Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Desaku Berdaya : Tak Butuh MBG Menyapa

Pataka Eja by Pataka Eja
29 November 2025
in Opini
0
Screenshot

Oleh: Ian Hidayat


Beberapa pekan lalu, saya bersama dua orang kawan melintasi sebuah desa di Kabupaten Wajo. Di sebelah kiri, mengalir sebuah sungai cukup besar. Di sebelah kanan, membentang hamparan sawah yang sangat luas sejauh mata memandang, menggunakan sungai tadi sebagai saluran irigasi. Beberapa rumah panggung berjejer rapi, rumah khas Bangsa Bugis yang bentuknya sudah diwariskan secara turun menurun.

Desa itu terasa damai. Warganya yang sejahtera, menyatu dengan tradisi. Namun, satu masalah jelas yang tampak depan mata, jalan penuh lubang.

Siang hari, kami tiba di sebuah rumah panggung. Di antara rumah dan jalanan, berjejer rapi tanaman hias, tanaman tanaman itu difungsikan sebagai pagar rumah. Di antara pagar dan rumah panggung, terdapat sebuah lahan kosong. Lahan tersebut dimanfaatkan membangun kolam ikan. Kolam ikan tersebut terbagi jadi dua petak, satu petak untuk pembibitan, satu lahan yang lebih besar digunakan untuk ikan yang lebih dewasa.

Di beranda rumah, Tuan Rumah menyajikan kopi. Kami berbincang santai. Sembari itu, Tuan Rumah mengarungi padinya yang sudah menjadi beras.

“Baru panen” kata Tuan Rumah sambil tersenyum

Saya menyambut senyumnya dengan bertanya.

“Nda akan kelaparan ji kita ini dii bu, adaji nasi ta, ada mi juga ikan ta di depan?”

“Nda ji, jammi ada MBG” jawab Tuan Rumah penuh sarkas

Kami tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya. Penuh sarkas dan emosi jengkel terlihat dari jawabannya. Kami teringat, di perjalanan tadi. Sebuah bangunan berdiri megah di sebelah jalan, bangunan tersebut masih terlihat baru saja dibangun. Beberapa dinding belum dicat.

Tuan Rumah sebenarnya menyesali hal tersebut, pada dasarnya Tuan Rumah dan warga lain menunggu Pemerintah membangun jalanan desa. Tuan Rumah bercerita, pada masa Pemilu kemarin. Ada salah satu warga desa yang menjadi anggota DPR di Kabupaten, Tuan Rumah merasa anggota DPR tersebut menjanjikan warga untuk membangun jalanan.

Di depan rumah Tuan Rumah, sebetulnya merupakan jalanan yang sudah beraspal. Namun begitu, jalanannya dipenuhi lubang lubang. Kendaraan yang kami gunakan sudah seperti perahu, benar benar tidak stabil jalannya. Kendaraan tersebut juga dipenuhi debu, jalanan berlubang yang tergenang air, ketika kering menjadi debu.

“Seharusnya jalanan mo yang nabikin” sambung Tuan Rumah

“Nda pernahkah ditanya kembali itu anggota DPR bu?” Tanya kami mengonfirmasi

Beberapa kali, warga desa mempertanyakan soal janji anggota DPR tersebut, konon katanya anggaran pembangunan terdampak pada efisiensi dan anggaraan untuk MBG.

“Nabilang kemarin, tunggu mi. Lagi efisiensi ki, anggaran juga banyak dialihkan untuk MBG” terang ibu kepada kami.

Kebijakan Serampangan

Di awal masa kepemimpinannya, rezim Prabowo-Gibran membuat produk hukum baru, Inpres Nomor 1 Tahun 2025. Pada pokoknya, aturan ini menekankan efiensi belanja negara dan daerah dalam pelaksanaan APBN dan APBD tahun 2025.

Makan Bergizi Gratis

Rezim Prabowo-Gibran juga nampaknya tidak main main dengan pelaksanaan makan bergizi gratis.

“Makan bergizi ini secara fisik tidak mudah untuk segera ke seluruh rakyat. Untuk itu, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia, saya minta maaf kepada semua orang tua, kepada semua anak-anak yang belum menerima. Tapi saya yakini bahwa tahun 2025, akhir 2025 semua anak Indonesia akan dapat makan bergizi,” Tegas Presiden dalam pidatonya pada 20 Januari 2025 lalu

15 Agustus 2024 lalu, Presiden sebelumnya (Joko Widodo) meneken Peraturan Presiden nomor 83 Tahun 2024 soal pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN). BGN bertanggungjawab atas pelaksanaan pemenuhan gizi nasional. BGN ini juga tidak berada di bawah kementrian manapun, BGN berada di bawah Presiden langsung. Di masa pemerintahannya, Prabowo-Gibran menggunakan instansi ini untuk melanggengkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Belakangan, tugas BGN adalah mendistribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada 82 juta penerima manfaat yang berasal dari kalangan pelajar. Dalam nota Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2025, dana untuk MBG akan dialokasikan dari dana pendidikan sebesar 20%. Berdasarkan data Celios, anggaran MBG dapat menyentuh Rp 71 triliun. Selain itu, MBG juga menyerap anggaran dari operasional lembaga dan pegawai. Di tengah situasi efisiensi anggaran, MBG justru menyerap dana yang begitu besar.

Ironi Pembangunan : Kenyang tapi Terisolasi

Di desa yang kami datangi, warga tidak kekurangan gizi. Mereka punya beras, dapat menangkap ikan, tradisi pangan yang sehat. Namun di balik itu, mereka kekurangan akses jalanan yang terisolasi. Belum lagi anak anak sekolah yang masih kekurangan terhadap tenaga pendidik, kekurangan fasilitas sekolah, kekurangan tenaga pendidik yang mumpuni.

MBG menjadi sebuah program yang tidak kontekstual, program ini hadir sebagai sebuah formalitas. Sementara kebutuhan nyata, seperti jalanan dan tenaga pengajar yang masih sulit. Semua itu hadir dalam bentuk efisiensi yang serampangan.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 02 24 At 18 45
Opini

Jika tradisi dan budaya tidak bisa dijelaskan secara nilai dan tujuan, maka ia berhak dipertanyakan kembali

24 Februari 2026
255
Img 20250706 Wa0007
Opini

Pataka Eja is Back, Pernyataan Terbuka untuk Bendum DPP Hipma Gowa

6 Juli 2025
135
Whatsapp Image 2025 12 25 At 17 19
Opini

Menatap Masa Depan Penutur Bahasa Makassar

26 Desember 2025
121
Whatsapp Image 2024 07 04 At 15 57 23 3482a9d
Opini

TIDAK SEMUA ORANG ITU GURU

4 Juli 2024
137

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi