Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Perempuan, Budaya Patriarki dan Kapitalisme

Pataka Eja by Pataka Eja
27 Agustus 2025
in Opini
0
Budaya Patriarki 20200716

Oleh: Arnianti

Cantik, lemah lembut, anggun, penurut, dan pintar masak merupakan deskripsi perempuan yang terlintas dalam benak masyarakat pada umumnya. Mengapa begitu? Sebab budaya patriarki telah mengkonstruksi definisi perempuan sedemikian rupa, perempuan dituntut untuk bisa memenuhi deskripsi diatas agar bisa menjadi perempuan tulen katanya.

Lalu apa patriarki itu? Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti yang mengakibatkan banyak laki-laki menjadi superior terhadap perempuan. Sistem sosial patriarki menjadikan laki-laki memiliki hak istimewa terhadap perempuan.

Dominasi mereka tidak hanya mencakup ranah personal saja, melainkan juga dalam ranah yang lebih luas seperti partisipasi politik, pendidikan, ekonomi, sosial, hukum dan lain-lain. Dalam ranah personal, budaya patriarki adalah akar munculnya berbagai kekerasan yang dialamatkan oleh laki-laki kepada perempuan. Atas dasar “hak istimewa” yang dimiliki laki-laki, mereka juga merasa memiliki hak untuk mengeksploitasi tubuh perempuan.

Kembali ke deskripsi perempuan tadi, akibat budaya patriarki yang telah mengkonstruk perempuan sedemikian rupa. Banyak perempuan yang merasa insecure apabila deskripsi tadi tidak terpenuhi dalam dirinya, akibatnya banyak perempuan berlomba-lomba mengkonsumsi produk yang dihasilkan oleh industri (kapitalis).

Tentunya para kapitalis memanfaatkan budaya patriarki dalam menghasilkan produk. Semisal dalam standarisasi kecantikan secara fisik, dimana perempuan barulah dianggap cantik apabila ia putih, tinggi, berat badan ideal (seperti apakah berat badan ideal ini?), belum lagi persoalan tutur kata dan seberapa Perempuan dalam Belenggu Budaya Patriarki dan Kapitalisme perempuan.

Menyikapi hal tersebut banyak industri berlomba-lomba menghasilkan produk kecantikan dengan memanfaatkan perempuan-perempuan yang menjadi public figure. Contohnya bedak, lipstik, dan masih banyak lagi peralatan make up lain, belum termasuk kapsul peninggi badan, penambah nafsu makan (berat badan) dan lainnya.

Banyak perempuan yang menyadari hal tersebut namun mereka tetap saja menggunakan produk-produk kapitalisme “terpaksa saya harus menggunakannya, sebab perempuan yang tidak tahu ber-make up mengalami ketertinggalan zaman”. Yah perempuan dipaksa untuk mengikuti zaman dan harus update tentang jenis atau peralatan make up apa yang sedang ngetren belakangan ini.

Belum lagi persoalan standarisasi kecantikan yang mengatakan perempuan cantik itu yang tahu memasak dan mengurus rumah (domestik) sampai ke rana ini, kapitalis tetap saja memperalat patriarki untuk menjadikan perempuan sebagai konsumen tetap mereka.

Coba saja kalian perhatikan iklan-iklan di televisi ataupun yang muncul di youtube ketika anda sedang menonton video idola anda. Kebanyakan (ah tidak maksudku semua) iklan yang menyinggung tentang pekerjaan rumah menjadikan perempuan sebagai bintang iklannya entah itu iklan sabun cuci piring dan lain sebagainya.

Dengan adanya iklan-iklan seperti ini yang membuat budaya patriarki semakin langgeng, namun perempuan seakan diperdaya oleh iklan-iklan tersebut sehingga mereka seolah menutup mata terhadap ketimpangan yang hadir akibat konsumerisme.

Selain dalam konsumerisme kapitalis dan patriarki juga menindas perempuan dalam dunia kerja dimana buruh perempuan mendapatkan diskriminasi mulai dari ketimpangan gaji (buruh perempuan mendapatkan gaji lebih rendah dari buruh laki-laki), kurangnya kesempatan untuk mendapatkan posisi penting atau strategis dalam perusahaan.

Hal ini sebab adanya stereotip bahwa perempuan  tidak bisa memegang amanah lebih besar dalam dunia karir karena ia juga harus mengurus rumah (domestik) dan ditambah dengan aturan berpakaian dalam beberapa perusahaan yang mengharuskan perempuan berpenampilan menarik sehingga tak lazim kita melihat buruh perempuan yang harus menggunakan pakaian-pakaian ketat untuk menarik perhatian konsumen (keparat, perempuan dijadikan objek).

Akibat dari tiga contoh ketiga (aturan berpakaian) banyak buruh perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual baik di dalam maupun diluar kantor, namun ketika buruh perempuan menyuarakan hal yang terjadi pada mereka alih-alih keluhan mereka didengarkan yang ada mereka malah mendapatkan ancaman PHK.

Lantas setelah mengetahui sedikit dari banyaknya ketimpangan yang hadir akibat langgengnya budaya patriarki dan kapitalisme, apakah kita harus kembali mencoba menutup mata? Tentu saja tidak, sudah saatnya saya, anda dan kita semua untuk melawan budaya yang selama ini membelenggu perempuan.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Screenshot 2025 07 14
Opini

Ketika Agama Dipakai Sebagai Alat Kuasa: Di Mana Letak Ketulusan Iman Kita?

14 Juli 2025
90
Img 20250726 Wa0038
Opini

Mencandra MUBES HIPMA Gowa

27 Desember 2025
695
Img
Opini

Transformasi Uang Panai: Dari Penghormatan Budaya ke Nilai Materi

14 Juli 2024
147
Whatsapp Image 2024 12 01 At 13 18 24 70ba72e4 Copy
Opini

Pendidikan Inklusif Untuk Gen Z : Pondasi Menuju Sdgs 2030 Di Era Society 5.0

4 Desember 2024
116

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi