Oleh: Radiatul Adwiyah
Judul Buku : Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini
Penulis : Henry Manampiring
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
ISBN : 978-602-412-518-9
eISBN : 978-602-412-519-6
Filosofi Teras mungkin tidak asing lagi di telinga beberapa kalangan, terkhusus para remaja atau seseorang menuju usia dewasa. Buku dengan sampul berwarna putih dengan gambar ilustrasi berwarna kuning ini, banyak menarik perhatian para pembaca.
Buku ini tersedia juga di Perpustakaan Nasional yang dapat di akses secara digital. Akan tetapi sangking banyaknya peminat buku ini, kita harus mengantri. Ada 1543 komentar yang diberikan oleh pembaca maupun calon pembaca.
“Antree dari lama gak pernah dapat,” cuitan Ria Anggraeni. Ada juga komentar
“Kembalin bukunya dong, pengen baca juga. Buku lagi viral uy” komentar prakosoagung292. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa buku ini banyak sekali peminatnya.
Dilansir dari i-pusnas sudah ada 5.540 pembaca dari softbooknya, belum lagi dihitung yang telah membaca hardbooknya. Buku yang begitu laris ini menjadi daya tarik tersendiri sehingga banyak memberikan dampak positive bagi pembacanya, termasuk saya.
“ Buku filosofi Teras ini memberi cara latihan mental supaya kita memiliki syaraf titanium dan tidak gampang knockout ketika kesamber galau” ucap seorang dosen dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarka (Dr. A. Setyo Wibowo).
Memang benar yang dikatakan beliau bahwa buku ini memberikan cara untuk melatih mental kita dari serangan rasa khawatir, galau, marah ataupun rasa emosional negatif lainnya yang memang berada diluar kendali kita.
Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? Baperan? Susah Move on? Mudah tersinggung dan marah-marah di social media maupun dunia nyata?
Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme atau Filosofi Teras adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental tangguh dalam menghadapi naik turunnya kehidupan.
Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Mileneal dan Gen-Z masa kini.
Kesimpulan dari buku ini adalah bahwa ada banyak hal seperti emosi negatif kita, yang memang berada diluar kendali. Sehingga dengan mudahnya kita merasa tersinggung, marah, khawatir bahkan yang paling ekstrim sampai mau bunuh diri. Jika emosi negatif itu sudah tidak bisa lagi dikendalikan. Seperti, seseorang yang sudah lama menjalin hubungan dengan kekasihnya tiba-tiba salah seorang pasangan ini, memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu.
Ini menjadi sebab seorang akan merasakan sakit hati dan kecewa yang begitu dalam. Sampai-sampai tidak mau makan, menangis dari pagi sampai tembus pagi lagi, kemudian dari malam sampai malam lagi.
Dalam buku Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring, ada ungkapan dari Epictetus “some things are up to us, some things are not up to us” (Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita (tidak tergantung pada kita). Prinsip ini dalam buku Filosofi Teras disebut dengan “Dikotomi Kendali”.
Nah, dari kasus yang saya sebutkan tadi bahwa seorang kekasih yang merasa sangat kecewa saat diputuskan oleh pasangannya, sebenarnya hal itu tidak perlu di tangisi (dibawa perasaan). Karena apa? Karena hal itu berada di luar kendali kita. Tindakan orang lain dalam hal ini pasangan tadi, merupakan sesuatu yang memang bukan berada di kendali kita.
Jadi untuk apa kita menangisinya, ya kan? Menurut saya ada benarnya juga bahwa tidak perlu mengisi ataupun meratapi akan kehilangan seorang kekasih. Keputusannya untuk meninggalkan kekasihnya mungkin keputusan terbaik baginya.
Henry Manampiring dalam buku Filosofi Teras ini, menghadirkan banyak solusi disaat kita menghadapi emosi negatif kita. Dan menurut saya, solusi-solusi yang dihadirkan dalam buku ini, sangat praktis dan mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Buku Filosofi Teras ini juga memberikan pelajaran kepada kita untuk bagaimana menerima sesuatu yang diberikan Allah dengan penuh rasa syukur. Karena apapun yang diberikan oleh Allah adalah pemberian terbaik untuk kita.
Qs. Al-Baqarah ayat 216 Allah berfirman “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.




