mengadu, bercerita, bahkan menyindir manusia. Cicilia Oday, sosok penulis berdarah Sulawesi yang berhasil menyabet Pemenang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Duri dan Kutuk, novel hasil karyanya yang terbit pertama kali pada bulan April 2024 sekaligus menjadi cetakan pertama di dunia kepenulisannya. Dalam novel tersebut Cicilia Oday memainkan peran tumbuhan yang bisa berinteraksi dengan manusia atau sesama tumbuhan yang lain.

Novel Duri dan Kutuk, menghadirkan bayangan tumbuhan sebagai saksi dari tingkah laku manusia. Dengan meletakkan tema tumbuhan dan fantasi,  berarti tak selamanya benda hidup tersebut yang tak bisa berpindah tempat tidak bisa melihat, merasa, bahkan mendengar.

Mereka diam, namun mereka bisa merasakan. Seolah-olah tumbuhan memiliki panca indera selayaknya manusia. Berawal dari imajinasi penulis tentang banyaknya tanaman kamboja yang tambun di sekitar rumah dan bayangan-bayangan jika tumbuhan yang berwujud bayi, tubuh perempuan, pantat atau wujud manusia seperti anggota tubuh dan  mampu berkomunikasi dengan manusia menjadi stimulus penulis bernama Cicilia Oday untuk meluncurkan karyanya yang berjudul Duri dan Kutuk.

Berkisah tentang seorang perempuan buruk rupa yang lahir dari rahim pohon jati. Eva Wahani, namanya. Lahirnya Eva Wahani dengan postur tubuh yang jauh dari kata sempurna, akibat ulah ayahnya yang melakukan hubungan seksual dengan sebatang pohon jati. Hingga air maninya masuk pada salah satu lubang di batang pohon jati.

Anehnya, beberapa hari kemudian pohon jati tersebut hamil dan menganugerahi anak. Damar, ayah Eva merawatnya dengan penuh kasih sayang. Damar juga ingin menikah agar Eva memiliki seorang Ibu, namun tak seorang pun sudi menikah dengan Damar yang memiliki anak buruk rupa.

Setelah Eva tumbuh dewasa kehidupannya dikelilingi berbagai tanaman yang menghiasi pekarangan rumahnya sehingga nampak rimbun. Wajar saja karena Eva terlahir dari pohon jati akibat disetubuhi oleh ayahnya sehingga ia memiliki teman berupa tanaman-tanaman saja. Baginya tanaman-tanaman bukan sekedar tumbuhan melainkan teman hidupnya, teman bercerita di setiap harinya.

Walaupun tubuh Eva yang kurus kerontang bahkan hampir tidak memiliki lekungan tubuh, Adam seorang laki-laki pubertas yang candu akan pesona Eva Wahani. Menariknya, Adam tidak seperti anak seusianya yang aktif bermain. Ia tumbuh menjadi anak penuh keingintahuan tinggi terkait seks. Terjebak dalam selubung nafsu yang sulit dikendalikan oleh remaja tahap awal.

Berawal dari datangnya tetangga di samping rumahnya menjadi awal mula Adam menjadi laki-laki dewasa. Eva Wahani, tetangga barunya itu yang memiliki tampang tidak seperti perempuan pada umumnya. Wajahnya yang lonjong, sepasang alis yang samar, tulang hidung yang hampir tenggelam di wajahnya, daun telinga yang kecil, tulang pipi yang cekung dan tubuh yang kurus nyaris tidak terlihat lengkungan tubuhnya.

Semenjak Adam pindah ke loteng, ia tak sengaja melihat Eva yang berdiri di jendela kamarnya. Ia menigintip Eva dengan binokulernya, tubuhnya ditumbuhi kecambah, dedaunan, bahkan akar hampir di sekujur tubuhnya.

Dari situlah, tumbuhan di sekitar rumah Eva bersaksi atas apa yang dilakukan bocah tengil itu. Setiap Adam merancap memegang burung kecilnya dan merasakan birahi dengan melihat tubuh eva membuat tumbuhan di sekitarnya tidak tinggal diam. Mereka saling menggunjing, tertawa, bahkan akan menghukum Adam akibat perbuatan yang dilakukannya pada majikan mereka.

Hal ini selaras pada kutipan “Jangan pura-pura bodoh, sahut mawar dari tangkai lain, semua sudah tahu kamu suka mengintip majikan kami dari jendelamu.” (2024:75). Yang mana tumbuhan pada novel Duri dan Kutuk dapat berbicara dan melihat perbuatan Adam saat ia mengintip majikannya dari loteng kamarnya.

Tumbuhan-tumbuhan tersebut mengadu pada Eva atas apa yang dilakukan Adam di loteng kamarnya.  “Kamar si bocah mesum”, kata setangkai mawar yang tumbuh di dekat pagar pembatas. Baru saja ia hendak menyuruh salah satu dahan mengintai ruangan apa di balik jendela kecil itu.  “Anak tetangga. Dia suka mengintipmu sambil memegangi burung kecilnya” (2024:120).

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tanaman-tanaman di pekarangan Eva mengadu padanya atas apa yang dilakukan Adam. Mereka layaknya manusia yang bisa berinteraksi dan berkeluh kesah, serta memiliki kesadaran akan perubahan di lingkungan sekitarnya. Tumbuhan disini tidak hanya sebagai pelengkap yang pasif, tapi mampu bereaksi atas sesuatu yang dianggap bertentangan.

Kelebihan pada novel Duri dan Kutuk terlihat pada cover buku yang menarik sekaligus  mewakili isi keseluruhan novel. Terdapat gadis dengan tubuhnya yang dipenuhi tanaman rambat, akar, dan kecambah-kecambah di cover novel Duri dan Kutuk yang memberi isyarat bahwa dalam novel tersebut menceritakan sosok perempuan dengan wujud setengah tanaman. Selain itu juga dari kualitas gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami sehingga pembaca dapat mengikuti alur dengan baik.

Tak hanya kelebihan, kekurangan pada novel Duri dan Kutuk terletak pada cerita yang menggantung. Pada endingnya Adam dikutuk menjadi pohon seperti penis laki-laki yang sedang ereksi dan belum ditemukannya titik terang akibat hilangnya Lina di rumah Eva Wahani. Dengan cerita yang menggantung membuat pembaca tercengang. Apakah Lina mati atau terjebak di dimensi lain?.

Akankah Adam selamanya menjadi pohon seperti penis yang sedang ereksi? Pertanyaan semacam itu membuat pembaca kurang puas saat menikmati ceritanya dan cerita terkesan belum selesai.  Selain penggunaan gaya bahasa yang eksplisit, Cicilia Oday mengaplikasikan bahasa yang vulgar saat pertama kali pembaca di halaman pertama. Jika pembaca hanya fokus pada bahasa vulgar tersebut, menyebabkan pesan yang ingin disampaikan penulis tidak bisa tersampaikan dengan baik.

Novel Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday tidak direkomendasikan anak usia dua puluh tahun ke bawah. Karena terdapat unsur seksualitas yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi pola pikir atau sudut pandang yang berbeda dari alur yang diceritakan. Dikarenakan usia diantara anak-anak menginjak remaja adalah usia yang paling rawan untuk pencarian jati diri dan mengeksplorasi berbagai hal tanpa mempertimbangkan resiko.

Dan direkomendasikan untuk umur diatas dua puluh satu tahun ke atas. Karena dengan pola pikir yang sudah matang, di umur tersebut seseorang sudah matang untuk memaknai sebuah bacaan dengan baik.

Secara keseluruhan, novel Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday menggambarkan peran tumbuhan sebagai makhluk hidup yang bisa mendengar, melihat, dan berbicara seperti manusia. Melalui tokoh Eva Wahani, kita diajak memahami bahwa alam tidak hanya sebagai pelengkap dalam kehidupan, tetapi juga bagian esensial yang mampu bereaksi terhadap tingkah laku manusia.

Novel ini juga membahas tentang kritik sosial tentang perilaku manusia yang tidak sesuai dengan norma dan etika. Namun, penulis mengibaratkan hal tersebut tidak serta merta sebagai bumbu dalam novel tersebut. Melainkan sebagai pelajaran bahwa di setiap tingkah laku yang dilakukan manusia terdapat konsekuensi yang harus ditanggung dan dimanapun kita berada segala tingkah laku manusia terekam oleh jejak alam ataupun Pencipta.

Pembaca dengan mudah mencerna isi dari novel tersebut tidak terlepas dari penggunaan gaya bahasa yang eksplisit, lugas, dan terbuka. Cicilia Oday memposisikan dirinya sebagai tanaman yang dapat bisa berinteraksi dengan manusia sehingga kesannya sampai pada pembaca. Walaupun dengan ending yang menggantung atau terdapat kisah belum menemukan titik terang, Cicilia Oday mampu membuat pembaca tidak hanya stuck dalam cerita tapi memainkan perasaan pembaca lewat plot twist diluar ekspektasi.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Nilnal Muna
Resensi

Diam, Iman, dan Perbedaan: Membaca Jobin karya Pidi Baiq

18 Desember 2025
77
C9eedaa1 3e93 4463 A48c B968aca8e89a
Resensi

Menjadi Lebih Dekat Dengan Buku

23 September 2025
51
Whatsapp Image 2024 09 30 At 23 35 51 0920ac8c
Resensi

Bangkitlah Gerakan Mahasiswa

6 Oktober 2024
136
Whatsapp Image 2026 01 21 At 23 42 31
Resensi

Bukan Soal Moral: Membaca ketidakadilan sosial dalam novel Re&Perempuan

22 Januari 2026
57

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi