Oleh: Al Khairsyam
Di sebuah sudut hening menjelang dini hari, pesan suci teringat kembali di benak saya: “Khairunnas anfa’uhum linnas.” Bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Sebuah narasi tentang kemuliaan eksistensial makhluk yang disebut sebagai manusia, yang menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam rantai kebaikan.
Namun, ketika hembusan cahaya matahari menyingsing dari arah timur dan kita berhadapan dengan realitas sosial yang carut-marut, pesan itu seolah membentur dinding kaca yang dingin. Kita hari ini hidup dalam sebuah peradaban yang justru merindukan ketiadaan manusia dalam setiap urusan, terutama urusan publik. Kita mulai memuja-muji algoritma, bukan hanya karena ia kecerdasan buatan, melainkan karena ia dianggap tidak mengenal “dosa” sebagaimana kita mengenal keserakahan para manusia.
Krisis Kepercayaan dan Pelarian ke Mesin
Fenomena ini membawa kita pada sebuah titik nadir kepercayaan (crisis of trust). Muncul sebuah premis yang kini dianggap sebagai kebenaran mutlak dalam reformasi birokrasi: bahwa pelayanan publik terbaik adalah pelayanan yang sistemnya tidak mempertemukan manusia dengan manusia.
Di balik efisiensi aplikasi dan kecanggihan kecerdasan buatan, terselip sebuah pengakuan dosa kolektif yang amat pahit, namun enggan kita akui. Kita seolah sedang berkata pada diri sendiri, “Kami tidak bisa lagi mempercayai kejujuran saudara kami, maka biarlah mesin melayani kami.”
Dehumanisasi Birokrasi dan Trauma Moral
Secara sosiologis, inilah yang disebut sebagai dehumanisasi birokrasi. Kita sedang melakukan simplifikasi atas kerumitan moral manusia menjadi sekadar baris-baris kode biner yang kaku. Mengapa? Karena manusia memiliki apa yang dalam ilmu ekonomi disebut sebagai moral hazard, sebuah risiko moral yang muncul ketika kepentingan pribadi bertentangan dengan amanah publik.
Korupsi, pungutan liar, hingga penyalahgunaan wewenang telah menciptakan trauma massal yang mendalam. Akibatnya, otomatisasi bukan lagi sekadar pilihan teknologi, melainkan pelarian dari kekecewaan terhadap moral insani yang dianggap telah membusuk.
Absurdnya Algoritma sebagai Jalan Keselamatan
Namun di sinilah letak absurditasnya. Kita menciptakan algoritma untuk lari dari keburukan diri kita sendiri, padahal algoritma itu pun lahir dari rahim pikiran manusia yang penuh cela dan memiliki potensi kecacatan eksistensial.
Kita membayangkan sebuah surga digital yang bersih dan jujur, tetapi lupa bahwa setiap algoritma menyimpan dosa waris dalam bentuk bias data dan kepentingan tersembunyi. Kita mencoba menghapus wajah manusia agar tidak ada lagi wajah yang bisa disuap, namun dalam proses itu kita juga menghapus kemungkinan munculnya wajah yang memberi empati, sesuatu yang tidak mungkin diwariskan, baik secara esoteris maupun eksoteris.
Perspektif Eksistensial: Manusia Tak Tergantikan
Jika merujuk pada pemikiran Albert Camus tentang eksistensialisme, upaya manusia menciptakan keteraturan sempurna di tengah dunia yang kacau adalah kerja Sisifus yang melelahkan. Kita mendorong batu kejujuran ke puncak birokrasi melalui teknologi, namun batu itu akan selalu jatuh kembali selama fondasi karakter manusia tetap rapuh.
Artinya apa? Algoritma tidak bisa mengajarkan petugas bagaimana memiliki hati nurani yang hangat saat menghadapi rakyat yang sedang kesulitan. Walaupun bisa meniru, ia tak pernah benar-benar memiliki. Di situlah sisi manusia menjadi tak tergantikan.
Kebaikan sebagai Perjuangan Moral
Jika merujuk kembali pada sabda Nabi di atas, kata “sebaik-baiknya” adalah bentuk perlawanan terhadap entropi moral dunia. Kebaikan manusia adalah anomali yang indah. Bahkan, tanpa kita sadari, kita menciptakan teknologi yang jujur karena kita tidak lagi mempercayai diri sendiri dan sesama kita.
Padahal, kebaikan bukanlah produk seperti sistem yang efisien, melainkan kehendak. Manusia memiliki perjuangan untuk melawan nafsunya. Sistem dan algoritma tidak memiliki perjuangan itu. Manusia yang tidak korupsi meski memiliki kesempatan disitulah letak makna “sebaik-baiknya.”
Ironi Modernitas dan Kehilangan Makna
Ironi besar modernitas kita adalah ini: demi menghindari dosa sesama, kita rela kehilangan ruh kemanusiaan kita sendiri. Pelayanan publik berbasis mesin memang menghasilkan presisi, tetapi juga melahirkan kekosongan makna.
Kita direduksi menjadi angka dalam basis data, bukan lagi warga negara bermartabat. Kita kehilangan momen ketika “sebaik-baiknya manusia” hadir saat dua manusia bertemu dan terjadi transaksi kebaikan yang tulus, bukan sekadar pertukaran data otomatis.
Teknologi dan Tanggung Jawab Moral
Rasa lelah melihat karakter manusia yang serakah adalah valid. Keinginan mengganti sistem korup dengan algoritma yang bersih adalah keniscayaan zaman. Namun kita harus berani bertanya: setelah semua urusan diselesaikan mesin, masihkah ada ruang bagi kebajikan?
Jika kejujuran muncul hanya karena sistem tidak memberi celah untuk mencuri, di mana letak nilai moralnya? Kejujuran yang dipaksa oleh kode program bukanlah integritas, melainkan keterbatasan akses.
Teknologi seharusnya menjadi penopang martabat manusia, bukan pengganti tanggung jawab moral individu. Menghindari kesalahan manusia dengan menghilangkan peran manusia adalah solusi yang berisiko.
Pada akhirnya, “sebaik-baiknya manusia” tetaplah standar yang tidak bisa digantikan algoritma secanggih apa pun. Algoritma mungkin membuat pelayanan lebih cepat, tetapi hanya manusialah yang bisa membuatnya bermakna. Jangan sampai demi mengejar efisiensi yang dingin, kita menciptakan dunia yang hampa, tanpa sentuhan cinta dan kejujuran yang autentik.




