Oleh: Aul
Kebudayaan akan terus bertumbuh seiring dengan perkembangan manusia. Jika ditelisik lebih jauh dan berkaca pada pengetahuan Barat, cikal bakal lahirnya manusia modern diawali melalui Manusia Purba, perkembangan kebudayaan juga terus menerus berkembang dari zaman purba hingga modern kini.
Homo Sapiens sebagai cikal bakal peradaban, dari zaman berburu dan berpindah-pindah, perlahan menemukan pengetahuan untuk bertani dan hidup menetap serta perlahan membangun peradaban. Pada masa berburu, mereka telah memamfaatkan alam untuk bertahan hidup, membuat perkakas yang dengan demikian bisa mempermudah kerja-kerja mereka dan begitupun pada masa bertani.
Islam juga memiliki penjelasan tersendiri terkait asal usul manusia. Konsep manusia pertama di bumi dimulai dengan kehadiran Nabi Adam bersama dengan Hawa yang terlempar ke Bumi setelah terhasut oleh godaan syaitan untuk memakan buah Khuldi. Allah Swt. juga berfirman dalam Qs. Al-Baqarah : 30, “dan ingatlah, tatkala ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi..””.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan dari sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia di dalam suatu kelompok masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan tidak sekedar pola tingkah laku yang terjadi dalam masyarakat tetapi juga merupakan pemikiran yang teraktualisasi dalam bentuk kerja kolektif kelompok masyarakat.
Kebudayaan juga mengalami perubahan seiring berjalannya waktu, pertemuan dari kelompok-kelompok masyarakat akan mempengharui kebudayaan yang dimiliki satu sama lain. Baik melalui akulturasi yang masih mempertahankan dasar kebudayaan sebelumnya atau melalui asimilisi yang dengan mengubah hampir keseluruhan sistem kebudayaan yang dianut oleh kelompok masyarakat.
Masuknya Islam memberikan pengaruh kepada kebudayaan yang dimiliki masyarakat pribumi, bukan sekedar peralihan kepercayaan yang dianut. Kebudayaan lokal yang dilakoni oleh pribumi perlahan berubah baik melalu asimilasi ataupun akulturasi yang masih mempertahankan pondasi kebudayaan karena dianggap masih relevan dengan sistem kemasyarakatan yang diatur melalui agama Islam. Bahkan di beberapa tempat menggunakan instrumen kebudayaan lokal dalam menyebarkan agama Islam.
Kebudayaan Lokal Dalam Masa Kolonialisme
Setiap kelompok memiliki kebudayaan tersendiri yang mencapai pada sebuah garis batas peradaban, tidak melulu bahwa peradaban manusia selalu diukur dengan pencapaian dan garis standar masyarakat Barat. Pada manusia Bugis-Makassar dan Sulawesi selatan pada umumnya, memiliki kekayaan kebudayaan yang juga cukup kompleks untuk kembali kita rawat.
Pada masa kolonialisme, invasi bangsa barat terhadap dunia belahan timur membuat Bugis-Makassar juga tidak terlepas dari pengaruhnya. Penaklukan Bangsa Belanda selaku penjajah yang bertahan cukup lama di bumi ibu pertiwi tidak serta merta membuat Kerjaaan-kerajaan di Sulawesi selatan bertukuk lutut dengan mudah. Beragam siasat perang hingga adu domba antar kerajaan dijalankan Belanda untuk menjadi penguasa.
Belanda bahkan memberikan stigma kepada pribumi sebagai kaum rendahan dan bodoh, namun benarkah pribumi terkhususnya Bugis – Makassar tidak memiliki kebudayaan yang dapat menandingi kebudaayaan orang-orang Barat?.
Benyamin Frederick Matthes dikenal sebagai bagian dari proses penyaduran naskah klasik Ila Galigo pada mulanya bertugas sebagai misionaris kolonial yang mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan agama kristen sekaligus penyusun pengetahuan strategis bagi Belanda. Namun, di Jazirah Sulawesi Selatan, Matthes menemukan bahwa terdapat pengetahuan yang perlu di pelajari, perlahan misi Matthes berubah haluan mempelajari lebih jauh terkait masyarakat Bugis.
Pertemuan Matthes dengan Colliq Pujie seorang perempuan bangsawan yang terpelajar menjadi jalan bagi Matthes untuk menyingkap lebih jauh lagi terkait Ila Galigo yang hari ini melalu UNESCO telah menjadi memory of the world. Lontara Ila Galigo sekaligus menjadi penanda bahwa masyarakat bugis pada khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya kaya akan kebudayaan pada masa lalu.
Kolonialisme juga membawa angin segar terhadap pembaharuan kebudayaan dan pengetahuan dalam masyarakat. Karaeng Patingalloang yang menjadi mangkubumi kerajaan Gowa melakukan silang pengetahuan, beliau mempejari kemajuan ilmu pengetahuan Eropa. Ruang kerjanya adalah perpustakaan yang berisi pengetahuan, Globe didapatkan melalui hadiah dari VOC, serta diperoleh pula teleskop ciptaan Gallileo Gallilei yang dipesan dari Inggris.
Menerjemahkan dan Menjawab Tantangan Zaman
Kebudayan lokal yang kaya perlu kiranya untuk diterjemahkan ulang sesuai dengan konteks zaman yang berjalan. Tidak serta merta bahwa kebudayaan masa lalu adalah kebudayaan yang kolot yang tidak lagi punya peran hari ini, sekecil-kecil peran yang bisa diberikan adalah menjadi bahan refleksi terhadap problematika yang dihadapi.
Kebudayaan lokal menjadi akar bagi tumbuhnya pohon kehidupan. Sebesar-besarnya pohon yang bertumbuh tentunya membutuhkan pula akar yang kuat agar daya serap terhadap nutrisi dalam tanah berjalan lebih baik. Sedang pucuk pada pepohonan bak berfungsi menentukan arah kemana masyarakat akan bertumbuh.
Membicarakan demokrasi yang tampaknya akhir-akhir ini telah kehilangan marwah dan lebih condong memperlihatkan keotoriteriannya, kondisi demikian membawa kita untuk membuka lembaran sejarah kerajaan Wajo. Kerajaan Wajo yang dipimpin oleh Arung Matoa menancapkan sistem pemerintahan dengan corak demokrasi sejak kerajaan terbentuk.
Arung Matoa Wajo pertama yang bernama La Palewa to palippu membuat kesepakatan bersama rakyat Wajo disebutkan bahwa seorang raja atau pemimpin memiliki kewajiban untuk mengayomi, memelihara dan mensejahterakan rakyat.
Dalam lontara Sukkuna Wajo juga disebutkan bahwa “Hanya engkaulah yang ditunjukkan kepada kami oleh Dewata Yang Esa diambil jadi raja, engkau menjaga negeri dari gangguan burung pipit agar tidak hampa, menyelimuti orang-orang Wajo’ agar tidak kedinginan, mengusahakan kebaikan kami siang-malam, menyampaikan [permohonan kami] dan memohonkan kebaikan kepada Dewata Yang Esa”.
Selain itu, rakyat wajo juga memiliki hak untuk tidak meng-“iya”kan seluruh kehendak Arung Matoa. Rakyat Wajo berhak untuk menolak ketika pemimpin meraka telah menyalahi aturan adat yang berlaku atau dikenal dengan Ade’ Assiturusengna To Wajo’e. Sehingga rakyat Wajo dikenal dengan falsafah “meredeka to wajo’e ade’ na mi na pappoang” Merdekalah orang Wajo, hanya adat yang dipertuan.
Wajo mengajarkan sistem pemerintahan demokrasi yang sebenar-benarnya. Setiap individu yang menjadi bagian dari pemerintahan yang berjalan perlu kembali merefleksikan diri bahwa posisi yang diemban bukanlah menjadi seorang yang dengan telunjuknya segala sesuatu bisa terlaksa, menjadi bagian dari pemerintahan adalah membawa diri mengemban tugas untuk memikirkan dan mensejahterakan kehidupan rakyat.
Sementara di Sidenreng melalui Nene Mallomo, meperlihatkan bagaimana seharusnya hukum bekerja. Nene Mallomo menghukum anaknya yang melanggar adat yang berlaku yang dikenal dengan falsafah “Iyyaro ade’e de’ nakkiana de’ to nakkieppo” Adat tidaklah beranak dan tidak bercucuk. Hukum harus ditegakkan dengan tidak memandang siapapun baik seorang bangsawan maupun rakyat biasa.
Fenomena ekologi yang manusia hadapi saat ini tampaknya hanya memberikan kesan bahwa alam hanyalah tempat untuk memenuhi kerakusan manusia alih-alih cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. “Sejengkal tanah cukup untuk memenuhi kebutuhan kita tapi seluas bumi tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan manusia”, Viny selaku musisi Ruangbaca dalam MIWF Mei kemarin.
Alam mulai dikeruk, hasil bumi diambil dan dioalah tanpa memberikan timbal balik kepada bumi itu sendiri. Masyarakat Bugis masa lalu sangat menjaga hubungan dengan alam, karena dipandang alam juga memiliki nyawa layaknya manusia. Walau masih menggunakan pendekataan mistik atau kepercayaan supranatural, namun hal tersebut yang justru menjadi penyeimbang antara manusia dengan alam dan menjadi lampu merah bagi keserakahan manusia.
Pohon dikeramatkan misalnya di tempat-tempat tertentu, bukan berarti bahwa disekitaran tersebut terdapat hal-hal mistik yang memungkinkan untuk terjadi. Cara pandang tersebut justru membuat masyarakat untuk tidak menebang pohon secara serampangan yang jika kita menggunakan pendekatan rasional dan melihat maksud yang teringkap dibalik mistik yang dipercyai adalah justru pelarangan menebang pohon karena berpotensi terjadinya bencana.
Kebudayaan-kebudayan Bugis banyak yang dianggap tidak lagi relevan karena dipandang sebatas kepada pola laku masyarakat yang menganggapnya sebagai mistik, pamali dan tidak dapat dicerna dengan akal. Hal tersebut tentu dipengharui oleh masyarakat yang lebih mudah mencerna dan memahami sesuatu dengan pendekatan yang berbau gaib.
Namun, di balik pintu logika mistika ada rasionalitas yang perlu diterjemahkan melalui pengetahuan yang telah berkembang di tengah masyarakat. Kebudayaan lokal bisa dan sepatutnya menjadi jawaban ditengah krisis problematika yang dihadapi saat ini.



