Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Resensi

Bukan Soal Moral: Membaca ketidakadilan sosial dalam novel Re&Perempuan

Pataka Eja by Pataka Eja
22 Januari 2026
in Resensi
0
Whatsapp Image 2026 01 21 At 23 42 31

Oleh: Nurmi


Judul Buku: Re: dan peRempuan
Penulis: Maman Suherman
Penyunting: Pax Benedanto
ISBN: 978-602-481-561-5
Jumlah Halaman: 330 Halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2021

Buku Re: dan Perempuan karya Maman Suherman hadir sebagai potret sosial yang menggugah kesadaran pembaca tentang bagaimana perempuan kerap diposisikan dalam relasi yang timpang di tengah masyarakat. Melalui rangkaian kisah yang dekat dengan realitas sehari-hari, Maman Suherman tidak sekadar menghadirkan cerita, tetapi mengajak pembaca untuk mempertanyakan cara pandang sosial yang selama ini cenderung menyederhanakan persoalan perempuan sebagai masalah moral individu.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada keberanian penulis mengangkat pengalaman perempuan dari sudut pandang yang jarang diberi ruang. Perempuan dalam Re: dan Perempuan tidak digambarkan sebagai figur yang hitam-putih melainkan sebagai manusia yang hidup dalam tekanan sosial, ekonomi, dan budaya.Dengan pendekatan naratif yang lugas, pembaca diajak memahami bahwa pilihan hidup perempuan sering kali lahir dari situasi yang tidak adil, bukan semata-mata kehendak bebas yang dapat dihakimi begitu saja.

Dalam banyak cerita, tampak jelas bagaimana penghakiman moral menjadi alat sosial yang paling cepat digunakan untuk menilai perempuan. Tubuh, sikap, dan pilihan hidup perempuan sering ditempatkan sebagai ukuran utama moralitas, sementara laki-laki dan struktur sosial yang berperan di baliknya kerap luput dari sorotan. Maman Suherman secara halus menunjukkan bagaimana penghakiman ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan budaya patriarki yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Buku ini juga menegaskan bahwa ketidakadilan yang dialami perempuan bukanlah persoalan individual, melainkan persoalan struktural. Relasi kuasa yang timpang, norma sosial yang bias gender, serta sistem sosial yang tidak berpihak pada perempuan menjadi faktor utama yang melanggengkan ketidakadilan. Melalui kisah-kisah dalam buku ini, pembaca diajak melihat bahwa menyalahkan perempuan atas situasi yang mereka alami justru menutupi persoalan yang lebih besar dan kompleks.

Dari sisi gaya penulisan, Re: dan Perempuan disajikan dengan bahasa yang sederhana namun kuat secara makna. Maman Suherman tidak terjebak pada narasi yang menggurui, tetapi membiarkan cerita berbicara dengan sendirinya. Hal ini membuat buku ini dapat diakses oleh pembaca dari berbagai latar belakang, sekaligus tetap menyimpan kedalaman makna sosial yang dapat dikaji secara kritis. Pendekatan ini menjadi nilai lebih karena mampu menjembatani sastra dan isu sosial tanpa kehilangan daya reflektifnya.

Sastra dalam buku ini berfungsi sebagai medium kritik sosial yang efektif. Melalui cerita, penulis mengungkap pengalaman-pengalaman perempuan yang sering kali terpinggirkan dalam diskursus publik. Pembaca diajak untuk tidak hanya berempati, tetapi juga mempertanyakan nilai-nilai sosial yang selama ini dianggap wajar. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik pembacanya untuk lebih peka terhadap ketidakadilan sosial.

Relevansi buku Re: dan Perempuan dengan kondisi sosial saat ini terasa sangat kuat. Di tengah maraknya kasus kekerasan berbasis gender, stigma terhadap perempuan, dan penghakiman moral di ruang publik, buku ini hadir sebagai pengingat bahwa persoalan perempuan tidak dapat diselesaikan dengan moralitas sempit. Dibutuhkan cara pandang yang adil, empatik, dan struktural untuk memahami serta merespons realitas yang dihadapi perempuan.

Secara keseluruhan, Re: dan Perempuan merupakan karya yang layak dibaca dan didiskusikan, terutama bagi mereka yang ingin memahami isu perempuan secara lebih mendalam. Buku ini mengajak pembaca untuk keluar dari carar pandang simplistik dan mulai melihat perempuan sebagai subjek yang hidup dalam sistem sosial yang kompleks.

Melalui resensi ini, dapat disimpulkan bahwa Re: dan Perempuan bukan hanya buku sastra, melainkan juga cermin sosial yang menantang pembaca untuk berpikir lebih kritis dan manusiawi.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20251012 Wa0006
Resensi

Resensi Buku: Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer

12 Oktober 2025
178
Img 20250523 Wa00632
Resensi

Harimau dalam Empat Wajah Simbol Makna dan Rahasia di Balik Sastra Indonesia

18 Desember 2025
171
Jadi Jagal 1000 Nyawa Inilah Sosok Anwar Congo Yang Namanya Sangat Ditakuti Di Indonesia
Resensi

Jagal dan Senyap: Menguak Parade Pembantaian Manusia pasca 65

10 Juli 2024
79
Tinjauan Kekerasan Budaya Pasca 1965 Patanjala Vol 6 No 2 Juni
Resensi

Menyingkap Tabir: Akar Kekerasan di Balik Parade Pembantaian Pasca 1965

15 September 2025
67

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi