Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Penyebab Degradasi Tradisi Intelektual Kampus Masa Kini

Kampus yang terus-menerus melakukan pola yang sama seperti ini akan menjadikan kampus sebagai tempat Entertainment atau sekedar menjadi hiburan saja.

Pataka Eja by Pataka Eja
15 September 2024
in Opini
0
Img 56789

Dokumen Pribadi Muh Arief Wijaksana

Oleh : Muh Arief Wijaksana


Kampus adalah tempat bagi mereka yang ingin melakukan pendalaman terhadap pengetahuan yang ingin diketahui, tempat kebebasan akademik, tempat dimana pencarian kebenaran yang dapat menjadi sebuah alternatif yang dapat diterapkan di masyarakat nanti.

Kampus dalam hal ini dipandangan sebagai tempat membentuk para cendekiawan yang dapat menjadi para pelopor di tengah-tengah masyarakat nantinya, dengan menciptakan berbagai ide-ide revolusioner yang bermanfaat bagi masyarakat.

Namun semua pandangan ideal tersebut terbentur dengan keadaan kampus masa kini yang cenderung otoriter, bersifat kaku, serba formalitas dan mati akan nalar kritis. kampus seakan berusaha meredam nalar kritis mahasiswa demi menjaga stabilitas yang ada.

Birokrasi kampus diisi oleh kebanyakan mereka yang tidak mampu menerima kritik sebagai sebuah kebebasan berekspresi. Para akademisi yang duduk di jabatan kampus memiliki kecenderungan melihat kritik sebagai sebuah pembangkangan, ini jelas sebuah pandangan sempit.

Tradisi Intelektual seperti kritik menjadi sebuah hal yang semakin lama terlupakan dan ditinggalkan sebab sifat otoriter kampus. Beberapa forum yang di hadirkan kampus seperti  seminar yang tidak jarang hanya menjadi sebuah papan iklan untuk mengiklankan kampus demi menggaet calon mahasiswa yang mau membayar untuk keberlangsungan keuangan kampus.

Kampus yang terus-menerus melakukan pola yang sama seperti ini akan menjadikan kampus sebagai tempat Entertainment atau sekedar menjadi hiburan saja.

Kritik ini pernah dilayangkan oleh Tom Nichols dalam karyanya “The Death Of Expertise” Yang mengomentari bahwa mahasiswa dan dosen pada hari ini bukan menjadi hubungan antara kolega yang mampu mempersatukan gagasan dan ide-ide cemerlang, namun menjadi hubungan antara perusahaan dan pelanggan. Maka dari itu tidak heran jika isu “Komersialisasi Pendidikan” Menjadi sangat panas akhir-akhir ini.

Isu komersialisasi pendidikan bukan lagi menjadi isu yang remeh. Isu ini sudah menjadi pembahasan hangat sampai memunculkan aksi menolak komersialisasi pendidikan di beberapa kampus oleh mahasiswa, sebab kampus masa kini sudah sangat jelas memunculkan wajah komersial di tengah-tengah mereka.

Kampus berusaha menciptakan Homo Economicus pada generasi yang akan datang dengan banyak menanamkan terkait efisiensi dan efektifitas dalam kegiatan perkuliahan tanpa memandang proses nalar dalam setiap sesi kuliah.

Mengapa hal ini terjadi? mengapa kampus hari ini memandang para pelajar dalam kacamata Komoditas, dengan mengindoktrinasi para mahasiswa sebagai calon pekerja dan memandang mahasiswa mereka hanya sebagai komoditas yang perlu diperhatikan Valuenya sebelum masuk ke pasar pekerja.

Hal demikian tentu dapat terjadi sebab para pemangku jabatan kampus yang memiliki pandangan yang cukup kapital melihat kampus dan mahasiswa adalah sebagai sebuah perusahaan dan klien.

Jafar Rohadi atau yang sering disebut “Guru Gembul” pernah membuat sebuah video dimana ia membantah dengan pola umum yang sering terjadi di kampus. Ia juga banyak mengkritik Mahasiswa sekarang yang cenderung mengikut dan menganggap pelanggaran hak sebagai sebuah hal – hal yang biasa saja atau menganggap hal itu mungkin memang harus seperti itu.

Dalam sebuah VT yang dia upload di media sosial TikTok dia berpendapat “Kuliah itu bukan untuk kerja, kuliah itu adalah membuat kualitas baraya itu menjadi hebat, kuat, bersemangat”. Dari hal ini saya paham bahwa Guru Gembul berusaha menyadarkan mereka yang berkuliah bahwa pandangan anda sebagai mahasiswa tidak boleh meminjam pandangan kampus yang menganggap bahwa seseorang yang berkuliah itu harus secepatnya lulus dan menjadi pekerja.

Salah seorang aktivis kampus UNM pernah menulis opini, di dalam opini tersebut bercerita kalau kampus itu bukan hanya sekedar bangunan saja atau hanya mengenai administrasi saja. Namun mahasiswa harus sadar kalau kampus itu tempatnya untuk berpetualang. Kampus itu luas silahkan mencari potensi dan jati diri anda.

Kampus hari ini sangat sulit menyadari kalau mereka adalah pihak sentral yang dapat membangun kebebasan akademik, kemerdekaan dalam intelektual, dan juga sebagai tempat pertengkaran pikiran. Sayangnya kampus malah menunjukkan hal yang sebaliknya. Bagaimana tidak, sudah banyak kampus mengaku sebagai “Kampus Merdeka” namun nyatanya kemerdekaan di dalam kampus hanya menjadi slogan saja.

Berikut sedikit catatan pembubaran kajian intelektual mahasiswa di dunia kampus yang menunjukan ketidakmerdekaannya mahasiswa dalam konteks intelektual.

28 Oktober 2019

Diskusi Mahasiswa dibubarkan oleh petugas keamanan kampus atas perintah rektor. Diskusi mengenai dinamika pemerintahan Joko Widodo pasca pelantikan kabinet

29 Mei 2020

Diskusi Fakultas Hukum UGM bertopik “Meluruskan persoalan pemberhentian presiden ditinjau dari sistem ketatanegaraan” dibatalkan karena menurut dekan Fak Hukum UGM dari panitia hingga pembicara mendapat teror dan ancaman pembunuhan

 14 November 2022

Sejumlah orang tak dikenal mengintimidasi dan membubarkan diskusi publik “Musyawarah Rakyat Indonesia Menyikapi G20′ yang diselenggarakan oleh Indonesia People’s Assembly di Universitas Udayana.

Jadi seperti apa kemerdekaan bagi kampus? Apakah ketika semua mahasiswa tidak mengkritisi kampus dan hanya menerima semua kebijakan yang akan hadir di kampus nantinya? atau kampus menganggap bahwa stabilitas kampuslah yang dimaksud sebagai sebuah kemerdekaan?

Tidak hanya itu kampus pun pandai mengobral diri mereka sebagai tempat untuk memberi para pemangku jabatan sebuah validasi akademik demi terjalinnya hubungan baik antara kampus dan para pejabat tinggi. Dengan begitu, kampus lagi – lagi dapat menjaga stabilitas mereka dan keuangan mereka.

Kampus tidak hanya pandai mencari muka di para pemangku jabatan namun juga pandai mengobral diri mereka untuk menjalin hubungan yang baik dengan para pejabat. Dalam pandangan saya inilah yang mungkin Kampus hari ini jelas menjauh dari esensial pendidikan yang menurut Ki Hajar Dewantara “mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani.”

Maka dari itu sepatutnya kampus mampu bersikap memerdekakan dan tidak bersikap mengungkung dan komersial yang tidak pernah menjadi esensial pendidikan secara universal.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 01 09 At 09 24
Opini

Meneropong Dinamika politik: Jalan panjang menuju demokrasi berkeadilan

9 Januari 2025
71
Img 20251020 Wa0000
Opini

Satu Tahun Kekuasaan, Seribu Luka Rakyat

19 Oktober 2025
81
Whatsapp Image 2025 11 28 At 10 54
Opini

DUNIA SEMAKIN MAJU, AKHLAK SEMAKIN MUNDUR?

1 Desember 2025
65
Jbjbjbl
Opini

Saat Kata Tak Lagi Tepat, Kita Tetap Merasa Benar

26 Desember 2025
65

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi