Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Saat Kata Tak Lagi Tepat, Kita Tetap Merasa Benar

Pataka Eja by Pataka Eja
26 Desember 2025
in Opini
0
Jbjbjbl

ilustrasi Gemini AI

Oleh: Nur Oktavia Sari


Pernah nggak sih kamu memperhatikan tulisan di spanduk atau papan nama di pinggir jalan? Kadang hal yang kelihatannya sepele justru menarik untuk dipikirkan. Misalnya, ada warung makan yang menulis “Toko Makanan”, atau kedai minuman yang mencantumkan “Warung Jajanan”. Sekilas nggak ada yang salah, tapi kalau diperhatikan lebih dalam, pilihan kata seperti itu sebenarnya menunjukkan persoalan kecil dalam cara kita berbahasa.

Bahasa, pada dasarnya adalah cerminan cara berpikir. Ia bukan cuma alat untuk menyampaikan pesan, tapi juga menunjukkan seberapa teliti dan peka kita terhadap makna. Saat seseorang menulis “toko makanan” padahal maksudnya “warung makan”, sebenarnya ada pergeseran makna yang cukup besar. “Warung makan” menggambarkan tempat makan langsung di lokasi, sedangkan “toko makanan” mengacu pada tempat menjual makanan untuk dibawa pulang. Dua istilah dengan fungsi berbeda, tapi kini sering disamakan hanya karena kurang cermat memilih kata.

Skjdbjkba

Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa kecermatan berbahasa masih sering dianggap remeh. Banyak orang berpikir, “yang penting paham maksudnya.” Padahal, dari kebiasaan kecil seperti inilah muncul ketidakteraturan dalam berbahasa yang lama-lama dianggap wajar. Bahasa Indonesia yang seharusnya jadi alat komunikasi yang efektif dan bermartabat malah kehilangan ketepatannya dalam penggunaan sehari-hari.

Kalau dipikir, kesalahan kecil di spanduk atau papan nama sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, kesalahan ejaan, tanda baca, atau istilah sudah sering kita temui. Coba saja perhatikan tulisan “dijual” yang seharusnya “dijual”, atau “terimah kasih” yang mestinya “terima kasih”. Kesalahan-kesalahan seperti itu sering bikin kita tersenyum, tapi di sisi lain juga menunjukkan bahwa pembinaan bahasa belum sepenuhnya mengakar di masyarakat.

Kita juga nggak bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat. Dalam praktiknya, banyak orang menggunakan bahasa berdasarkan kebiasaan, bukan kaidah. Mereka meniru apa yang sering dilihat dan didengar. Kalau di sekitar kita banyak spanduk bertuliskan “Toko Nasi Goreng”, ya istilah itu pun lama-lama dianggap benar. Di sinilah pentingnya pendidikan bahasa dan literasi kebahasaan bukan cuma di ruang kelas, tapi juga di ruang publik.

Sayangnya, pembelajaran bahasa di sekolah sering berhenti di teori. Akibatnya, banyak orang tahu mana yang benar secara aturan, tapi tidak terbiasa mempraktikkannya di kehidupan sehari-hari. Padahal, membina bahasa nggak harus selalu kaku atau formal. Bisa dimulai dari hal sederhana contohnya menulis papan nama dengan tepat, menulis caption di media sosial dengan ejaan yang benar, atau menggunakan istilah sesuai konteks.

Kalau kita mau jujur, kecermatan berbahasa seringkali kalah oleh kecepatan. Di media sosial, misalnya, orang lebih memilih cepat posting daripada memeriksa kata. Kadang, typo atau ejaan salah dianggap hal biasa. “Ah, yang penting ngerti maksudnya.” Padahal, dari situ juga terbentuk budaya baru, budaya yang abai terhadap ketepatan. Ketika kesalahan kecil dibiarkan berulang, lama-lama yang salah jadi terasa benar.

Bahasa yang baik bukan cuma soal ejaan dan tata bahasa, tapi juga soal ketelitian berpikir dan tanggung jawab terhadap makna. Satu kata yang salah bisa bikin makna bergeser. Contohnya, istilah “gratis ongkir” yang sebenarnya agak rancu, karena berarti “pengiriman gratis biaya kirim”. Padahal yang dimaksud “bebas ongkos kirim”. Kelihatannya sepele, tapi kalau dibiasakan, bisa bikin makna bahasa kita makin kabur.

Kecermatan berbahasa juga mencerminkan kualitas budaya suatu bangsa. Masyarakat yang terbiasa berbahasa dengan benar biasanya juga terbiasa berpikir teratur dan logis. Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan bahasa yang sembarangan, logika berpikir pun ikut berantakan. Jadi, membiasakan diri berbahasa secara cermat itu bukan cuma soal gaya, tapi juga soal kedisiplinan berpikir dan rasa hormat terhadap bahasa sendiri.

Apalagi sekarang, di era media sosial, tantangan menjaga bahasa makin besar. Bahasa Inggris dan istilah asing berseliweran di mana-mana. Campur aduk bahasa di iklan dan konten digital jadi hal biasa. Kadang malah muncul campuran seperti “Diskon All Item Up to 50%!” yang terasa keren, tapi bikin bingung. Meski nggak salah sepenuhnya, kalau penggunaannya nggak pas, makna asli bisa hilang. Bahasa Indonesia tetap bisa berkembang tanpa kehilangan identitas, asal kita sadar dan cermat saat menggunakannya.

Kita semua punya peran di sini. Pemerintah, pendidik, pelaku usaha, media, sampai pengguna media sosial, semuanya bisa ikut menjaga bahasa lewat cara masing-masing. Nggak perlu langkah besar. Cukup mulai dari hal kecil seperti menulis papan nama dengan benar, memperbaiki ejaan teman tanpa menggurui, atau sekadar jadi contoh berbahasa yang baik. Kesadaran kecil seperti ini justru bisa menular dan berdampak besar.

Pada akhirnya, bahasa adalah wajah bangsa. Kalau wajah itu tampak berantakan karena kita lalai terhadap ketepatan berbahasa, artinya kita juga sedang lalai pada jati diri sendiri. Jadi, lain kali kalau kamu melihat spanduk dengan tulisan yang terasa “aneh” atau keliru, jangan cuma senyum-senyum. Jadikan itu pengingat bahwa kecermatan berbahasa masih jadi PR bersama. Karena mencintai bahasa bukan cuma tentang berbicara indah, tapi juga tentang menghargai makna di balik setiap kata.


DxexeezNur Oktavia Sari merupakan mahasiswi Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, UIN Raden Mas Said Surakarta. Ia aktif mengembangkan minat di bidang kepenulisan sebagai upaya memperdalam literasi dan berbagi gagasan melalui tulisan. Ia percaya menulis bukan sekadar menuangkan ide, tetapi juga sarana melatih kepekaan dan memperluas wawasan.
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

1q
Opini

Makna dan Semangat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober: Menyatukan Langkah Menuju Indonesia Emas

28 Oktober 2025
115
Foto Muhammad Lutfi Hasrah 1
Opini

Dana Zakat dan Program Makan Bergizi: Antara Etika, Logika, dan Spiritualitas

26 Januari 2025
67
Whatsapp Image 2026 01 31 At 21 01
Opini

Dehumanisasi: Saat Kita Lebih Memilih Algoritma demi Menghindari Dosa Sesama

31 Januari 2026
39
Sddfhlf
Opini

Surat Terbuka; Tetap Mekar di antara Padang Tandus

4 Maret 2026
131

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi