Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Hari Peringatan Kekerasan Terhadap Perempuan: Apakah Perempuan Hari Ini Sudah Benar-Benar Bebas Dari Kekerasan?

Elma Wahyuni by Elma Wahyuni
6 Desember 2025
in Opini
0
Img 20251206 Wa0025

Oleh: Elma Wahyuni

Setiap kali kita memperingati Hari Peringatan Kekerasan terhadap Perempuan, pertanyaan yang selalu muncul adalah: apakah perempuan hari ini sudah benar-benar bebas dari kekerasan? Dengan lantang dan jujur tanpa perlu memoles realitas, saya mengatakan : belum.

Kita hidup di zaman yang penuh kemajuan, tetapi kemajuan itu belum sepenuhnya menyentuh relasi kuasa yang timpang terhadap perempuan. Kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan; ia bertransformasi menjadi tekanan psikologis, kontrol ekonomi, intimidasi digital, pengawasan terhadap bentuk tubuh melalu aturan sosial, pembatasan ruang gerak atas nama moralitas, pelecehan di ruang publik, dan diskriminasi yang dibungkus budaya. Permukaan mungkin tampak berubah, tetapi akar persoalannya masih tertanam kuat.

Dan lebih menyakitkan lagi, kekerasan ini masih sering dianggap “biasa”, “wajar”, atau “urusan domestik”, sehingga perempuan terus dipaksa kuat sementara sistem sosial gagal melindungi mereka.

Kita tidak perlu pergi jauh untuk menemukan contoh nyata. Di Kabupaten Gowa, publik diguncang oleh kasus pelecehan terhadap perempuan disabilitas. Perempuan yang mestinya mendapat perlindungan ekstra justru menjadi sasaran empuk kekerasan. Belum lagi, kasus perempuan muda dieksploitasi, perempuan dewasa dibungkam dalam rumah tangga yang dikira aman, dan lain sebagainya. Ini bukti bahwa kekerasan tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya mencari bentuk baru agar tetap bertahan. Bahkan, dalam beberapa konteks, kekerasan kini hanya beralih bentuk lebih senyap, lebih canggih, dan terkadang lebih sulit dikenali.

Pertanyaannya, jika perempuan benar-benar telah bebas dari kekerasan, mengapa kasus seperti ini masih terjadi dan terus terulang?

Jika perempuan benar-benar aman, mengapa laporan kekerasan masih sering berakhir buntu?

Jika perempuan benar-benar terlindungi, mengapa korban harus berulang kali membuktikan dirinya korban, alih-alih pelaku membuktikan dirinya bukan pelaku?

Inilah wajah kekerasan yang sebenarnya: ia bukan sekadar tindakan individu, tetapi produk dari struktur sosial yang belum sepenuhnya berpihak pada perempuan.

Momentum peringatan ini seharusnya tidak hanya menjadi ajang menyampaikan belasungkawa dan harapan kosong. Ini adalah waktu untuk menggugat negara, menggugat institusi, dan menggugat budaya kita sendiri. Untuk menagih tanggung jawab bahwa perlindungan tidak cukup dengan kata-kata manis, bahwa kebijakan harus berpihak pada kelompok paling rentan, dan bahwa pendidikan tentang kesetaraan gender harus dimulai sejak dini.

Perempuan belum bebas dari kekerasan bukan karena mereka kurang berani atau kurang kuat, tetapi karena sistem yang menaungi mereka masih penuh retakan – retakan yang ditembus oleh pelaku, retakan yang membuat korban merasa tidak aman untuk bersuara, dan retakan yang memperbolehkan kekerasan terjadi tanpa konsekuensi.

Pada akhirnya, pertanyaan “apakah perempuan sudah bebas dari kekerasan?” bukanlah pertanyaan untuk dijawab sekali, tetapi untuk kita evaluasi setiap tahun, setiap bulan, bahkan setiap hari. Karena kebebasan perempuan dari kekerasan bukan hadiah dari negara, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang harus terus dijaga.

Maka momentum ini bukan seremonial, tetapi pernyataan sikap: bahwa selama masih ada satu saja perempuan yang hidup dalam ketakutan, selama masih ada korban yang memilih diam karena takut tak dipercaya, selama masih ada pelaku yang berlindung di balik kekuasaan kita belum merdeka.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Img 89789t5
Opini

Gowa Damai: Antara Slogan dan Realita Lapangan

1 September 2025
143
Whatsapp Image 2025 12 19 At 20 16
Opini

Ijazah Menjadi Tiket Kemiskinan: Krisis Pengangguran Sarjana di Gerbang Timur Menuju Titik Nadir

24 Desember 2025
104
Whatsapp Image 2026 02 04 At 11 30
Opini

Penggunaan Google Form dalam Ujian Semester: Mempermudah Evaluasi atau Memfasilitasi Kecurangan?

4 Februari 2026
233
Whatsapp Image 2025 11 25 At 19 26
Opini

Syair Using Menyebrang Zaman: Tradisi Lisan yang Bertransformasi

25 November 2025
72

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi