Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

TRAGIKA

Oleh: Clipoper_Sltandbams.Art017

Pataka Eja by Pataka Eja
2 Juli 2024
in Opini
0
Whatsapp Image 2024 06 13 At 16 29 56 E999ab2a

Dokumen Pribadi

Satu hari yang di jalani dalam kondisi tubuh dan batin yang stabil, sama dengan hidup dalam satu kali kedipan mata. Semakin bahagia manusia itu, semakin banyak hal yang akan dilupakannya. F Budi Hardiman dalam pengantar heideger dan mistik keseharian, bilang bahwa kita sering baru benar benar menyadari bahwa kita punya tangan kaki dan seterusnya apabila ia dalam keadaan luka atau sakit, kita sering tak menyadari bahwa kita memiliki tangan, kaki dst, apabila dalam keadaan yang baik baik saja. Artinya bahwa penghayatan eksistensial sudah tentunya di mulai dari kejatuhan, dan keterpurukan. Sangat sedikit kemungkinan orang benar benar menemukan dirinya dalam kebahagiaan.

Filsuf seperti Sigmund Freud dari awal telah meletakkan manusia pada dua kondisi psikis yaitu sadar dan bawah sadar.  manusia bagi Freud lebih banyak hidup dalam alam bawah sadar di banding hidup dalam alam sadarnya.  Sangatlah sederhana untuk menganalogikan itu. Bahwa penghayatan eksistensial adalah aktifitas yang paling jarang di lakukan kebanyakan kita. Dalam hidup ini, kita lebih banyak mengetahui orang lain di bandingkan diri sendiri. kita lebih sering melupakan sesuatu, dan baru mengingatnya ketika sudah berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Kita lebih mudah memberi jawaban pada pertanyaan siapa dia, dan merasa rumit memberi jawaban pada pertanyaan siapa aku.

Jika semua manusia terlahir sebagai kertas putih yang di bentuk oleh lingkungannya, seperti ungkapan tabularasa yang di utarakan Locke. Maka setiap individu adalah tiruan dari individu lain, identitas hanya semacam basah basih yang tak punya dasar dalam pandangan ini. Kita semua adalah tiruan dari orang orang terdekat kita atau yang kita kenal. Peter ludwing Berger memberikan kemungkinan atas hal itu dalam teori konstruksi sosialnya. bahwa individu dapat merubah lingkup sosialnya dan setelah itu individu juga dapat di pengaruhi oleh lingkungan yang telah di rubah. tapi Peter le berger tidak membahas individu secara terperinci seperti yang kita temukan dalam pemikiran sartre dan heidegger.

pun heidegger misalnya, memungkinkan hal itu. dengan istilah zuhandenes menjelaskan bagaimana si individu memiliki peluang menemukan dirinya dalam relasinya dengan benda benda lain yang ada di luar dari pada dirinya. Tapi heidegger juga tidak menutup kemungkinan bahwa dengan relasi serupa, individu dapat kehilangan dirinya.

manusia tidak se-otonom yang kita bayangkan, dia lebih dinamis dari kebenaran. sebabnya kebenaran sering di cap solipsis, seorong solipsisme pastilah memperkirakan segala macam kemungkinan untuk benar, menyesuaikan dengan  kedinamisan dirinya. Komitmen tak ada artinya dalam simptom ini.

Tragika, kejatuhan, dan keterpurukan, semacam Ilham yang di berikan semesta pada setiap individu, dan hanya dengan kesadaranlah setiap kita dapat menyelimuti diri dari sikap semesta yang begitu dingin kepada kita.

Dalam zaratustra Nietzsche mengajak kita untuk berjalan bahkan menari di atas seuntai tali di bibir jurang, agar sekiranya setiap di antara kita dapat melihat kedalaman dari jurang itu tanpa rasa takut sedikitpun. Begitu kiranya yang menjadi keharusan dalam ethos menjalani aktivitas keseharian yang menyibukkan kita.

Sekali lagi, tragika, kejatuhan, keterpurukan, adalah jalan pulang sebenarnya. Dekapllah, genggamlah…

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 05 17 At 14 43
Opini

Ruang Gema Digital: Polarisasi dan Penjara Pikiran di Era Demokrasi

17 Mei 2026
75
Whatsapp Image 2025 10 18 At 21 13
Opini

Hari Jadi Sulawesi Selatan; Sebuah Refleksi atas Luka Sejarah dan Identitas yang Terlupakan

18 Oktober 2025
618
Whatsapp Image 2025 09 06 At 23 12
Opini

Kita Tak Berhak Membenci Seekor Anjing

6 Juli 2024
240
Picture1
Opini

Guru: Pilar Peradaban yang Tak Pernah Padam

26 November 2025
220

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi