Oleh: A. Zahraturugaisyiyah
Sejak munculnya Renaissance, banyaknya pemahaman-pemahaman yang beredar dimasyarakat khususnya humanisme. Humanisme menjadi salah satu faktor naiknya derajat manusia pada masa itu, karena dimasa lalu agama merendahkan kepribadian manusia dengan mengorbankan dirinya dihadapan para dewa atau tuhan.
Awal buku ini menjelaskan bagaimana sejarah pertama manusia, yakni Adam sebagai simbol manusia dalam kitab-kitab suci Islam dan Ibrahim. Dalam Qur’an merepsentasikan substansi atau bahan pertama manusia adalah “tanah tembikar” yang ditiupkan ruh suci oleh Tuhan. Kedua bahan inilah yang menjadikan manusia satu-satunya makhluk memiliki free will atau kehendak bebas terhadap dirinya.
Ia bisa menjadi jahat atau hina seperti tanah yang diinjak dan bisa memilih menjadi makhluk suci karena ruh yang ia miliki. Maka dari itu, manusia dipilih oleh Tuhan sebagai khalifah atau wakil-Nya di dunia karena manusia mempunyai kesamaan terhadap Tuhan itu sendiri yaitu kehendak bebas dalam menentukan pilihan hidupnya.
Sementara itu, ada empat macam penjara atau empat faktor yang mengunkung manusia kearah kemajuan yang dapat mengatasi dan melampaui materi, alam, sejarah, dan masyarakat. Agar manusia tidak terjebak dalam empat penjara tersebut manusia dalam keadaannya yang menjadi atau manusia yang berusaha menjadi memiliki sifat.
Empat penjara tersebut memiliki pemahaman atau aliran. Ali Shariati tidak membantah bahwa ke empat penjara tersebut memang dapat mempengaruhi hidup manusia namun tidak dalam jangka panjang. Seperti yang dijelaskan dalam bab pertama bahwa manusia memiliki kehendak bebas dalam hidupnya yang menjadikan dirinya tidak dapat terjebak dalam penjara tersebut kalau mereka memang menyadari kehendak bebas itu sendiri.
Kelompok-kelompok inilah yang membuat adanya isme-isme yang memanfaatkan masyarakat atau massa rakyat untuk menguntungkan diri mereka sendiri. Disini Ali Shariati mengelompokkan empat penjara manusia yaitu materi, alam, sejarah dan masyarakat. Agar tidak terjebak dalam empat penjara tersebut manusia memiliki tiga sifat (atribut) yang saling berkaitan: kesadaran diti, kemauan bebas dan kreativitas. Tiga atribut ini yang harusnya manusia sadari dalam hidupnya.
Selanjutnya, dalam buku ini berisi tentang bagaimana seseorang melihat dunia dari masalah filosofis, sosiologis, dan antropologi. Dalam bab ini Ali Shariati mengemukakan beberapa pandangan dunia dari berbagai pemikir pada zaman itu dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Sesungguhnya cara kita hidup berkaitan erat dengan cara kita memandang dunia.
Dalam kitab-kitab suci islam juga terdapat berbagai cerita dan legenda serupa yang sarat dan kaya raya dengan ide-idea dan simbol-simbol mendalam cerita tentang Qabil dan Habil.
Bila Adam mewakili jenis manusia pertama, maka Qabil dan Habil mensimbolisasi permulaan sejarah manusia. Kisah ini menceritakan terjadinya perdebatan antara Qabil dan Habil dihadapan Adam, sumber konflik diantara Qabil dan Habil adalah mereka te;ah dipertunangkan dengan saudara perempuan mereka masing-masing. Tetapi Qabil tidak puas; ia lebih memilih saudara yang peruntukkan untuk Habil daripada tunangannya sendiri.
Dari sinilah munculnya pemberontakkan Qabil dan alhasil ia membunuh saudaranya sendiri karena ketidakpuasaan atas keputusan Adam itu sendiri. Dan hal ini merupakan pertumpahan darah pertama dalam sejarah manusia yang pertama. Cerita ini merepsentasikan adanya dua kutub dalam diri manusia yang menggambarkan Qabil sebagai kutub negative yang membunuh saudaranya, sedangkan Habil adalah kutub positif seoarang yang saleh dan cinta damai padahal mereka memiloki keluarga pendidikan dan masyarakat yang sama.
Dengan berlangsungnya kehidupan Qabil, tradisi Qabil terus berlangsung dan mulailah sebuah periode atau kelas sejarah di muka bumi. Kutub kelas Qabil ini mempunyai tiga wajah: Emas, Kekuasaan, dan Agama yang disebut konsep Trinitas. Trinitas inilah asal usul munculnya monopoli dalam agama dengan kelompok borjuis yang lebih mengutamakan nafsu sang perut dan kepuasaan seksualnya daripada tuntutan-tuntutan jiwa yang lebih luhur.
Buku ini juga menjelaskan bagaimana keadaan kehidupan masyarakat di Iran. Ali Shariati selalu menyayangkan bahwa adanya pemuda-pemuda intelektual Iran yang lebih tertarik dengan pemikiran-pemikiran barat yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kebutuhan masyarakat di Iran.
Memang kehidupan Barat sangat maju daripada Timur, namun seringakali orang Timur terlalu mengagungkan ilmu Barat tanpa memikirkan dampak negatif dari ilmu tersendiri. Ali Shariati menjelaskan tidak seharusnya orang Timur mempelajari ilmu-ilmu yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan mereka, harusnya mereka lebih memberi perhatian bagaimana orang Barat mencapai kemajuan peradaban khususnya dari sektor ekonomi dan teknologi.



