Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Kontroversi Gelar Pahlawan Nasional Soeharto dan Luka Sejarah Indonesia

Pataka Eja by Pataka Eja
11 November 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 11 11 At 12 44

Potret Muh. Izhar Attar Syach

Opini oleh : Muh. Izhar Attar Syach


Tepat pada tanggal 10 November 2025 Menteri Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi mengumumkan beberapa tokoh Nasional menjadi Pahlawan Nasional. Beberapa tokoh tersebut yakni :

Pertama, KH. Abdul Rahman Wahid (Gus Dur). Kedua, ⁠Jenderal Besar TNI Soeharto, Ketiga, ⁠Marsina. Keempat, ⁠Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja.Kelima, ⁠Hajjah Rahmah El Yunusiyyah.Keenam, ⁠Jend. TNI Sarwo Edhie Wibowo.Ketuju, ⁠Sultan Muh. Salahuddin. Kedelapan ⁠Syaikhona Muh. Kholil. Kesembilan, ⁠Tuan Rondahaim Saragih. Kesepuluh, ⁠Zainal Abidin Syah.

Nama-nama diatas adalah nama yang secara resmi dilantik menjadi pahlawan pada tahun ini. Namun ada yang menjadi perhatian khusus dari beberapa nama yang dianugerahi gelar pahlawan nasional, yaitu Jenderal Besar TNI Soeharto sebagai mantan Presiden Ke-2 Republik Indonesia. 

Perhatian tersebut diberikan oleh beberapa kelompok di Indonesia dikarenakan patokan catatan sejarah yang telah banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Beberapa kelompok yang memiliki perhatian terkait hal tersebut yaitu kelompok kalangan NU (Nahdlatul Ulama), dan kelompok aktivis 98. 

Menurut kalangan NU, Soeharto tak layak disebut sebagai Pahlawan Nasional dikarenakan adanya catatan sejarah kelam yang melibatkan kalangan NU pada masa itu. 

Dikutip oleh podcast Gus Dur di acara TV Kick Andy 2008, Gu Dur mengatakan “Maaf iya, tapi melupakan nanti dulu.”, ini jawaban yang diberikan oleh Gus Dur di acara TV tersebut terkait pertanyaan hubungan beliau dengan mantan Presiden Ke 2 tersebut. 

Gus Dur juga menjelaskan saat ditanya siapa di negara ini yang layak dianggap musuh, dengan tegas mengatakan “Pak Harto” meski sudah saling memaafkan tapi beliau untuk melupakan “nanti dulu”. 

Penjelasan itu lahir dari bukan hanya sekedar kelakar, tapi muncul dari peristiwa pahit yang hadir pada masa pemerintahan masa itu. Luka yang dialami selama rezim Pak Harto selama 32 tahun, membungkam pesantren, menekan politik Islam, dan menakuti yang berani berpikir kritis. 

Sedangkan di kalangan kelompok Aktivis 98, memberikan kekecewaan khusus pada pemerintah karena menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto, ini sangat disayangkan dikarenakan melihat beberapa peristiwa sejarah yang hadir menimbulkan trauma kembali kepada para aktivis 98 ataupun para keluarganya. 

Meninjau beberapa sejarah yang lahir di rezim Soeharto selama 32 tahun, yaitu :

  1. Peristiwa Penembakan Misterius (PETRUS) 1982-1985
  2. ⁠Peristiwa Tanjung Priok 1984
  3. ⁠Penghilangan Orang Secara Paksa 1997-1998
  4. ⁠Tragedi Trisakti 1998
  5. ⁠Kasus Korupsi Terbesar 15-35 Miliar Dolar AS. 

Kemudian Masih banyak lagi yang menjadi catatan kelam oleh rezim Soeharto selama 32 tahun pemerintahannya yang mungkin tidak terdokumentasi atau bahkan sengaja di hapus dalam sejarah. 

Berdasarkan hal Ini barangkali bisa menjadi bukti seberapa tidak layaknya Soeharto untuk menjadi Pahlawan Nasional, dan masyarakat Indonesia harus paham terkait hal tersebut.

Tags: aktivis 98.kontroversi gelar pahlawan Soehartoreaksi Gus Dur
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20250706 Wa0007
Opini

Pataka Eja is Back, Pernyataan Terbuka untuk Bendum DPP Hipma Gowa

6 Juli 2025
135
Whatsapp Image 2025 09 27 At 22 54
Opini

Dari Pengakuan ke Peran: Warisan 27 September 1950 dan Suara Indonesia di PBB Era Prabowo

28 September 2025
117
Whatsapp Image 2025 11 25 At 19 26
Opini

Syair Using Menyebrang Zaman: Tradisi Lisan yang Bertransformasi

25 November 2025
60
Whatsapp Image 2026 01 12 At 22 13
Opini

Psikologi perempuan: Perempuan, Emosi, dan Kepemimpinan

12 Januari 2026
72

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi