Oleh: Muh Ruhul Arqam
Dalam pengantar buku karya Greg Soetomo “sains dan problem ketuhanan” (1995), Louis Leahy tidak bisa menyembunyikan kegundahannya terkait seringnya agama dikonfrontasikan dengan sains dan kosmologi dalam konsepsi kontemporer. Seringkali juga dilihat secara dikotomis, apakah merupakan suatu harmoni ataukah pertentangkan? Benarkah bahwa seiring berkembangnya kemajuan sains dan teknologi bisa menjadi suatu ancaman untuk agama?
Bagaimana kita bisa menjelaskan bahwa orang beragama sangat mencurigai dan merasa takut terhadap sains dan teknologi, dan begitupun sebaliknya, tidak sedikit pun para saintis dan para ahli teknologi yang cenderung menolak agama serta menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak relevan bagi kehidupan manusia dahulu. Bagi Leahy, sikap konfrontatif atau kecurigaan tersebut berakar pada kurangnya pengetahuan dan kompetensi masing-masing mengenai yang terjadi dalam bidang riset ilmiah dan apa yang khas bagi monoteisme otentik.
Dengan latar belakang yang dikemukakan diatas maka pertanyaan yang muncul kemudian ialah bagaimana bentuk-bentuk relasi sains dan agama? Serta bagaimana metode-metode dalam relasi sains dan agama?
Menurut kajian Greg Soetomo, secara universal, ada tiga hal pokok yang dihasilkan dari pokok pikiran dan riset dari Greg Soetomo ini, yaitu:
- Perkembangan sains dianggap mampu memberikan bukti empiris dan matematis untuk menyempitkan bahkan menghilangkan religiusitas yang sering kali diikuti dengan klaim filosofis yang sebenarnya bukan wewenang sains.
- Adanya kurun waktu tertentu dimana berlangsung kemajuan serta perkembangan sains yang justru menerangi dimensi religiusitas, meskipun bukan diartikan bahwa persoalan iman, wahyu, keberadaan Allah dan dimensi religiusitas lainnya dianggap telah selesai.
- Kemajuan dan perkembangan sains justru meninggalkan jejak beban yang tidak sedikit dalam rupa problem-problem filosofis dimensi religious, iman, dan wahyu bagi filsafat Ketuhanan (Soetomo, 1995:128).
Namun demikian, pergulatan filsafat dan teologi dengan sains, menurut Louis Leahy, adalah sesuatu yang esensial agar Iman tampak sekaligus pantas dipercaya dan relevan bagi tiap individu dan masyarakat dalam suatu visi tentang alam semesta (2006:19).
Pada kesempatan ini, fokus penulis adalah agama islam karena agama tersebut setidaknya diketahui dan dipahami sedikit oleh penulis. Melihat perubahan zaman yang semakin berkembang pesat, juga dunia modernitas yang harus dihadapi umat islam, salah satu masalah yang dihadapi umat islam adalah perkembangan sains yang begitu pesat dan perlahan mengikis nilai moral dan agama, sehingga bukan lagi sains yang berkembang mengikuti kebutuhan manusia melainkan manusia yang harus menyesuaikan diri dengan sains.
Umat islam sudah sepatutnya lebih memperhatikan permasalahan ini, karena pada perkembangan sains saat ini sudah tercampuri oleh budaya barat yang mencoba melepaskan nilai-nilai agama dari sains sehingga menyebabkan lenyapnya peran agama dalam sains tersebut. Untuk itu, perlu upaya mengintegrasikan nilai-nilai dan ilmu-ilmu keislaman, agar sains tersebut tidak bias nilai sehingga kemudian memunculkan paham sekularisme.
Saat ini masyarakat banyak beranggapan bahwa “agama dan sains” adalah dua entitas yang tidak bisa dipertemukan. Keduanya memiliki wilayah sendiri-sendiri. Agama dan sains juga memiliki jalan dan arahnya masing-masing yang jika di jalan itu menemukan suatu persamaan bukan berarti mengisyaratkan bahwa keduanya saling terhubung. Peristiwa tersebut terjadi karena adanya kebetulan. Dengan ungkapan lain, sains tidak peduli agama dan agama tidak peduli sains.
Rene Descartes (1596-1650 M) adalah pelopor dikotomi agama dan sains. Menurutnya, metafisik telah mengalihkan perhatian manusia dari entitas fisik yang dianggapnya lebih berguna. Selanjutnya para pengikutnya menolak segala sesuatu yang metafisik karena beranggapan bahwa itu adalah sesuatu yang tidak saintifik.
Salah satu kutipan Descartes yang mungkin terkenal hingga sekarang adalah “Aku berpikir maka aku apa” menjadi tolak ukur kebenaran yang sekaligus menjadi sumber ilmu pengetahuan bukan lagi dari ajaran gereja (agama) melainkan rasio dan panca indra (empirisme). Paham empirisme inilah yang kemudian terus berkembang hingga zaman modern atau pencerahan.
Pada zaman pencerahan, dikotomi antara agama dan sains terlihat jelas. Ruang lingkup sains hanya dibatasi pada objek fisik, dapat teramati, terulang, terukur, teruji, teramalkan, sehingga dikotomi ilmu ini berlanjut pada munculnya paham bebas nilai.
Menurut Al-Attas, integrasi sains muncul karena tidak adanya landasan pengetahuan yang bersifat netral, sehingga sains pun tidak dapat berdiri bebas nilai. Menurutnya ilmu tidak bebas nilai (value free) akan tetapi syarat nilai (value laden).
Pengetahuan yang tersebar ke dunia termasuk masyarakat islam, telah diwarnai corak dan budaya peradaban Barat. Pengetahuan yang dibawakan dan disajikan berupa pengetahuan yang semu dan dilebur secara halus dengan yang asli (the real) sehingga manusia mengambilnya dengan tidak sadar seakan-akan menerima pengetahuan yang sejati. Karena itu Al-Attas memandang bahwa peradaban barat tidak layak untuk dikonsumsi secara langsung dan harus disterilkan lebih dahulu.
REFRENSI
-
Al-Attas, Muhammad Naquib, Islam dan Sekularisme, terj. Karsidjo dkk (Bandung: Pustaka, 1991)
-
Soetomo, Greg, Sains dan Problem Ketuhanan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius (1995)




