Oleh: Muhammad Alif Wal Iqram
Baiknya saya tegaskan terlebih dahulu posisi saya dalam catatan ini. Tulisan ini tidak sedang berdiri sebagai kebenaran mutlak, melainkan sebagai ijtihad intelektual seorang kader HIPMA Gowa yang mencoba membaca situasi organisasi dengan segala keterbatasan nalar dan pengalaman. Maka jika ada yang menganggapnya berlebihan, silakan. Kritik selalu punya risiko diterjemahkan sebagai gimik. Namun yang perlu diingat, ketakutan berlebihan untuk bersuara justru sering melahirkan stagnasi. Antara penerka dan pembuat gimik, bila sama-sama berhenti pada prasangka, keduanya tak jauh berbeda, sama-sama kehilangan substansi.
Saya sendiri mungkin belum memegang tanggal pasti, namun yang jelas Musyawarah Besar HIPMA Gowa akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Kepastian waktu boleh belum diumumkan secara rinci, tetapi kesadaran akan urgensinya tidak bisa ditunda. MUBES bukan sekadar agenda rutin periodik, melainkan kebutuhan mutlak dalam siklus regenerasi kepemimpinan organisasi, sebuah momentum ideologis untuk menata ulang arah gerak HIPMA Gowa. Kritik terhadap kepemimpinan hari ini sah-sah saja dibangun dari berbagai sudut pandang, tetapi yang lebih mendesak adalah merumuskan resolusi bersama dan reformulasi gerakan, bukan sekadar mengadili masa lalu.
Dalam setiap fase kepemimpinan HIPMA Gowa, kesalahan yang tampaknya terus berulang adalah fokus berlebihan pada siapa yang akan menjadi Ketua Umum, bukan pada bagaimana format kepemimpinan seharusnya dibangun. Energi kader terkuras habis dalam kontestasi personal, sementara perbincangan tentang sistem, paradigma, dan orientasi gerakan justru terpinggirkan. Akibatnya, organisasi terjebak dalam kultus individu. Personalia yang muncul sering kali lahir dari kerja-kerja individual yang heroik, tetapi miskin proses kolektif. Kita terlalu sibuk menyodorkan “tokoh”, alih-alih membangun kesadaran bahwa setiap kader seharusnya menokohkan dirinya sendiri melalui proses kaderisasi.
Padahal, HIPMA Gowa sejak 1966 sejatinya hadir untuk mencetak pemimpin, bukan hanya memilih Ketua Umum. Seluruh rangkaian kaderisasi baik formal maupun nonformal harus dimaknai sebagai proses memantaskan diri menjadi pemimpin. Minimal, pemimpin bagi diri sendiri. “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi”. Jika kemudian ada kader yang merasa tidak pantas memimpin, pertanyaannya sederhana tapi menohok: selama ini, apa yang telah kita lakukan di HIPMA Gowa? Organisasi bukan ruang menunggu, melainkan ruang menempa diri.
Masalah lain yang tak kalah pelik adalah hasrat berlebihan untuk menjadi pemimpin utama. Ambisi pada dirinya tidak selalu salah, tetapi menjadi problematik ketika disertai dengan penegasian terhadap orang lain, merasa paling mampu, atau bahkan melakukan kampanye hitam. Laku tindak pongah semacam ini bukan hanya merusak etika organisasi, tetapi juga mencederai semangat kekeluargaan HIPMA Gowa. Budaya semacam ini harus dihentikan, karena ia bertentangan dengan nilai dasar organisasi.
Dalam konteks ini, sikap moderat menjadi penting. Jangan terlalu ambisius hingga kehilangan etika, tetapi jangan pula apatis hingga merasa tak punya peran. Santai saja, namun tetap bertanggung jawab.
Jika kelak MUBES HIPMA Gowa digelar, lalu siapa yang paling saya andalkan? Diri saya sendiri. Pernyataan ini mungkin terdengar pongah bagi sebagian orang. Namun sejatinya, mengandalkan diri sendiri adalah bentuk keseriusan dalam memaknai kaderisasi. HIPMA Gowa mendidik kader untuk menjadi subjek perubahan, bukan sekadar objek pelengkap. Apakah saya punya visi dan misi? Ya. Lalu apa masalahnya? Justru yang patut dipertanyakan adalah mengapa masih ada kader yang tidak memiliki visi dan imajinasi perubahan, padahal indikator keberhasilan kaderisasi adalah kemampuan membaca realitas dan menawarkan gagasan.
Alam pikir yang serba sinis harus segera ditinggalkan. Sinisme hanya melahirkan kelelahan kolektif. Ia perlu diganti dengan optimisme gerakan yang ditopang oleh konsep matang dan rekam jejak yang dapat diuji. Jangan pongah dengan meniadakan orang lain, tetapi jangan pula merendahkan diri hingga merasa tak layak berbuat apa-apa.
Ada beberapa hal yang menurut saya perlu menjadi perhatian serius menjelang MUBES HIPMA Gowa.
Pertama, HIPMA Gowa jangan sampai kehilangan napas kepemimpinan kolektif-kolegial. Kepemimpinan ini bertumpu pada kebersamaan, partisipasi aktif seluruh elemen, dan orientasi pada kepentingan organisasi. Bukan pada kepentingan individu. Kepemimpinan kolektif tidak meniadakan figur, tetapi menempatkan figur dalam kerangka kerja bersama. Apakah nilai ini sepenuhnya ada dalam diri saya? Belum tentu. Namun saya berharap nilai itu hidup dalam diri kita semua.
Kedua, kepemimpinan HIPMA Gowa harus tetap berpijak pada nilai pengabdian, keilmuan, dan solidaritas sosial. Pemimpin HIPMA Gowa idealnya memiliki watak melayani, berpikir berbasis data dan nalar ilmiah, serta mampu merawat kebersamaan. Kepemimpinan bukan soal ambisi pribadi, melainkan tanggung jawab moral dan ideologis.
Ketiga, penting untuk menyerap persoalan lokal Kabupaten Gowa secara serius. Analisis kondisi objektif organisasi, pahami kebutuhan kader dan masyarakat, lalu bangun reformulasi gerakan yang relevan. Setelah itu, hadiri MUBES dengan kepala dingin dan hati gembira. Kurangi konflik yang kontraproduktif, kurangi sinisme yang melelahkan.
MUBES HIPMA Gowa seharusnya menjadi titik temu antara kritik dan harapan, antara evaluasi dan imajinasi masa depan. Itu hanya mungkin terwujud jika seluruh elemen bersikap dewasa dan bijaksana.
Hari ini, kita semua sedang mencandra MUBES HIPMA Gowa. Jangan biarkan ia direduksi menjadi sekadar arena perebutan posisi. Pendekatan yang digunakan harus melampaui pendekatan politis semata, MUBES harus yuridis, filosofis, dan ideologis. KATAKANLAH!




