Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Di Balik Pohon Yang Keramat Itu

Pataka Eja by Pataka Eja
6 Desember 2025
in Opini
0
Picture1

Oleh: Aul


“Kenapa pohon itu dikeramatkan dan sesekali kudapati sesajen berhamburan di bawahnya?” Tanyaku,

“sebab, pohon itu menjadi tempat berkumpulnya roh halus, para nenek moyang kita” Jawab Kakek kala langit berubah warna kejinggaan.

“Apakah cara pikir Kakek masih relevan kita gunakan hari ini, ditengah gempuran modernisasi dan teknologi yang semakin berkembang namun justru acapkali tidak lagi memperdulikan ekosistem alam” pikirku ditengah sosial media yang terus menerus memberitakan bencana alam.

Bencana alam kembali melanda berbagai wilayah, sebagai konsekuensi dari penebangan hutan yang tidak lagi menggunakan tebang pilih, pembukaan lahan secara serampangan serta tata letak kota yang tidak lagi teratur. Bencana kini tidak bisa lagi dilihat sebagai sebatas akibat curah hujan yang tinggi atau perubahan-perubahan iklim secara ekstrim akan tetapi juga merupakan konsekuensi atas tindakan manusia yang seringkali memenuhi keserakahan individu maupun kelompok.

Telah diciptakan Bumi untukmu sebagai tempat berlindung yang nyaman, sebagai tempat mencari rezeki dalam memenuhi kebutuhan hidup-mu lalu kelolalah dengan sebaik-baiknya, demikianlah Tuhan menyeru kepada Manusia.

Hubungan antara Manusia, Alam dan Tuhan adalah berbentuk segitiga yang saling berhubungan satu sama lain.  Manusia seharusnya menjalin harmoni dengan alam bukan sekedar mengambil manfaatnya saja, Tuhan melalui firmannya Qs. Al-A’raf : 56, telah mengingatkan kepada manusia agar menjaga bumi setelah penciptaannya.

Manusia bugis di masa lalu telah berupaya untuk mengatur tindak tanduk manusia agar tidak berlaku sewenang-wenang dengan alam sekitar melalui pamali-pamali hingga pensakralan akan suatu tempat. Walaupun dalam konteks modernisasi hari ini, hal tersebut tidak dapat lagi dicerna secara rasional akan tetapi perlu kiranya untuk melihat tujuan-tujuan yang dimaksud melalui hubungan jalinan antara manusia bugis, alam dan Tuhan.

Hubungan Alam dan Manusia

Keterhubungan Manusia dengan alam terkhususnya masyarakat bugis sangatlah erat kaitannya bahkan bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah melalui bangunan rumah yang berbahan dasar Kayu serta mayoritas masyarakat bermata pencaharian sebagai petani.

Bangunan rumah yang dimiliki manusia bugis, tentu rumah yang saya maksud bukanlah rumah modern yang kita jumpai hari ini melainkan bentuk rumah masa lalu. Dimulai dari tiang rumah yang berasal dari kayu pilihan yang telah cukup usia untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan rumah, begitupun dinding rumah juga berbahan dasar kayu atau juga sesekali kita dapat temukan berbahan bambu. Atap rumah juga terbuat dari daun rumbia yang disusun agar air hujan tidak merembes menembus atap. Segala struktur rumah dapat ditemukan dari alam sekitar.

Ada hal yang menarik juga bagi saya terkait hubungan manusia bugis dengan alam. Mereka meyakini bahwa Raja yang menjadi pemimpin merupakan perwujudan dari keseimbangan ekosistem alam.

Dalam buku To Ugi yang ditulis oleh Andi Rahmat Munawar dijelaskan bahwa hasil tani yang dihasilkan oleh rakyat merupakan cerminan dari tindak tunduk sang Raja serta para pemangku pemerintahan. Apabila didapati bahwa padi yang ditanam rakyat dimakan oleh tikus atau mengalami gagal panen maka mengindikasikan bahwa ada ketidakadilan yang dilakukan oleh para hakim dan Raja dalam menyelesaikan perkara.

Keyakinan tersebut memberikan batasan kepada pemimpin beserta dengan struktural pemerintahan agar tidak berlaku sewenang-wenang. Di Sisi yang lain, masyarakat bugis sangat segan dengan pemimpin mereka sejauh tidak menyalahi aturan adat yang berlaku. Sehingga sang raja menjadi representatif baik dari manusianya ataupun alamnya.

Di Balik Pohon Yang Keramat Itu

Hutan-hutan rapat dan lebat kerap disulap dalam semalam menjadi lahan siap tanam, lahan produksi bahkan menjadi tambang-tambang tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan yang bisa ditimbulkan sewaktu-waktu. Kita tentu menolak terjadinya bencana alam yang bisa menimbulkan kerugian baik secara material terlebih lagi jika memakan korban jiwa. Namun, melihat timbal balik kita kepada alam setelah mengambil banyak manfaat, rasa-rasanya bencana alam hanya sekedar menunggu waktu yang tepat.

Menelusuri pengetahuan masa lalu, dan bagaimana rasanya ketika mengetahui bahwa nenek moyang kita justru sengaja melabeli beberapa pohon dengan sakralitas hanya untuk menjaga wilayah mereka atas segala kemungkinan yang dapat ditimbulkan setelah penebangan pohon yang massif dilakukan?. Tentu, rasa-rasanya akan sulit untuk menyelami cara berpikir mereka yang telah berabad-abad dan ratusan tahun yang lalu telah meninggalkan kita lalu mewariskan bumi dan isinya untuk selanjutnya kita jaga.

Kita sekedar menebak-nebak, kehidupan masa lalu yang sangat dekat dengan animisme dinamisme, mungkin saja menjadi cara yang tepat dan cepat untuk membagikan pengetahuan kepada orang lain serta generasi berikutnya sebelum modernisasi dengan pemikiran rasionalitasnya.

Nenek moyang manusia bugis mengkeramatkan pohon-pohon tertentu yang salah satunya adalah pohon beringin yang biasa nya terletak di punggungan gunung atau pinggir sungai. Pohon beringin dengan akar serabut disinyalir justru dapat menahan tanah dari tanah longsor serta dapat menyerap air dengan baik.

Dibalik pohon yang keramat itu tersimpan pengetahuan yang melampaui zamannya. Dari animisme dinamisme telah menjaga alam dengan sebaik-baiknya melampaui kecerdasan manusia hari ini yang justru gemar membabat hutan, menebang pohon, mengubah lahan tidur menjadi lahan produksi serta tidak memedulikan efek jangka panjang yang ditimbulkan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan hari ini? Kembali menanam pohon, reboisasi hutan dan menjaga ekosistem alam agar tetap berjalan dengan baik. Serta satu hal lagi, memanjatkan Doa agar bencana tidak terjadi dalam waktu singkat, sesingkat pembangunan proyek strategis negara tanpa mempedulikan kehidupan masyarakat adat yang sangat bergantung dengan alam sekitar.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20250817 Wa0027
Opini

Memaksa Ketidaklayakan; Merdeka hanya untuk Penguasa (?)

17 Agustus 2025
81
Whatsapp Image 2024 06 13 At 16 29 56 E999ab2a
Opini

TRAGIKA

2 Juli 2024
60
Foto Istimewa 20240731 155825 0000 1536x1025
Opini

UINAM Value II: Brutalitas Kampus di Bawah Rezim Tuli Aspirasi

17 Agustus 2025
153
Nasdjansjkdnas
Opini

Dari Hati Damai ke Iri Hati Kekuasaan: Masihkah Gowa Maju dan Berkelanjutan?

15 Mei 2026
69

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi