Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Esai

Spiritualitas Perlawanan Syekh Yusuf Al-Makassary Dan Genealogi Pemikiran Islam Anti-Kolonial Di Nusantara

Pataka Eja by Pataka Eja
15 Oktober 2025
in Esai
0
Whatsapp Image 2025 10 12 At 22 29

Oleh: Edi Kurniawan, S.Pd., M.Pd.,Gr.


Dalam sejarah peradaban dunia Islam, Syekh Yusuf Al-Makassary (1626-1699) berdiri sebagai figur yang multitafsir seorang sufi, ulama besar lintas benua, sekaligus intelektualitas pergerakan yang menjembatani antara kedalaman spiritual dan perlawanan politik. Hidup di tengah turbulensi global abad ke-17 M, ketika kekuatan kolonial Eropa memperluas hegemoninya ke wilayah Nusantara khususnya di belahan timur, menaklukkan dunia Islam dari Afrika hingga Nusantara. Dalam situasi itu, Syekh Yusuf tampil sebagai pejuang religius dan arsitek spiritual kebebasan, yang menafsirkan tasawuf sebagai kekuatan pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan, baik secara politik, epistemologis, maupun rohani.

Pengembaraan spiritualnya dimulai dari Gowa, Banten, Aceh Darussalam lalu ke Makkah dan Madinah, hingga Ceylon (Sri Lanka) sebelum terbuang jauh ke tanah Afrika Selatan (Cape Town) hingga wafat disana sebagai pahlawan Nasional atas gagasannya memerdekakan melawan apartheid. Pengaruhnya terhadap kesadaran umat Islam di berbagai belahan kawasan menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak selalu dimulai dari peperangan, tetapi dari kesadaran metafisis tentang makna wujud dan kebebasan dalam bentuk tulisan sebagai ruang publik dan nalar gerakan. Di sinilah letak keistimewaan seorang Syekh Yusuf Al-Makassary  yang menjadikan tasawuf sebagai medium dekolonisasi batiniyah, membangun genealogi pemikiran Islam anti-kolonial yang berakar dalam teologis ketauhidan dan kemanusiaan.

Wahdatul Wujud sebagai Ontologi Pembebasan dan Kritik terhadap Kekuasaan

Dalam ruang intelektual Islam, paham wahdatul wujud  dianggap sebagai doktrin kesatuan wujud yang dirumuskan oleh Ibnu ‘Arabi yang sering disalah tafsirkan sebagai ajaran yang pasif dan kontemplatif. Namun, dalam tangan Syekh Yusuf, berubah menjadi teologi pembebasan ontologis. Nilai filsafat yang berangkat dari keyakinan bahwa hanya Allah swt, yang memiliki wujud hakiki (al-Wujud al-Haqiqi), sementara segala sesuatu di alam semesta hanyalah manifestasi (tajalli) dari kehendak-Nya.

Dalam paradigma ini, Syekh Yusuf menolak menuhankan segala bentuk kekuasaan duniawi, termasuk kekuasaan kolonial VOC/ Belanda. Monopoli penjajah, betapapun dominannya, dipandang sebagai “wujud maya” (bayangan ilusi) dari realitas Sang Ilahi. Maka, tunduk pada kolonialisme berarti kehilangan kesadaran nilai ketauhidan, suatu bentuk “kesyirikan-politik” yang menafikan keesaan Tuhan dalam ranah sosial kemanusiaan.

Menurut Auwais Rafudeen, Syekh Yusuf Al-Makassary menafsirkan kolonialisme sebagai entitas absolut yang tajalli duniawi, pantulan sementara dari dinamika hukum Ilahi dalam sejarah manusia. Oleh sebab itu, perjuangannya tidak hanya pada ruang politik praktis, melainkan sebagai gerakan jihad ontologis perlawanan terhadap ilusi kekuasaan yang menindas hakikat kemanusiaan.

Ketauhidan seseorang akan menjadi energi revolusioner yang tidak hanya menyatukan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membebaskan manusia dari segala bentuk ketundukan selain kepada Allah. Syekh Yusuf memadukan kesadaran mistisisme dan gerakan politik menjadi satu kesatuan spiritualitas yang melahirkan nilai keberanian eksistensial untuk melawan penindasan.

Kolonialisme sebagai Krisis Ruhani dan Dekadensi Akal

Syekh Yusuf Al-Makassary memandang kolonialisme sebagai sistem dominasi ekonomi-politik dan krisis ruhani secara universal. Dalam pembacaan Rafudeen, kolonialisme adalah alienasi spiritual, keterputusan manusia dari hakikat Ilahi yang melahirkan kerakusan, keserakahan, dan eksploitasi. Penjajahan adalah akibat dari nafsu amarah, jiwa yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan kehilangan keseimbangan spiritual.

Kolonialisme adalah penyakit jiwa umat manusia. Kaum penjajah terperangkap dalam ilusi materialisme, sementara kaum terjajah (kaum tertindas) kehilangan kesadaran kritis terhadap tatanan yang menindas mereka. Oleh karena itu, bagi Syekh Yusuf  melawan kolonialisme berarti memulihkan kembali kesadaran ruhani dan intelektual yang dapat membangkitkan kembali keimanan, spirit pengetahuan dan akhlak yang bersumber dari ajaran tauhid dan nilai-nilai Sipakatau dalam tradisi suku Makassar.

Penggagas Gerakan Anti-Apartheid dan Warisan Global Pembebasan

Ketika diasingkan oleh VOC/Belanda ke Ceylon dan Cape Town (Afrika Selatan), Syekh Yusuf tidak pernah berhenti berjuang. Justru di tanah pembuangan itulah ia menanam benih spiritualitas pembebasan yang kelak menginspirasi gerakan perlawanan terhadap sistem apartheid. Bagi masyarakat Gowa Banten dan Afrika Selatan, Syekh Yusuf hanya sebagai ulama semata, melainkan sebagai manusia yang dijuluki “the cramat”, tokoh yang dimuliakan dalam menanamkan gagasan tentang kesetaraan ruhani manusia di hadapan Tuhan. Dalam ajaran Wahdatul Wujud, menolak hierarki rasial, bahwa setiap manusia adalah refleksi dari satu sumber wujud yang sama. Maka, perbedaan warna kulit, suku, atau bangsa tidak dapat menjadi dasar penindasan.

Warisan pemikiran Syekh Yusuf di Cape Town membentuk pondasi moral bagi gerakan anti-apartheid, menjadikan Islam sebagai ideologi pembebasan yang transnasional. Meletakkan dasar pemikiran bahwa iman sejati selalu menolak ketidakadilan, sebab penindasan terhadap manusia berarti pemberontakan terhadap hakikat Ilahi.

Relevansi Pemikiran Syekh Yusuf dalam Konteks Modern

Pemikiran Syekh Yusuf saat ini dapat diinterpretasikan ulang oleh banyak kaum intelektual sebagai bagian dari tradisi Islam progresif dan teologi pembebasan. Dalam konteks globalisasi dan neokolonialisme modern yang menindas bukan dengan senjata, melainkan ideologi, ekonomi, dan budaya, gagasan Syekh Yusuf kembali menemukan relevansinya.

Bahwa kebebasan sejati tidak dapat dicapai tanpa kesadaran tauhid. Dunia modern yang terjebak dalam krisis makna, materialisme, dan eksploitasi manusia atas manusia lainnya sesungguhnya mereproduksi bentuk baru dari kolonialisme, yakni kolonialisme pikiran dan ruhani. Melalui ajaran-ajarannya, Syekh Yusuf menegaskan bahwa melawan sistem yang menindas harus dimulai dari pembebasan diri secara spiritual dan intelektual.

Syekh Yusuf Al-Makassary memberikan kontribusi pemikiran dan gagasan besarnya dalam membentuk genealogi Islam perlawanan, yang menjadi pondasi moral bagi tokoh-tokoh ulama pejuang selanjutnya seperti perlawan rakyat Banten dan Afrika Selatan.  Dalam wacana kontemporer kekinian, Syekh Yusuf dapat ditafsirkan sebagai pelopor dekolonisasi Islam, yang menjadikan tasawuf sebagai akar epistemologi pembebasan manusia dari penindasan secara fisik, mental dan spiritual dalam satu gagasan besarnya, bahwa kemerdekaan sejati hanya lahir dari jiwa yang mengenal Tuhannya.

Referensi:

Anthony Reid. Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680, Vol. II (New Haven: Yale University Press, 1993).

Azyumardi Azra. The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Centuries (Honolulu: University of Hawai‘i Press, 2004).

Drewes, G. W. J. Directions for Travellers on the Mystic Path: Zakariyya al-Ansari’s Kitab Fath al-Rahman. (The Hague: Mouton, 1977).

J. Schutte. De ballingschap van Sheikh Yusuf: Een episode uit de geschiedenis van de Kaap, Tydskrif vir Geesteswetenskappe (Journal of Humanities). Vol. 13, No. 4 (1973).

Hattingh, S. Sheikh Yusuf of Macassar and His Role in the History of the Cape, Historia, Vol. 19, No. 2 (1974)

van der Kroef. Sheikh Yusuf and the Early Cape Malay Community, The Muslim World, Vol. 46, No. 3 (1956).

Nasir Tamara. Syekh Yusuf dan Jaringan Intelektual Dunia Islam (Yogyakarta: LKiS, 2004).

Martin van Bruinessen. Sufism and the Indonesian Islamic Revival. The Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 26, No. 1 (1995).

Robert C.-H. Shell. From Slavery to Freedom: The Birth of the Cape Muslim Community, (Cape Town: New Africa Books, 1994).

Da Costa, Yusuf. The Life and Times of Tuan Guru (Cape Town: South African Heritage Foundation, 1989).

 

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img
Esai

Lahan Kemunduran Pemuda

12 Juli 2024
100
Img 20250901
Esai

Bagaimana Islam dan Kristen Memulai Perjalanannya di Sulawesi Selatan

1 September 2025
134
1
Esai

Sekapur Sirih Corak Produksi Kapitalistik

16 Oktober 2024
60
Whatsapp Image 2025 10 26 At 00 46
Esai

Kembalikan Nama Benteng Jumpandang

25 Oktober 2025
195

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi