Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Hari Pendidikan Nasional 2026: Saatnya Pendidikan bukan hanya Sekedar Ajang Seremonial

Pataka Eja by Pataka Eja
2 Mei 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 05 02 At 19 36

Oleh: Selfi

Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei seringkali dipenuhi dengan seremoni, ucapan selamat, dan perayaan simbolik. Namun pertanyaannya, apakah itu cukup? Apakah pendidikan di negeri ini sudah benar-benar berada pada kondisi yang layak untuk dirayakan sepenuhnya? Atau justru hari ini seharusnya menjadi momen untuk bersuara lebih lantang?

Realitas menunjukkan bahwa sistem pendidikan di tahun 2026 belum sepenuhnya stabil. Laporan dari UNESCO mengungkapkan adanya krisis pembelajaran global, di mana banyak siswa bersekolah tetapi tidak benar-benar memahami apa yang mereka pelajari. Ini adalah ironi besar: sekolah ada, kurikulum berjalan, tetapi makna belajar itu sendiri sering kali hilang.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan sebagai “tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak” seharusnya menjadi pondasi utama. Pendidikan bukan hanya soal mengisi pikiran dengan materi, tetapi membimbing manusia untuk tumbuh, berpikir, dan memahami kehidupan. Namun yang terjadi saat ini, pendidikan seringkali direduksi menjadi angka, peringkat, dan hasil ujian. Proses belajar kehilangan rohnya, dan siswa lebih sering diajarkan untuk menjawab daripada bertanya.

Ketimpangan dalam pendidikan juga masih menjadi persoalan yang nyata. Di satu sisi, ada lingkungan belajar dengan fasilitas lengkap, akses teknologi, dan dukungan yang memadai. Disisi lain, masih banyak yang harus berjuang dengan keterbatasan. Ketidakmerataan ini menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjadi hak yang adil bagi semua, melainkan masih bergantung pada kondisi dan kesempatan.

Selain itu, perkembangan teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran justru menghadirkan tantangan baru. Informasi yang melimpah tidak selalu diiringi dengan kemampuan berpikir kritis. Akibatnya, proses belajar menjadi dangkal, cepat, dan kurang bermakna. Pendidikan belum sepenuhnya mampu mengarahkan teknologi sebagai sarana pembebasan, melainkan sering kali hanya menjadi pelengkap tanpa arah yang jelas.

Kritik terhadap sistem pendidikan ini bukanlah bentuk penolakan, tetapi bentuk kepedulian. Seperti yang disampaikan oleh Paulo Freire, pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan, bukan penindasan. Pendidikan yang hanya menuntut kepatuhan tanpa ruang berpikir justru akan melahirkan individu yang pasif, bukan kritis. Padahal, dunia yang terus berkembang membutuhkan manusia yang mampu berpikir, bukan sekadar mengikuti.

Pernyataan Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia seharusnya menjadi pengingat penting. Namun senjata itu tidak akan berarti jika tidak diasah dengan sistem yang adil, relevan, dan berpihak pada kualitas. Pendidikan tidak boleh hanya menjadi rutinitas, tetapi harus menjadi kekuatan yang benar-benar mampu membawa perubahan.

Hari ini, pendidikan tidak cukup hanya dirayakan—pendidikan harus disuarakan. Suara yang mempertanyakan arah, suara yang menuntut keadilan, dan suara yang mengingatkan bahwa pendidikan adalah hak, bukan privilese. Pendidikan harus kembali pada esensinya: membentuk manusia yang utuh, yang mampu berpikir kritis, memiliki empati, dan siap menghadapi realitas kehidupan.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Selama pendidikan masih belum merata, selama proses belajar masih kehilangan makna, dan selama suara kritis belum sepenuhnya didengar, maka peringatan ini belum selesai.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang hari ini. Pendidikan adalah tentang masa depan. Dan masa depan itu tidak akan berubah jika kita hanya diam. Oleh karena itu, Hari Pendidikan Nasional adalah panggilan—untuk terus bersuara, untuk terus peduli, dan untuk terus memperjuangkan pendidikan yang lebih baik.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 12 22 At 08 05
Opini

Menafsirkan Ulang Kepemimpinan Mahasiswa di Tengah Perubahan Zaman

22 Desember 2025
165
Whatsapp Image 2026 02 01 At 20 44
Opini

Kondisi Dilema: Antara Hubungan Emosional dan Nalar Kritis

1 Februari 2026
219
Muh Fajar Nur
Opini

Tengkorak di Bendera, atau Tengkorak di Kepala?

5 Agustus 2025
192
Img 20251027 Wa0009
Opini

Validasi Boleh, tapi Jangan Ketagihan kaya Wifi Gratisan

27 Oktober 2025
71

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi