Opini Oleh : Muh Sahran Almuhajirin
Selamat hari raya Idul Adha, mohon maaf lahir dan batin semoga membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi kita semua. Itulah teks atau flayer, pamplet yang bertebaran di jagat maya media sosial hari ini, 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Tentunya sebagai umat islam penulis juga melakukan hal serupa untuk memperingati peristiwa epic Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an, yakni pada Surah Ash-Shaffat ayat 100–111.
Idul adha atau Hari Raya Kurban dan Ibadah Haji adalah dua hal yang saling terkait mulai dari waktu, sejarah, maupun secara spiritual. Keduanya berlangsung pada bulan Dzulhijjah dan sama-sama berakar pada makna pengorbanan serta ketundukan kepada Allah SWT yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Dalam konteks indonesia khususnya sulawesi selatan, idul adha menjadi pertanda dari musim Haji yakni di mana ribuan orang umat islam berbondong bondong datang ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji. Setelah selesai melakukan serangkaian ibadah seseorang kemudian mendapatkan Gelar Haji depan nama mereka.
Kementerian agama sulawesi selatan Tahun 2026 mencatat bahwa kuota jamaah haji Sulsel mencapai 9.670 orang, termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia Timur. Kabupaten Bone, Wajo, dan Gowa termasuk daerah dengan jumlah jamaah tertinggi. Bahkan daftar tunggu haji di beberapa daerah Sulsel mencapai puluhan tahun. (Kemenag Sulsel)
Yah 9.670 orang tersebut adalah orang yang akan mendapatkan gelar haji di depan nama mereka. Dalam Kultur budaya Bugis-Makassar, Gelar “Hajjah”, “Puang Haji”, atau “Hajjia” sudah menjadi hal yang wajar dan dianggap normal. Selain itu Gelar “H” dan “HJ” bagi perempuan mengandung semacam makna tersirat yakni keberhasilan hidup.

Makna keberhasilan tersebut dimaklumkan dan diaminkan oleh masyarakat. Orang yang mendapatkan gelar haji mengalami semacam kenaikan derajat dalam hal ekonomi, sosial dan juga secara religius.
Fenomena gelar haji tersebut sering waktu berubah menjadi ajang adu gengsi dan mengikis makna religiusitas dalam perjalanan ibadah kepada Allah SWT. Tak sedikit penyakit sosial yang ditimbulkan dari pergolakan adu bacot antar ibu-ibu yang telah berhaji dan yang tidak.
Bahkan sempat viral video pendek para jemaah haji yang baru pulang berbinar kemewahan lengkap dengan outfit glamour nan anggun bagai raja dan ratu yang pulang kembali kerajaannya. Kejadian tersebut semakin mempertegas bahwa Ibadah Haji telah keluar jalur dan bahkan dapat menjadi sumber dosa baru.
Apakah masyarakat mengejar ibadah hajinya, atau mengejar gelar hajinya?
Pertanyaan tersebut agak penting dijawab karena dalam realitas digital ini, banyak orang memandang haji bukan lagi sebagai perjalanan spiritual, tetapi sebagai simbol pencapaian status sosial. Tidak sedikit orang rela berhutang, memaksakan keadaan ekonomi, karena haji adalah harga diri, gengsi, dan malu jika tidak melaksanakannya.
Jika ditelaah secara kritis dan melihat akar teologi Haji dan Iduladha, Keduanya lahir dari spirit pengorbanan dan ketabahan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Bukan pada simbol-simbol perhiasan maupun pakaian bagus yang sengaja dipertontonkan, Idul Adha tidak menghendaki hal tersebut tetapi pada ketundukan rasa bersalah atas dosa-dosa dan keinginan memperbaiki diri kepada Allah SWT.
Namun, ironisnya dalam realitas sosial, gelar haji justru kadang menjadi alat pembentukan kelas sosial baru (Roland Barthes 1980). Orang yang sudah berhaji dianggap lebih “tinggi”, dan yang belum berada pada posisi sosial yang lebih rendah. Bahkan dalam beberapa kasus, gelar haji dipakai sebagai modal politik, legitimasi kekuasaan, atau pencitraan moral di ruang publik.
Dalam kacamata Semiotika atau ilmu tentang tanda, Gelar Haji sebagai sistem tanda menciptakan mitos – mitos tentang kesalehan yang berimplikasi negatif pada Gelar haji tersebut (Roland Barthes 1980) . Jika seseorang punya Gelar haji di depan namanya maka dia adalah pribadi yang saleh, akhlak mulia, tidak berkata kasar dan tidak minum khamr serta makan babi.
Padahal, tidak ada keterhubungan antara Gelar haji dan kualitas moral seseorang. Mitos Gelar Haji dianggap alami dan wajar, masyarakat kemudian membangun anggapan bahwa orang yang bergelar haji pasti memiliki moral yang lebih baik atau lebih pantas dihormati. Namun semua penilaian tersebut hanyalah konstruksi dari Mitos orang – orang yang bergelar Haji.
Haji seharusnya melahirkan semacam kesalehan sosial, lebih jujur, lebih peduli pada orang sekitarnya, lebih rendah hati, dan lebih bersih dalam menggunakan kekuasaan. Jika setelah berhaji seseorang masih korup, arogan, atau menjadikan agama sebagai alat status sosial, maka seharusnya anda tidak melakukan ibadah haji tetapi pergi mesir dan datang ke museum firaun saja.
Solusi sosial dan keagamaan
Masyarakat perlu menggeser orientasi dari simbol menuju substansi. Yang dihormati bukan sekadar gelarnya, tetapi perubahan moralnya. Para tokoh agama perlu menekankan bahwa apa yang disebut haji mabrur bukan ditentukan oleh panggilan sosial “Puang Haji”, melainkan oleh dampak sosial setelah pulang dari Tanah Suci.
Marilah menjadikan momentum Idul Adha sebagai ruang refleksi bersama bahwa inti ibadah bukan pencitraan religius, tetapi pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian kepada sesama. Simpelnya memanusiakan manusialah. Sebab pada akhirnya, haji bukan tentang sebatas gelar yang disematkan, melainkan seberapa besar nilai-nilai Nabi Ibrahim AS hidup dalam diri seseorang setelah kembali dari Tanah suci Mekkah.




