Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

September: Bulan Keramat, Luka Aktivis yang Tak Kunjung Sembuh

Pataka Eja by Pataka Eja
15 September 2025
in Opini
0
Img 20250913 Wa00201

Oleh: Misba

September bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah ruang refleksi tentang darah, air mata, dan pengorbanan yang mengalir dalam sejarah bangsa. Dari mempertahankan kemerdekaan 1945, tragedi Madiun 1948, hingga luka G30S 1965, September mengingatkan bahwa kemerdekaan tak pernah datang sebagai hadiah, melainkan hasil perjuangan rakyat.

Kini, perjuangan berubah wajah. Bukan lagi perang dengan senjata, melainkan perjuangan menegakkan hak asasi manusia di tengah ketidakadilan. Jalanan menjadi ruang rakyat bersuara. “Demonstrasi adalah suara nurani rakyat yang paling jujur,” kata Munir, aktivis HAM yang dibungkam pada 2004.

Sejarah menunjukkan, September kerap menjadi bulan perlawanan. Pada 1998, mahasiswa menuntut reformasi sekaligus keadilan bagi korban penculikan. Dua dekade kemudian, September 2019, aksi “Reformasi Dikorupsi” mengguncang puluhan kota dan menelan korban jiwa. Fakta ini membuktikan bahwa suara rakyat tak pernah padam.

Namun, luka lama masih membekas. Berdasarkan data KontraS, ada 23 aktivis yang menjadi korban penculikan pada 1997–1998. Sembilan di antaranya hingga kini hilang, di antaranya Wiji Thukul dan Herman Hendrawan. Komnas HAM menyebut kasus ini sebagai pelanggaran HAM berat yang tak kunjung dituntaskan.

Sayangnya, ruang demokrasi hari ini masih terancam. Amnesty International mencatat kriminalisasi aktivis dan pembubaran aksi damai masih terjadi. Transparency International menempatkan Indonesia dengan skor korupsi 34 dari 100 pada 2024—cermin bahwa korupsi tetap menggerogoti negeri. Negara yang korup bukan sekadar gagal, tetapi juga mengkhianati rakyatnya sendiri.

September menjadi cermin bagi bangsa: apakah kita sungguh merdeka, atau sekadar mengganti wajah penjajahan dengan penindasan baru? Ingatan pada September seharusnya menyalakan kembali api perjuangan—bukan dengan senjata, melainkan dengan keberanian menjaga ingatan, melawan korupsi, dan menegakkan HAM.

Karena itu, negara tidak boleh lagi menutup mata. Kasus penculikan aktivis harus dituntaskan, koruptor dihukum, dan hak rakyat dijamin tanpa kompromi. Hanya dengan itu janji kemerdekaan bisa benar-benar ditep

Dan ketika tubuh terasa lemah, atau langkah tak lagi mampu ikut berbaris di jalan perjuangan, ingatlah: menyalakan semangat, menjaga ingatan, dan menyuarakan kebenaran, juga bagian dari perjuangan yang tak pernah padam.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Dsc022072
Opini

Antara Stagnasi dan Harapan: Membaca Ulang Arah Gerakan HIPMA Gowa

18 Desember 2025
403
Sri Wahyuni Syukur Pic
Opini

Di Tengah Gaduhnya Negeri, Pendidikan Menjadi Jalan Harapan

3 September 2025
142
Img 20250602 Wa0156
Opini

Matinya Lembaga Kemahasiswaan: Di Balik Palu Sidang dan PDH Lusuh

1 Agustus 2025
237
Nur Arifah
Opini

Menemukan Suara: Menyelami Perjalanan Menuju Pemulihan bagi Korban Kekerasan Seksual

29 Juli 2024
142

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi