Oleh: Muh Ikbal
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan prioritas pemerintah. Namanya akrab di telinga masyarakat, dan tujuannya terdengar sangat mulia, menurunkan stunting, meningkatkan kesehatan anak, dan membangun generasi kuat. Namun, belakangan program ini justru ramai dibicarakan karena kasus keracunan massal siswa.
Secara konsep, MBG merupakan program yang sangat baik, pemerintah ingin memastikan setiap generasi muda khususnya anak sekolah mendapat makanan yang bergizi denghan cara itulah anak tentunya diharapkan sehat, fokus dalam belajar dan tumbuh dengan baik, realitas dilapangan nyatanya tak seindah rencana di atas kertas.
Badan Gizi Nasional (BGN) sejak awal 2025 hinggga september mencatat 6.517 siswa diberbagai daerah mengalami keracunan setelah menyantap makanan MBG. Angka ini bukan sekedar angka statistik. Ribuan anak berarti benar-benar sakit karena makanan yang disediakan oleh negara.
Sebuah ironi program yang seharusnya menyehatkan, malah membuat anak-anak tertimpa sakit, bahkan mengancam nyawa., keracunan makanan bukanlah hal sepele. Anak yang sakit mungkin sembuh dalam beberapa hari, tetapi trauma psikologis bisa bertahan lebih lama.
Ada anak yang jadi takut makan di sekolah, bahkan orang tua pun yang dulunya sekolah sebagai tempat belajar dan aman kini banyak yang mengkhawatirkan anakanya. Selain itu, keracunan membuat anak kehilangan waktu belajar, kehilangan fokus, dan pada akhirnya merugikan dunia pendidikan itu sendiri.
Fakta dilapangan menjadi hal yang perlu dipertanyakan. Bagaimana tidak, makanan dimasak pagi hari tetapi makanan baru sampai kesekolah disiang menjelang sore hari, fokus program terlalu fokus pada kuantitas semata tanpa mengedepankan kualitas.
Distribusi yang tidak merata, ada sekolah dikota yang mendapat makanan layak tetapi terjadi perbedaan disekolah di desa-desa banyak menu yang asal jadi.
Sebagai mahasiswa tentunya mendukung program yang berpihak pada rakyat kecil. Tetapi mendukung bukan berarti menutup mata terhadap kelemahan bahkan ancaman terhadap generasi bangsa.
Kualitas dan keamanan harus benar-benar dikawal! Jika rantai pasok dan dapur penyedia makanan tidak diawasi ketat, maka risiko keracunan akan terus mengintai. Dan sekali kepercayaan publik hilang, akan sangat sulit dipulihkan.
Kalaulah Program MBG adalah program prioritas pemerintah maka jangan hanya dikejar sebagai pencitraan politik atau capaian kuantitas, tetapi harus berani menempatkan keamanan dan kualitas pangan di atas segalanya. Jika hal ini dianggap sebagai masalah sepeleh MBG hanya akan menjadi catatan manis di atas kertas, tapi pahit di lapangan.




