Oleh: Muh. Nur Fajri, S.Pd. M.Pd.
Ditengah kemajuan teknologi informasi, penggunaan gawai (gadget) telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ruang-ruang formal seperti rapat, seminar, dan diskusi publik atau hal lainnya.
Fenomena seseorang memainkan gawai saat orang lain sedang berbicara kini menjadi hal yang lumrah bahkan sebagian orang melakukannya karena kebutuhan pekerjaan, namun sebagian lain justru menjadikannya sebagai sarana pencitraan atau bahkan cara halus untuk menghindari keterlibatan dalam percakapan. Dalam konteks ini, gawai telah mengalami pergeseran makna dari alat bantu komunikasi menjadi simbol status sosial dan alat penghindaran sosial yang canggih.
Hal ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia dapat dipahami melalui kerangka teori sosiologi dan psikologi sosial. Salah satunya adalah konsep modal simbolik yang dikemukakan oleh sosiolog kenamaan asal Prancis, Pierre Bourdieu. Bourdieu menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, individu tidak hanya mengejar kekayaan atau pendidikan, tetapi juga bentuk lain dari kekuasaan yang disebut modal simbolik yakni kehormatan, pengaruh, dan pengakuan sosial (Bourdieu, 1986). Dalam ruang rapat, seseorang yang sibuk dengan gawainya kerap diasumsikan sebagai sosok yang penting, sibuk, dan memiliki tanggung jawab besar. Padahal, tidak selalu demikian.
Banyak dari mereka yang sekadar membuka media sosial atau membalas pesan pribadi, namun gestur itu menciptakan ilusi kesibukan yang bisa menaikkan citra dirinya di hadapan orang lain.
Bourdieu menyebut praktik semacam ini sebagai bagian dari manuver simbolik yakni upaya untuk mengontrol persepsi orang lain melalui tindakan-tindakan yang bermakna sosial dalam konteks rapat, gestur sibuk memainkan HP bisa menjadi cara untuk menunjukkan dominasi tanpa harus berbicara atau mendebat. Hal ini menjadi bentuk kekuasaan halus yang bekerja melalui simbol, bukan melalui argumen rasional.
Teori lain yang relevan adalah dramaturgi sosial dari Erving Goffman. Dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959), Goffman menjelaskan bahwa kehidupan sosial mirip dengan sebuah panggung, di mana setiap individu memainkan peran tertentu sesuai dengan situasi. Di hadapan publik, orang cenderung membangun citra diri (self-presentation) yang ingin mereka tampilkan. Seseorang yang terlihat sibuk dengan HP dalam rapat mungkin sedang melakukan apa yang disebut Goffman sebagai “front stage performance” menampilkan diri sebagai pribadi yang sibuk, profesional, dan relevan. Padahal, apa yang terjadi di balik layar (backstage) bisa sangat berbeda: bosan, tidak fokus, atau tidak menguasai topik yang sedang dibicarakan.
Penggunaan gawai dalam forum publik juga bisa dilihat dari sisi psikologis dan kultural sebagai bentuk penghindaran sosial. Dalam bukunya Alone Together (2011), Sherry Turkle mengungkapkan bahwa keterikatan kita pada teknologi membuat kita semakin sulit hadir secara emosional dalam interaksi nyata. Gawai menjadi pelarian yang nyaman saat seseorang tidak ingin terlibat secara langsung, entah karena canggung, bosan, atau tidak merasa punya kontribusi berarti. Ditengah rapat, tindakan menatap layar adalah bentuk “kehadiran fisik tanpa kehadiran mental”.
Pandangan kritis terhadap fenomena ini juga datang dari ranah kebudayaan. Sujiwo Tejo, budayawan dan seniman Indonesia, secara terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya terhadap orang yang bermain HP saat orang lain sedang berbicara. Dalam salah satu cuitannya, ia menulis:
“Aku paling tak suka saat sedang bicara tapi orang malah sibuk main hape. Itu sama saja kau duduk di depan orang tapi jiwamu sedang jalan-jalan.”(Sujiwo Tejo, via Twitter @sudjiwotedjo)
Pernyataan ini mengandung makna filosofis yang dalam. Bagi Sujiwo Tejo, komunikasi bukan sekadar pertukaran kata, tetapi pertemuan jiwa. Ketika seseorang mengalihkan perhatian ke layar saat lawan bicara sedang menyampaikan pikiran atau perasaan, maka sejatinya yang ditolak bukan kata-kata, melainkan kehadiran kemanusiaan itu sendiri. Fenomena ini menegaskan bahwa etika dalam komunikasi tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya, empati, dan rasa hormat
Gawai, dalam ruang publik dan forum resmi, tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan telah menjelma menjadi simbol kekuasaan dan alat pelarian dari interaksi sosial yang menuntut kehadiran utuh. Ketika seseorang lebih sibuk menatap layar daripada menyimak pembicaraan, yang hilang bukan hanya substansi diskusi, tetapi juga nilai-nilai kehadiran, rasa hormat, dan kesediaan untuk terlibat sebagai warga yang berpikir. Dalam masyarakat yang kian simbolik, mungkin sudah saatnya kita bertanya: apakah sibuk kita benar adanya, atau hanya sedang berpura-pura?.




