Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Esai

Sang Pemula: Pers adalah Senjata

Kita lupa bahwa kelahiran bangsa ini dibidani oleh kaum muda melalui berbagai medium perjuangan, salah satunya adalah surat kabar. Surat kabarlah yang memimpin munculnya “embrio” nasionalisme.

Renaldy Pratama by Renaldy Pratama
19 Juli 2024
in Esai
0
Whatsapp Image 2024 07 19 At 13 35 48 F660841d

Dokumen Pribadi Mas Dito

Oleh: Ditootid

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis.

Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh-jauh di kemudian hari”.

Nyai Ontosoroh – Anak Semua Bangsa.

Itulah kalimat yang disampaikan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke. Anak Semua Bangsa merupakan buku kedua dari empat buku serial Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi Pulau Buru mengambil latar belakang Hindia Belanda di akhir abad XIX dan awal abad XX dengan tokoh utamanya adalah Minke. Minke, seorang anak Bupati Wonokromo yang mengenyam pendidikan di H.B.S. Ia dipersiapkan oleh ayahnya kelak menjadi Bupati penggantinya. Namun, ia menolak dan mengutuk jabatan penyembah kaum kolonial tersebut.

Minke, seorang pujangga yang lebih tertarik dengan dunia sastra dan tulis menulis. Tulisannya banyak dimuat di Koran Belanda dengan menggunakan nama pena Max Tollenaar. Minke adalah sosok nyata yang dikembangkan secara imajinatif oleh Pramoedya Ananta Toer. Tokoh tersebut adalah R. M. Tirto Adhi Soerjo.

Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora pada tahun 1880. Lahir dari keluarga bangsawan, kakeknya R. M. Tirtonoto adalah Bupati Bojonegoro dan ayahnya R. Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero adalah pegawai Kantor Pajak. Setelah orang tuanya meninggal, ia kemudian ikut neneknya Raden Ayu Tirtonoto. Setelah lulus dari HBS ia kemudian melanjutkan sekolah ke Stovia (sekolah kedokteran) di Batavia.

Di Stovia, ia tidak menamatkan pendidikannya, karena ia terlalu asyik dengan dunia tulis-menulis (Baca: Hendri Raharjo, “Metamorfosis Sarekat Islam: Gerakan Politik Islam dan Munculnya Kesadaran Nasional”).

Dalam versi lain, ia dikeluarkan karena kedapatan mengeluarkan resep yang belum jadi wewenangnya untuk sahabatnya orang Tionghoa miskin (Baca: Pramoedya Ananta Toer, “Sang Pemula”).

Wijbrans: Sosok Pengubah Orientasi Pers Pribumi

“Akan tetapi sebelum Indonesia ditemukan,

embrio bangsa ini telah hadir dalam pikiran dan gaya kaum muda,

dan segera memperoleh alat kelembagaan untuk mengungkapkan kesadaran nasionalnya.

Alat itu adalah surat kabar bumiputra”.

Takashi Shiraishi – Zaman Bergerak

Sebelum pers hadir dan berperan seperti apa yang disampaikan oleh Takashi Shiraishi di atas, pers yang dimiliki oleh pribumi sebelum tahun 1900 belum ada. Peran pribumi dalam dunia pers saat itu hanya bekerja atau mengirim tulisan ke redaksi surat kabar asing.

Surat kabar asing pada saat itu hanya berorientasi pada perdagangan semata. Orientasi ini juga turut andil dalam mempengaruhi penerbitan dan gaya penulisan yang lebih mengutamakan karya fiksi. Surat kabar pada masa-masa ini hanya berperan sebagai penjual tulisan dan informasi belaka.

Orientasi surat kabar akhirnya berubah pasca kedatangan seorang pria kelahiran Amsterdam tahun 1863. Karel Wijbrans, ialah yang mengubah wajah pers pribumi. Wijbrans muncul sebagai pendatang baru dalam dunia pers Hindia-Belanda (Baca: Pramoedya Ananta Toer, “Sang Pemula”).

Setiba di Medan tahun 1899, Wijbrands bekerja sebagai pimpinan harian De Sumatra Post. Dua tahun kemudian, ia kemudian ditarik oleh Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, sebuah surat kabar yang baru akan terbit di Betawi.

Kantor surat kabar Nieuws van den Dag voor menjadi awal pertemuan Wijbrands dan Tirto Adhi Soerjo. Sebab, Nieuws van den Dag voor dicetak sedapur dengan surat kabar Pembrita Betawi, di mana Tirto Adhi Soerjo merupakan redaktur kepala dan penanggung jawab dari surat kabar tersebut. Tirto Adhi Soerjo sebelum bertemu Wijbrands hanyalah seorang penjual tulisan belaka. Selain itu, ia juga terkenal sebagai petualang cinta.

Walau hanya berlangsung beberapa bulan, ternyata hubungan mereka cukup intens.  Melalui Wijbrands-lah, Tirto Adhi Soerjo belajar bagaimana kelak ia dapat mengelola surat kabar sendiri.

Selain itu, Wibrands pula yang menganjurkan Tirto untuk belajar hukum agar mengenal batasan-batasan kekuasaan kolonial. Dan yang paling berpengaruh bagi Tirto, Wibrands-lah yang mendesaknya keluar dari petualangan cinta dan mengubah orientasi serta gaya kepenulisannya yang tadinya hanya untuk menjual tulisan belaka.

Wijbarands mengubah pena Tirto menjadi begitu tajam dengan orientasi menulis untuk “mengawal pikiran publik”. Yahh, tulisan Tirto menjelma menjadi medium propaganda dan alat advokasi rakyat.

Pasca mendapat pengaruh dari Wijbrands, tulisan Tirto sangat garang mengkritik aparat pemerintah kolonial. Hal ini mengantarnya pada kepopuleran sekaligus berbagai masalah.

Pers adalah senjata

Selama ini, kita dijejali oleh narasi sejarah berdirinya bangsa Indonesia hanyalah terbatas pada perjuangan bersenjata para pejuang di medan perang. Dengan bermodalkan bambu runcing, para pejuang berhasil merebut kemerdekaan. Mungkin, karena itu pula hari ini narasi tentang nasionalisme kita dimonopoli oleh tentara.

Kita lupa bahwa kelahiran bangsa ini dibidani oleh kaum muda melalui berbagai medium perjuangan, salah satunya adalah surat kabar. Surat kabarlah yang memimpin munculnya “embrio” nasionalisme.

Jurnalis-jurnalis pribumi di akhir abad XIX dan awal abad XX keseluruhannya bekerja di surat kabar Indo dan Tionghoa. Hal ini membatasi kebebasan mereka. Hingga pada akhirnya, pasca kepulangan Tirto Adhi Soerjo dari pengembaraannya di Maluku antara tahun 1905-1906, menjadi titik balik bagi pers pribumi.

Sejak saat itu, Pers pribumi mulai mengarahkan tulisan sebagai alat perlawanan terhadap kesewenangan pemerintah kolonial dan mulai mencoba memimpin penerbitan sendiri. Tirto Adhi Soerjo tampil sebagai pemula dari perubahan wajah pers pribumi tersebut. Setelah mendirikan organisasi modern bernama Sarekat Prijaji (1906). Pada 1 Januari 1907, Tirto Adhi Soerjo juga mendirikan surat kabar yang bernama Medan Prijaji sebagai corong aspirasi.

Medan Prijaji merupakan surat kabar pertama yang didirikan oleh pribumi. Mulai dari pendanaan, pengelolaan, percetakan, penerbitan, serta wartawannya adalah murni dilakukan oleh kaum pribumi (Baca: Hendri Raharjo, “Metamorfosis Sarekat Islam: Gerakan Politik Islam dan Munculnya Kesadaran Nasional”).

Ada delapan butir gagasan Tirto Adhi Soerjo yang dimanifestasikan dalam surat kabar bentukannya tersebut (Baca: Pramoedya Ananta Toer, “Sang Pemula”), yaitu;

  1. Memberi informasi;
  2. Menjadi penyuluh keadilan;
  3. Memberi bantuan hukum;
  4. Tempat orang tersia-sia mengadukan halnya;
  5. Mencari pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan di Betawi;
  6. Menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi atau organisasi diri;
  7. Membangun dan memajukan bangsanya
  8. Memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.

Gebrakan demi gebrakan dilakukan Tirto Adhi Soerjo bersama medan laga barunya. Medan Prijaji menjelma menjadi alat advokasi rakyat. Bagi kolonialisme, tajam betul Tirto Adhi Soerjo punya pena. Hal ini bisa kita lihat dalam edisi Medan Prijaji No. 19-1909, di mana dalam edisi tersebut Tirto Adhi Soerjo Membongkar skandal Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon, dalam tulisan di Medan Prijaji Tirto Adhi Soerjo menamainya snot aap (monyet penetek atau ingusan).

A. Simon bersekongkol dengan seorang wedana, Tjondrosentono, untuk mengangkat orang pilihannya menjadi lurah di Desa Bapangan (Purworejo) secara sepihak dengan menjatuhkan calon lurah pilihan rakyat, Mas Soerodimedjo. Atas perbuatannya yang coba membongkar skandal tersebut dan tuduhan menghina A. Simon, Tirto Adhi Soejo didakwa melanggar Drukpersreglement of 1856 dan Undang-Undang Pers Tahun 1906 serta dijatuhi hukuman dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan (Baca: Hendri Raharjo, “Metamorfosis Sarekat Islam: Gerakan Politik Islam dan Munculnya Kesadaran Nasional”).

Pembuangan ke Teluk Betung, Lampung, tak membuat tumpul pena miliknya. Justru pasca kepulangannya dari pembuangan, tulisan-tulisan Tirto Adhi Soerjo dan surat kabar Medan Prijaji semakin tajam menikam jantung kekuasaan kolonial. Surat kabar Medan Prijaji yang tadinya terbitan mingguan, pada 1910 berubah menjadi surat kabar terbitan harian. Ini menjadi surat kabar harian pertama milik pribumi.

Melihat sepak terjang Tirto Adhi Soerjo dan Medan Prijaji, Dr. Rinkes, seseorang yang bekerja pada pemerintah Kolonial Belanda sebagai penasihat untuk urusan pribumi, menamai masa 1909-1911 sebagai “masa jaya” Medan Prijaji. Sebab, bukan hanya membongkar skandal A. Simon di Purworejo, Tirto Adhi Soerjo juga dengan berani melakukan pembongkaran-pembongkaran di tempat-tempat lain. Hal ini ia lakukan demi membela kepentingan rakyat kecil (Baca: Pramoedya Ananta Toer, “Sang Pemula”).

Dr. Rinkes tahu betul bahwa Tirto Adhi Soerjo memiliki kemampuan dan sarana dalam membentuk pikiran umum dan bagaimana menggunakan media surat kabar sebagai alat advokasi rakyat serta mengkritik pemerintah.

Tajamnya pena milik Tirto Adhi Soerjo kembali mengantarkannya pada meja hijau persidangan. Pada tahun 1912, Tirto Adhi Soerjo kembali dijatuhi hukuman pembuangan. Kali ini lebih jauh lagi, Tirto Adhi Soerjo dibuang ke Maluku.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2024 07 14 At 18 33 36 1dc10483
Esai

Pilar Demokrasi Rasional dalam Political Deliberation

17 Juli 2024
104
Img
Esai

Lahan Kemunduran Pemuda

12 Juli 2024
98
Whatsapp Image 2022 05 24 At 01 04
Esai

Neoliberalisme: Bentuk Privatisasi Layanan Publik di Indonesia

6 September 2025
66
Whatsapp Image 2024
Esai

Harmoni Dalam Perbedaan: Merajut Keindahan Beragama di Negara Multikulturalisme

28 Juli 2024
64

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi