Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Perempuan dalam Bayang-Bayang Patriarki

Pataka Eja by Pataka Eja
27 Oktober 2025
in Opini
0
Img

Oleh: Munawwarah


Patriarki bukan sekadar istilah akademik; ia adalah sistem yang masih berdenyut dalam nadi masyarakat kita. Dalam kehidupan modern yang mengaku menjunjung kesetaraan, jejak patriarki tetap hidup dalam bentuk yang lebih halus—dari perbedaan upah, bias terhadap perempuan berkarier, hingga standar moral yang timpang antara laki-laki dan perempuan.

Patriarki menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama, mendominasi dalam bidang politik, moral, sosial, ekonomi, hingga penguasaan properti. Sementara itu, perempuan seolah ditakdirkan untuk berada di bawah bayang-bayang, menjadi penurut, pelayan, dan simbol kesempurnaan yang didefinisikan oleh standar laki-laki.

Salah satu tokoh feminis asal Maroko, Fatima Mernissi, dengan tegas menentang budaya patriarki yang mengakar dalam masyarakat. Ia berpendapat bahwa ketidakadilan, diskriminasi, pengasingan, dan domestifikasi perempuan yang dilegitimasi atas nama agama, sejatinya bukan berasal dari ajaran agama itu sendiri.

Menurutnya, semua itu hanyalah hasil penafsiran para ulama yang memiliki otoritas dalam menafsirkan teks-teks suci sesuai sudut pandang patriarkis. Melalui pemikirannya, Mernissi mengajak perempuan untuk berani membaca ulang teks dan tradisi yang selama ini mengekang mereka.

Pandangan ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan bukan hanya melawan sistem sosial, tetapi juga melawan tafsir dan makna yang telah dimonopoli oleh laki-laki selama berabad-abad.

Dalam kehidupan sehari-hari, patriarki sering bersembunyi di balik kebiasaan yang dianggap “wajar”. Dalam rumah tangga, misalnya, suami dianggap sebagai pencari nafkah utama, sementara seluruh beban emosional dan domestik ditanggung oleh istri—melayani, mematuhi, mengasuh, bahkan terkadang menjadi objek pemuas dan mesin pencetak keturunan.

Istri dipuji ketika patuh, namun dicemooh ketika berani bersuara. Inilah potret kecil bagaimana patriarki bekerja: diam-diam menindas, tetapi begitu nyata.

Tak berlebihan jika banyak perempuan merasa bahwa perkawinan seringkali menjadi lembaga yang dibangun di atas penderitaan. Mereka diikat dalam sistem yang mengharuskan tunduk, dihukum karena berbeda, dan dibungkam karena dianggap melawan kodrat.

Laki-laki menanamkan mitos, lalu menghukum perempuan karena mempercayainya. Mereka menindas hingga ke tingkat terendah, baik melalui kekuasaan ekonomi, kekerasan verbal, maupun fisik.

Di masa kini, tak sedikit perempuan yang gentar melangkah ke pelaminan. Bukan karena takut pada cinta, melainkan karena takut kehilangan diri. Banyak perempuan yang tumbuh dalam kasih sayang dan kecukupan orang tua enggan diperlakukan tidak adil oleh pasangan yang masih berpikir dengan pola patriarkis.

Maka, mereka memilih bekerja, berkarya, dan membangun kebahagiaan sendiri. Kalimat seperti, “Tak apa jika sendiri; selama saya bahagia dan punya uang, rasanya tidak perlu ada laki-laki dalam hidup saya,” bukan bentuk kebencian terhadap laki-laki, melainkan bentuk perlawanan terhadap sistem yang menindas. Siapa yang mau hidup menderita hanya demi memenuhi norma yang timpang?

Dari banyak buku dan pemikiran feminis yang saya baca, perjuangan perempuan selalu mengarah pada pemenuhan hak-hak dasar—hak sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Namun, realitasnya masih jauh dari ideal. Perempuan terus berjuang dalam diam, menanggung beban berlapis-lapis: sebagai anak, istri, ibu, sekaligus pekerja.

Data Komnas Perempuan bahkan menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi fenomena berulang setiap tahun, membuktikan bahwa kesetaraan gender masih jauh dari nyata.

Barangkali benar, dunia ini belum sepenuhnya adil bagi perempuan. Tetapi selama masih ada perempuan yang berani berpikir, bersuara, dan menolak tunduk pada ketidakadilan, patriarki tidak akan pernah abadi.

Karena pada akhirnya, perubahan besar selalu dimulai dari keberanian kecil—keberanian untuk mengatakan “tidak” pada ketidakadilan. Dan selama suara perempuan masih menggema, meski perlahan, sistem yang menindas itu akan terus retak, satu keberanian demi satu langkah

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Screenshot 2025 07 14
Opini

Ketika Agama Dipakai Sebagai Alat Kuasa: Di Mana Letak Ketulusan Iman Kita?

14 Juli 2025
103
Whatsapp Image 2025 10 06 At 19 58
Opini

Ketika Pelita Meredup di Tangan Pewarisnya: Catatan Kritis PC IMM Kota Makassar menjelang purna

6 Oktober 2025
79
Whatsapp Image 2026 01 16 At 21 47
Opini

Sitobo’ Lalang Lipa’ dalam Falsafah Tradisi Suku Makassar

16 Januari 2026
132
1999inji
Opini

Avatar Fire and Ash: Neytiri sebagai Simbol Etika Perawatan (Ethics of Care)

25 Desember 2025
229

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi