Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Gelombang Protes di Makassar: Mahasiswa Hukum Soroti Kegagalan Negara Lindungi Rakyat

Pataka Eja by Pataka Eja
31 Agustus 2025
in Uncategorized
0
Whatsapp Image 2025 08 30 At 20 43

patakaeja.id – Gelombang protes terhadap lemahnya penegakan keamanan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus meluas. Dari Kota Makassar, suara lantang mahasiswa hukum menggema, menyuarakan kritik keras atas kegagalan negara melindungi warganya. Kritik ini mencuat setelah tragedi yang merenggut nyawa seorang warga bernama Affan.

Sebelumnya, ratusan massa yang terdiri dari mahasiswa dan komunitas ojek online (Ojol) turun ke jalan. Mereka menuntut keadilan atas kematian Affan yang tewas setelah dilindas Kendaraan Taktis (Rantis) Brimob. Peristiwa ini segera memicu kemarahan publik karena dianggap sebagai bukti nyata bahwa aparat, yang seharusnya menjaga, justru menjadi ancaman bagi rakyat sipil.

Bagi mahasiswa hukum di Makassar, tragedi ini adalah bukti gamblang bahwa negara telah gagal menjalankan prinsip paling mendasar yakni melindungi hak hidup warganya.

“Dalam perspektif hukum tata negara dan prinsip demokrasi, pemerintah kehilangan legitimasi ketika gagal menjamin keamanan rakyat. Lebih-lebih jika aparat negara justru menjadi penyebab hilangnya nyawa,” tegas Rahim, mahasiswa hukum, dalam orasinya.

Tragedi yang Bukan Kebetulan

Rahim menjelaskan bahwa kasus Affan tidak bisa dianggap sebagai kecelakaan insidental. Menurutnya, insiden ini adalah bagian dari pola kegagalan sistemik dalam tata kelola keamanan nasional. Ia merinci beberapa tanda kegagalan tersebut yakni, meningkatnya konflik horizontal, lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan lintas negara, dan penggunaan aparat secara berlebihan terhadap masyarakat sipil.

“Ketika aparat yang dibiayai dari pajak rakyat justru menjadi ancaman bagi rakyat sendiri, itu berarti ada pengkhianatan terhadap amanat konstitusi,” katanya dengan nada geram.

Krisis Legitimasi

Mahasiswa hukum menilai bahwa peristiwa ini bukan sekadar tragedi, melainkan krisis yang menggerus legitimasi pemerintahan. Menurut mereka, kepemimpinan bukanlah hak pribadi yang bisa dipertahankan sesuka hati, melainkan kontrak sosial yang lahir dari konstitusi. Jika kontrak itu dilanggar, maka satu-satunya jalan yang bermoral adalah melepaskan jabatan.

“Desakan mundur bukanlah luapan emosi, tapi konsekuensi logis dari prinsip demokrasi. Mundurnya seorang presiden ketika gagal menjalankan mandat bukanlah aib, tetapi tindakan ksatria demi menyelamatkan martabat bangsa,” tegas Rahim.

Sorotan Internasional

Kritik mahasiswa hukum juga menyentuh dampak global dari kegagalan ini. Mereka menyinggung laporan lembaga-lembaga HAM internasional yang menyoroti ekses penggunaan aparat negara di Indonesia. Bahkan, dalam indeks keamanan global, posisi Indonesia tidak berada dalam kategori aman bagi warga sipil.

Bagi mereka, fakta ini menunjukkan bahwa masalah keamanan bukan sekadar persepsi dalam negeri, melainkan realitas yang diakui dunia.

“Di era modern, legitimasi politik tidak cukup hanya dengan hasil pemilu. Pemerintah juga harus konsisten menjaga hak-hak dasar rakyatnya. Jika hak hidup yang paling mendasar saja gagal dijamin, maka legitimasi politik kehilangan pijakan,” ujar Rahim lagi.

Seruan Moral

Pernyataan mahasiswa hukum di Makassar ditutup dengan seruan moral yang tegas. Menurut mereka, jabatan presiden bukanlah warisan, bukan pula hak milik pribadi, melainkan amanah rakyat. Ketika amanah itu diabaikan, maka mempertahankan kekuasaan hanya akan memperdalam krisis legitimasi sekaligus merusak citra Indonesia di mata dunia.

“Indonesia adalah negara demokrasi. Presiden harus tunduk pada prinsip demokrasi itu sendiri. Jika rakyat sudah kehilangan rasa aman dan percaya, maka tidak ada pilihan lain selain meletakkan jabatan,” tutup Rahim.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20250118 Wa0010
Uncategorized

Wujud Toleransi Beragama, Mahasiswa KKN UIN Makassar Laksanakan Kerja Bakti di Gereja

18 Januari 2025
82
Whatsapp Image 2024 08 26 At 14 53
Uncategorized

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Doakan Presiden Jokowi hingga Prabowo dalam Kongres PAN

26 Agustus 2024
55
Whatsapp Image 2025 02 11 At 22 36 42
Uncategorized

Celebes Law Advocation (CLA) Ajak Masyarakat Sulawesi Berperan Aktif dalam Upaya Penegakan Hukum di Sulawesi.

11 Februari 2025
41
Whatsapp Image 2024 11 07 At 00 18
Uncategorized

Mahasiswa FDK UINAM Laksanakan PPL di Disperindag Kabupaten Gowa

7 November 2024
69

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi