Satu hari yang di jalani dalam kondisi tubuh dan batin yang stabil, sama dengan hidup dalam satu kali kedipan mata. Semakin bahagia manusia itu, semakin banyak hal yang akan dilupakannya. F Budi Hardiman dalam pengantar heideger dan mistik keseharian, bilang bahwa kita sering baru benar benar menyadari bahwa kita punya tangan kaki dan seterusnya apabila ia dalam keadaan luka atau sakit, kita sering tak menyadari bahwa kita memiliki tangan, kaki dst, apabila dalam keadaan yang baik baik saja. Artinya bahwa penghayatan eksistensial sudah tentunya di mulai dari kejatuhan, dan keterpurukan. Sangat sedikit kemungkinan orang benar benar menemukan dirinya dalam kebahagiaan.
Filsuf seperti Sigmund Freud dari awal telah meletakkan manusia pada dua kondisi psikis yaitu sadar dan bawah sadar. manusia bagi Freud lebih banyak hidup dalam alam bawah sadar di banding hidup dalam alam sadarnya. Sangatlah sederhana untuk menganalogikan itu. Bahwa penghayatan eksistensial adalah aktifitas yang paling jarang di lakukan kebanyakan kita. Dalam hidup ini, kita lebih banyak mengetahui orang lain di bandingkan diri sendiri. kita lebih sering melupakan sesuatu, dan baru mengingatnya ketika sudah berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Kita lebih mudah memberi jawaban pada pertanyaan siapa dia, dan merasa rumit memberi jawaban pada pertanyaan siapa aku.
Jika semua manusia terlahir sebagai kertas putih yang di bentuk oleh lingkungannya, seperti ungkapan tabularasa yang di utarakan Locke. Maka setiap individu adalah tiruan dari individu lain, identitas hanya semacam basah basih yang tak punya dasar dalam pandangan ini. Kita semua adalah tiruan dari orang orang terdekat kita atau yang kita kenal. Peter ludwing Berger memberikan kemungkinan atas hal itu dalam teori konstruksi sosialnya. bahwa individu dapat merubah lingkup sosialnya dan setelah itu individu juga dapat di pengaruhi oleh lingkungan yang telah di rubah. tapi Peter le berger tidak membahas individu secara terperinci seperti yang kita temukan dalam pemikiran sartre dan heidegger.
pun heidegger misalnya, memungkinkan hal itu. dengan istilah zuhandenes menjelaskan bagaimana si individu memiliki peluang menemukan dirinya dalam relasinya dengan benda benda lain yang ada di luar dari pada dirinya. Tapi heidegger juga tidak menutup kemungkinan bahwa dengan relasi serupa, individu dapat kehilangan dirinya.
manusia tidak se-otonom yang kita bayangkan, dia lebih dinamis dari kebenaran. sebabnya kebenaran sering di cap solipsis, seorong solipsisme pastilah memperkirakan segala macam kemungkinan untuk benar, menyesuaikan dengan kedinamisan dirinya. Komitmen tak ada artinya dalam simptom ini.
Tragika, kejatuhan, dan keterpurukan, semacam Ilham yang di berikan semesta pada setiap individu, dan hanya dengan kesadaranlah setiap kita dapat menyelimuti diri dari sikap semesta yang begitu dingin kepada kita.
Dalam zaratustra Nietzsche mengajak kita untuk berjalan bahkan menari di atas seuntai tali di bibir jurang, agar sekiranya setiap di antara kita dapat melihat kedalaman dari jurang itu tanpa rasa takut sedikitpun. Begitu kiranya yang menjadi keharusan dalam ethos menjalani aktivitas keseharian yang menyibukkan kita.
Sekali lagi, tragika, kejatuhan, keterpurukan, adalah jalan pulang sebenarnya. Dekapllah, genggamlah…




