Oleh : Senandita
Kami sering duduk melingkar, berpakaian rapi, mengenakan PDH yang mulai lusuh karena lebih sering dipakai untuk berpose, bukan untuk mengabdi. Di tengah ruangan, mic dinyalakan, notulensi dibuka, dan agenda rapat dibacakan dengan suara datar yang dipaksakan terdengar formal.
Kursi-kursi rapat memang penuh, suara terdengar ramai, palu sidang diketuk tiga kali — tapi hati, hati-hati kita yang sadar, tidak benar-benar hadir. Ia tertinggal di ambang pintu, termangu, mempertanyakan apa makna dari solidaritas yang setiap hari kita agungkan.
Tapi kami tahu, ada sesuatu yang ganjil; Ini bukan lagi forum musyawarah — ini panggung sandiwara.
Musyawarah mufakat telah menjadi tameng untuk menyamarkan dominasi.
Ketika satu suara kritis angkat tangan, ia akan dipatahkan dengan jargon; “Kenapaika tawwa?, dari dulumi begini, senior-senior juga beginiji jadi sepakatmiki saja.”
Padahal kita semua tahu, itu bukan mufakat. Itu pemaksaan yang dibungkus sopan santun.
Di fakultasku, SAINTEK, dikenallah paham tiga pilar: Solidaritas, Loyalitas, dan Senioritas. Tiga serangkai yang diwariskan dari angkatan ke angkatan, diucapkan dengan bangga dalam forum-forum orientasi, dan ditulis dan di konstruk dalam dinding-dinding ingatan kita sebagai mahasiswa.
Tapi siapa yang bisa menyangka bahwa nilai yang terlihat begitu luhur, perlahan membunuh dari dalam?
Solidaritas yang awalnya berarti saling merangkul, kini menjelma jadi perisai untuk membela teman yang salah.
Loyalitas yang seharusnya untuk lembaga, dialihkan kepada nama angkatan dan lingkar pertemanan.
Senioritas yang seharusnya memberi teladan, malah jadi batu loncatan untuk mematikan suara-suara perlawanan dari bawah.
Kami menyaksikan, satu demi satu, forum kehilangan fungsinya. Sidang yang semestinya tempat menguji gagasan, berubah jadi panggung persetujuan instan.
Dan yang lebih menyedihkan adalah saat forum hanya jadi formalitas, sementara laporan yang seharusnya jadi pertanggungjawaban hilang entah ke mana, Tidak dibacakan, Tidak diperiksa, Tidak dipertanyakan.
“Sudah saya koordinasikan sodara.”
“Kirim soft file mi saja.”
“Jangko suruh adek-adek keras sekali bertanya di forum, para-parata’ ji ini.”
“8 juta uang dikelola ketua.”
Jawaban-jawaban seperti itu bertebaran setiap kali seseorang bertanya soal progress report. Lama-kelamaan, semua orang berhenti bertanya dan menganggap semua ini adalah normal.
Karena bertanya dianggap mengganggu kenyamanan, Karena mengevaluasi dianggap tidak menghargai kerja keras, Karena kritik dianggap serangan pribadi.
Padahal justru di situlah harga diri lembaga seharusnya dijaga; Di ruang evaluasi yang jujur, bukan di galeri penghargaan yang penuh pencitraan.
Apa gunanya DEMA dan SEMA jika yang satu menekan, dan yang lainnya tak berani mengontrol?, Apa gunanya struktur, jika prinsip keadilan ditundukkan oleh kesetiaan pada teman sendiri?, Apa gunanya mahasiswa, jika dalam sunyi ia membiarkan penyimpangan terjadi, karena takut dilabeli “tidak solidko kau”?
Sebagai anggota lembaga, kita lupa satu hal; Laporan bukan soal format dokumen. Laporan adalah cermin. Dan tidak semua orang sanggup menatap wajahnya sendiri di sana.
Ada pengurus yang sibuk menghindar dari evaluasi, padahal sibuk membuat program bukan berarti selesai menjalankan amanah. Ada pemimpin yang merasa cukup dengan mengkoordinasikan, tapi tak pernah turun langsung memastikan.
Di Fakultasku SAINTEK, terlalu banyak hal yang dibiarkan lolos hanya karena orangnya “teman satu angkatanlah, satu jurusanlah, teman baku bawalah dan apapun yang menggambarkan koalisi.” Terlalu banyak pembiaran karena takut hubungan jadi renggang. Dan akhirnya, terlalu banyak pertanggungjawaban yang ditunda hingga tak pernah ada.
Kita sedang merayakan bentuk, tapi meninggalkan isi. Kita mengangkat tangan untuk menyepakati, tapi lupa mengangkat akal untuk bertanya; “Apa yang sebenarnya sedang kita sepakati?”
Kami lupa, bahwa kritik bukan berarti membenci, dan kontrol bukan berarti pengkhianatan. Kami lupa, bahwa diluar sana, ada ribuan mahasiswa yang percaya bahwa lembaga ini bekerja untuk mereka — bukan untuk segelintir kepentingan kelompok yang saling melindungi.
Lembaga tidak mati karena tidak punya anggaran. Ia mati karena ditinggalkan nurani.
Dan jika laporan dianggap ancaman, maka pengabdian telah berubah menjadi kedok.
Aku menulis ini bukan untuk menghujat, bukan pula untuk merasa paling benar. Aku menulis karena takut, takut bahwa ketika kita semua diam, kelak sejarah akan mencatat bahwa kita pernah punya kekuasaan, tapi memilih bungkam demi kenyamanan.
Kini aku hanya ingin berkata kepada diriku sendiri, dan mungkin kepada orang serupa tapi merasa termarjinalkan bahwa:
“LEMBAGA TAK BUTUH ORANG-ORANG YANG PANDAI BERBICARA, LEMBAGA BUTUH MEREKA YANG MAU BERSUARA MESKI DITUDUH PEMBANGKANG, DAN TETAP BERTANYA MESKI TAHU JAWABANNYA TAK AKAN PERNAH DIBERIKAN.”
Dan semoga, di antara baris-baris perlawanan ini, ada satu suara lain yang ikut berani bertanya:
“Untuk siapa kita membela, ketika keadilan harus mati dan terabaikan?”




