Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Duka yang Membakar Perjuangan: Suara Rakyat Tidak Boleh Padam

Pataka Eja by Pataka Eja
30 Agustus 2025
in Opini
0
Img 20250830 Wa0048

Oleh: Misba

Demonstrasi adalah bentuk ekspresi pendapat kolektuang publik untuk menyampaikan aspirasi, protes, atau tuntutan terhadap suatu kebijakan, keadaan sosial, politik, maupun ekonomi. Biasanya dilakukan dengan berkumpul, berorasi, membawa spanduk, hingga menggelar aksi damai.

Momentum aksi di bulan kemerdekaan ke-80 ini memperlihatkan gelombang masyarakat dan mahasiswa tumpah ruah di berbagai titik vital pusat pemerintahan. Dikomandani kaum intelektual, perjuangan ini menimbulkan pertanyaan: akankah cita-cita itu benar-benar tercapai, atau hanya menjadi teriakan belaka yang hilang ditelan waktu?

Perjuangan dalam demonstrasi tidak cukup dilakukan sekali. Ia menuntut organisasi yang teratur dan konsistensi tanpa henti. Namun, aksi 29 Agustus menyisakan luka: perjuangan yang sejatinya untuk rakyat justru merenggut nyawa rakyat yang tak bersalah. Apakah ini masih bisa kita sebut gerakan? Atau justru peringatan bahwa perjuangan harus diperbaiki agar tidak lagi mengorbankan yang lemah?

Dalam perspektif teori konflik, upaya menutupi “isu besar” — entah kebenaran atau kepentingan tertentu — lahir dari pertarungan antara kelompok yang berkuasa dengan mereka yang dikuasai. Dari ketegangan inilah konflik terbuka bermula.

Kami berduka mendalam atas meninggalnya saudara kita yang tidak bersalah dalam gerakan ini. Kehilangan ini adalah luka bagi bangsa, dan tidak boleh terulang kembali. Perjuangan bukan untuk melahirkan korban, melainkan untuk menegakkan keadilan, kemanusiaan, dan masa depan yang lebih baik. Semoga pengorbanan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan rakyat harus terus hidup, hingga suara kita benar-benar didengar.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 11 12 At 04 57 00
Opini

Soeharto dan PMII: Melihat Kepahlawanan dengan Mata Kritis untuk Indonesia yang Lebih Adil

11 November 2025
73
Img 20250910
Opini

Tantangan dan Harapan Generasi Muda di Era Digital

10 September 2025
247
Img 20251206 Wa0025
Opini

Hari Peringatan Kekerasan Terhadap Perempuan: Apakah Perempuan Hari Ini Sudah Benar-Benar Bebas Dari Kekerasan?

6 Desember 2025
140
Whatsapp Image 2025 01 27 At 14 35 41 Copy
Opini

Nepotisme di Organisasi Mahasiswa: Ancaman bagi Integritas

27 Januari 2025
148

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi