Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Gowa Damai: Antara Slogan dan Realita Lapangan

Damai sejati adalah ketika masyarakat bisa hidup tanpa rasa takut, ketika kebijakan berpihak pada rakyat kecil, dan ketika kepercayaan pada institusi negara tumbuh kembali.

Muhammad Sahran by Muhammad Sahran
1 September 2025
in Opini
0
Img 89789t5

potret Riswandi

 Oleh: Riswandi

 “Gowa damai” sering dijadikan jargon oleh pemerintah dan aparat untuk menggambarkan keberhasilan menjaga ketertiban. Namun, dalam praktiknya, istilah ini lebih sering dipakai untuk menanggapi demonstrasi anarkis, seolah-olah damai hanya sebatas tidak adanya kerusuhan di jalan. 

Padahal, kedamaian sejati tidak hanya diukur dari ketiadaan demonstrasi rusuh, tetapi dari hadirnya rasa aman, keadilan, dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Polres Gowa, misalnya, kerap menonjolkan keberhasilan meredam potensi kerusuhan, tetapi gagal menghadirkan jaminan keamanan di tengah masyarakat. Tindak kriminal, narkoba, dan keresahan sosial masih terus menghantui warga. 

Aparat lebih sibuk dengan pencitraan ketimbang menyelesaikan akar masalah. Publik tentu tidak puas dengan laporan keberhasilan yang hanya berbentuk angka di atas kertas, sementara di lapangan mereka tetap dihantui rasa was was ketika keluar rumah pada malam hari. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah Gowa jauh lebih kompleks daripada sekadar demonstrasi anarkis yang sesekali mencuat.

Pemerintah Daerah Gowa pun tak luput dari sorotan. Kebanggaan pada jargon “damai” tidak sejalan dengan praktik pengelolaan anggaran yang transparan dan pembangunan yang berkeadilan. 

Berbagai program pembangunan kerap diklaim sebagai bukti keberhasilan, tetapi substansinya belum sepenuhnya menyentuh kepentingan rakyat. 

Jalan-jalan baru atau proyek infrastruktur yang digembar-gemborkan sering kali tidak diikuti dengan pemeliharaan yang baik, sementara kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja justru kurang diperhatikan.

Lebih jauh, pembinaan generasi muda dalam etika, moral, dan budaya juga terabaikan, padahal itu menjadi benteng utama agar masyarakat tidak mudah terseret pada aksi-aksi perusakan maupun kerusuhan. 

Generasi muda yang kehilangan arah mudah diprovokasi dan berakhir menjadi pelaku maupun korban dalam lingkaran kekerasan.

Sementara itu, DPRD Gowa yang seharusnya menjalankan fungsi pengawasan justru tampak melemah. Tidak ada peran signifikan dalam mengawal kebijakan eksekutif, apalagi dalam menanggapi keresahan masyarakat terkait keamanan dan pembangunan. 

Ketika legislatif kehilangan taring, maka pemerintah berjalan tanpa kontrol, dan rakyat kehilangan representasi sejati.

Jika ketiga institusi ini Polres Gowa, Pemda Gowa, dan DPRD Gowa tidak segera berbenah, maka jargon “Gowa damai dari demonstrasi dan anarkisme” hanya akan menjadi kamuflase. Gowa tidak butuh sekedar bebas dari kerusuhan jalanan, melainkan damai yang lahir dari keadilan, keterbukaan, dan keberanian bekerja untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi. 

Damai sejati adalah ketika masyarakat bisa hidup tanpa rasa takut, ketika kebijakan berpihak pada rakyat kecil, dan ketika kepercayaan pada institusi negara tumbuh kembali.

editor: pablo

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2024 11 11 At 10 36 02 9b91fdca Copy
Opini

Era Globalisasi: Quo Vadis Moralitas Anak Bangsa?

11 November 2024
205
Whatsapp Image 2025 01 28 At 17 53 31 509b7237
Opini

Faksi dalam Organisasi : Pemisahan dan yang Mengancam Keutuhan

3 Februari 2025
183
Whatsapp Image 2025 12 11 At 11 21
Opini

Surat Panjang untuk Masa Depan: Kritik pada Generasi yang Lupa Bahwa Bumi Bukan Milik Mereka

11 Desember 2025
158
Whatsapp Image 2025 12 24 At 20 08
Opini

Ketika Demokrasi Dibelenggu atas Nama Stabilitas Nasional

24 Desember 2025
77

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi