Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Jika tradisi dan budaya tidak bisa dijelaskan secara nilai dan tujuan, maka ia berhak dipertanyakan kembali

Pataka Eja by Pataka Eja
24 Februari 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 02 24 At 18 45

Oleh: Muh Alif Rizky Fauzil


Setiap organisasi mempunyai tradisi. Ada kebiasaan yang diwariskan, budaya yg terus diulang, dan ritual yg dianggap sakral. Itu sering disebut sebagai “jati diri organisasi” ataupun “Rahasia dapur”. Namun masalahnya bukan dari tradisi itu sendiri, melainkan pada cara kita memperlakukannya, apakah sebagai nilai hidup yg terus dimaknai, atau sebagai warisan mati yg tidak boleh disentuh atau dipertanyakan.

Ketika tradisi tidak lagi dipahami, ia berubah dari pegangan nilai menjadi beban sejarah.

Hari ini, banyak tradisi organisasi dijalankan hanya satu alasan “dari dulu juga begitu.” Tidak ada lagi upaya memahami mengapa kebiasaan itu lahir, dalam konteks apa itu relevan, dan untuk siapa sebenarnya budaya itu dipertahankan.

Kader baru diminta menyesuaikan diri tanpa diberikan ruang bertanya, siapa yang mempertanyakan dianggap tidak loyal, siapa yang berbeda dianggap tidak paham kultur organisasi. Akhirnya budaya tidak lagi membentuk kesadaran, tapi menjadi alat penertiban dan pembungkaman.

Tradisi sejatinya lahir dari jawaban atas masalah zamannya, itu bukan hukum alam, bukan kebenaran abadi. Itu adalah produk konteks sosial, politik, dan kultural tertentu.

Ketika konteks berubah seharusnya tradisi perlu ditinjau kembali. Bukan untuk dihapus sembarangan, tetapi untuk diuji apakah ia masih membebaskan kader, atau justru cara berpikir mereka.

Budaya organisasi yang sehat adalah budaya yang reflektif, bukan budaya yang defensif. Yang membuka ruang kritikan, bukan menutup nya dengan romantisme masa lalu. Jika tradisi hanya diwariskan tanpa penjelasan nilai, maka yang lahir bukan kader yg sadar melainkan mengikuti kebiasaan.

Tradisi yg tak pernah dikritik sering kali berubah fungsi mulai dari alat pembentukan karakter menjadi alat legitimasi kekuasaan internal. Yang “paling paham tradisi” sering merasa paling berhak menentukan arah.

Dan di titik itulah, budaya organisasi tidak lagi membebaskan, tapi menindas secara halus. Organisasi mahasiswa seharusnya menjadi ruang belajar berpikir kritis, bukan museum kebiasaan. Jika tradisi tidak bisa dijelaskan secara nilai dan tujuan, maka ia berhak dan wajib dipertanyakan ulang.

Coba kita bercermin dan jujur: berapa banyak tradisi yang kita jalankan tanpa pernah kita pahami maknanya?, berapa banyak budaya yang kita bela mati matian tanpa kita tau siapa dalang dibalik budaya tersebut?, berapa banyak budaya yang dilaksanakan hanya karena takut dan merasa terancam jika tidak di indahkan?

Padahal kita sendiri tidak tau sebenarnya nilai apa yang kemudian sedang kita pertahankan, apakah semuanya demi keberlanjutan organisasi ataukah demi kenyamanan dan kepentingan segelintir orang yang takut kehilangan Otoritas? Karena tradisi yang benar tidak takut diuji, yang takut di uji dan dipertanyakan biasanya bukan nilai, Melainkan kepentingan.

Kesimpulannya adalah Tradisi dan bukan untuk dibekukan, melainkan untuk dimaknai ulang. Ia harus terus berdialog dengan zaman, bukan berdiri sebagai dogma yang menutup akal sehat. Organisasi yang sehat bukan yang setia terhadap kebiasaan lama serta menggaungkan romantisme masa lalu, tetapi yang paling jujur menilai apakah kebiasaan itu masih relevan dan adil.

“Tradisi bukan alasan untuk berhenti bergerak dan berpikir, budaya bukan dalih untuk membungkam pertanyaan. Jika organisasi ingin terus hidup, maka ia harus berani memahami ulang warisannya sendiri. Karena hanya tradisi yang dipahamkan, bukan yang disakralkan. Yang mampu melahirkan kader sadar dan organisasi yang berkembang dan bermakna”.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 01 20 At 19 46
Opini

Sering Merasa Sedih Dan Galau Tiba-Tiba? ~ Mungkin Itu Karena Kapitalisme

28 Januari 2026
258
Whatsapp Image 2025 08 18 At 02 28
Opini

Seksisme: Kerap Pelakunya Ternyata adalah Pembaca

6 Februari 2026
99
Img 20250822
Opini

Negara dalam Cengkeraman Elit

22 Agustus 2025
97
Whatsapp Image 2025 09 03 At 20 16
Opini

Pejabat Malnutrisi Karena Malas Membaca: Menghasilkan Kebijakan Bermodal Asumsi dan Tanpa Diskusi

3 September 2025
35

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi