Oleh: Amin Nurfitra Mattayang
Dalam banyak forum-forum resmi, guru seringkali disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa.” Kalimat yang terdengar mulia, bahkan menyentuh. Tapi dibalik kalimat itu, tersembunyi satu masalah yang sangat jarang diakui secara jujur, romantisme pengabdian yang sering dijadikan alasan untuk menormalisasi ketidakadilan kesejahteraan.
Kita terlalu sering memberi wejangan tentang keikhlasan, tentang panggilan jiwa, tentang pengabdian tanpa pamrih. Seolah-olah ketika seseorang memilih menjadi guru, ia harus siap hidup dalam kekurangan. Seolah-olah tuntutan untuk hidup layak adalah bentuk ketidaksetiaan terhadap profesi. Padahal menjadi guru adalah pekerjaan profesional, bukan kerja sukarela.
Realitanya, banyak guru, terutama honorer harus bekerja sampingan demi memenuhi kebutuhan kebutuhan dasarnya. Ada yang menjadi ojek, berdagang kecil-kecilan, bertani, bahkan menjadi buruh harian setelah pulang mengajar. Mereka mengajar di pagi hari, lalu berjuang mencari tambahan penghasilan di sore hingga malam. Energi yang seharusnya digunakan untuk mempersiapkan materi, mengevaluasi pembelajaran, atau mengembangkan diri, habis untuk dapat memastikan dapurnya tetap mengepul.
Apakah ini bentuk pengabdian? Atau justru bentuk pembiaran sistemik?
Ketika negara masih memaknai kesejahteraan guru sebagai persoalan sekunder, maka pesan yang kemudian tersirat adalah “dedikasi lebih penting daripada kehidupan layak.”
Ini keliru, juga berbahaya.
Profesionalisme tidak bisa tumbuh di atas ketidakpastian. Kita menuntut guru untuk adaptif terhadap kurikulum baru, melek teknologi, inovatif dalam metode pembelajaran, serta menjadi teladan moral bagi siswa. Namun di saat yang sama, sebagian dari mereka masih harus memikirkan bagaimana membayar biaya sekolah anaknya sendiri. Ada ironi yang tajam di sana.
Pengabdian memang sebuah bentuk nilai luhur. Tetapi pengabdian bukan alasan untuk menafikan hak. Dokter tetap digaji layak meski pekerjaannya mulia. Hakim tetap mendapatkan fasilitas memadai meski tugasnya menjaga keadilan. Mengapa ketika berbicara tentang guru, narasi yang dominan justru soal keikhlasan dan kesederhanaan?
Ketika guru dipaksa mencari pekerjaan sampingan karena gaji tidak mencukupi, yang terdampak bukan hanya guru itu sendiri. Kualitas pendidikan pun ikut tergerus. Waktu dan konsentrasi terbagi. Energi yang seharusnya tercurah untuk merancang pembelajaran, membimbing siswa dan mengembangkan kompetensi profesional, justru terkuras untuk memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Motivasi bisa melemah, bukan karena mereka kehilangan idealisme, tetapi karena realitas ekonomi terus menekan. Dan dalam jangka panjang, profesi guru menjadi kurang diminati generasi muda yang melihatnya sebagai pekerjaan dengan beban besar namun penghargaan kecil.
Situasi ini semakin kompleks ketika pekerjaan sampingan yang diambil demi bertahan hidup justru berujung persoalan hukum. Belum lama ini, seorang guru honorer di Probolinggo sempat ditetapkan sebagai tersangka karena diduga merugikan negara sekitar Rp 118 juta akibat merangkap jabatan sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD). Kasus ini memicu perdebatan luas, di satu sisi, ada aspek administrasi dan tata kelola yang harus ditegakkan tapi disisi lain juga timbul sebuah pertanyaan, mengapa seorang guru honorer merasa perlu mengambil dua pekerjaan sekaligus?
Peristiwa tersebut membuka tabir realitas yang selama ini sering diabaikan. Banyak guru honorer berada dalam posisi serba sulit seperti, gaji tidak mencukupi, status belum jelas, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Ketika mereka berusaha mencari tambahan penghasilan, risiko administratif dan hukum bisa saja mengintai. Di titik inilah publik mulai mempertanyakan bukan hanya kesalahan individu, tetapi juga sistem yang melatarbelakanginya.
Jika negara sungguh ingin menjadikan pendidikan sebagai prioritas nasional, maka langkah paling konkret adalah memastikan guru tidak perlu bekerja sampingan hanya untuk bertahan hidup. Gaji yang layak, kepastian status, perlindungan sosial, serta distribusi yang adil harus menjadi fondasi kebijakan. Memberi wejangan tentang pengabdian tanpa memperbaiki kesejahteraan sama saja dengan menutup mata terhadap akar persoalan. Kita tidak bisa terus meminta guru berkorban sementara sistem tidak berubah. Menghormati guru bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kebijakan yang berpihak.
Guru seharusnya pulang dari sekolah dengan pikiran yang masih jernih untuk membaca, merancang pembelajaran, atau bercengkrama dengan keluarga, bukan bergegas mencari pekerjaan tambahan agar kebutuhan pokok terpenuhi. Karena ketika seorang guru bisa hidup dengan layak dari profesinya, di situlah pendidikan benar-benar dimuliakan.
Dan Memperjuangkan kesejahteraan guru bukanlah soal memanjakan satu profesi. Ia adalah investasi jangka panjang bagi kualitas bangsa. Sebab dari tangan guru yang sejahtera dan fokus, lahir generasi yang lebih siap menghadapi masa depan.
Di sinilah kita perlu memahami mengapa generasi muda hari ini berpikir ratusan kali sebelum memilih jalan hidup sebagai guru. Keputusan itu bukan lahir dari sikap apatis terhadap pendidikan, melainkan dari kesadaran yang semakin realistis terhadap kondisi struktural profesi guru itu sendiri.
Pertama, ketidakpastian masa depan. Anak muda menyaksikan langsung bagaimana guru honorer mengabdi belasan hingga puluhan tahun tanpa kepastian status. Mereka melihat betapa panjang dan berliku jalur untuk menuju kesejahteraan, sering kali bergantung pada kebijakan yang berubah-ubah. Di era sekarang ini, memilih profesi dengan masa depan yang kabur terasa sebagai resiko besar.
Kedua, ketimpangan antara beban kerja dan imbalan. Generasi muda hidup di era keterbukaan informasi. Mereka bisa dengan mudah membandingkan beban kerja guru dengan profesi lain yang menawarkan pendapatan lebih layak, jam kerja lebih jelas dan jalur karir yang lebih terukur. Ketika guru dituntut tidak hanya mengajar, tetapi juga mengurus administrasi, laporan, hingga berbagai tuntutan non-pedagogis, sementara kesejahteraannya tertinggal, pilihan itu terasa tidak rasional secara ekonomi.
Ketiga, hilangnya wibawa sosial guru. Dulu, guru adalah figur yang dihormati. Hari ini, tidak jarang guru justru berada dalam posisi rentan disalahkan, direkam, bahkan dikriminalisasi ketika terjadi konflik di ruang kelas. Kondisi ini membuat banyak anak muda bertanya, apakah profesi ini masih memiliki perlindungan dan penghargaan yang layak?
Keempat, perubahan orientasi hidup generasi muda. Generasi hari ini tidak semata-mata mengejar status, tetapi juga keseimbangan hidup. Mereka ingin pekerjaan yang memungkinkan tumbuh, sejahtera dan memiliki waktu untuk diri sendiri. Ketika menjadi guru berarti harus bekerja sampingan, hidup dalam tekanan ekonomi dan menghadapi beban emosional tinggi, maka pilihan itu terasa semakin berat.
Terakhir, karena negara sendiri belum memberi contoh keberpihakan yang tegas. Ketika kebijakan nasional belum sepenuhnya menempatkan pendidikan sebagai poros utama pembangunan, pesan yang diterima generasi muda sangat jelas, bahwa menjadi guru adalah pilihan mulia, tetapi tidak selalu dihargai secara sistemik.
Eksistensi pendidikan di mata anak muda hari ini sedang diuji. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka melihat ketidaksesuaian antara nilai luhur yang dikhotbahkan dan realitas yang dihadapi para guru. Jika kondisi ini terus dibiarkan, kita bukan hanya kehilangan calon guru, tetapi juga kehilangan kepercayaan generasi muda terhadap sistem pendidikan itu sendiri.
Dan ketika generasi muda mulai menjauh dari profesi guru, itu bukan kegagalan mereka. Itu adalah cermin dari kegagalan kita bersama dalam memuliakan pendidikan, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan keberanian untuk berpihak secara nyata.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya, tetapi bangsa yang memastikan setiap anak, dimanapun ia lahir, mendapat hak belajar yang layak.
Dan hak belajar yang layak dimulai dari satu hal sederhana, yaitu memastikan guru kita dihargai, disejahterakan dan tidak lagi berjuang sendirian di ujung negeri.
Saya titipkan pesan sebagaimana Ali bin Abi Thalib menitipkan pesan kepadanya,
“Tidak ada kekayaan yang lebih utama daripada akal. Tidak ada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan. Dan tak ada warisan yang lebih baik daripada pendidikan.”
Jika pendidikan adalah warisan terbaik, maka guru adalah penjaganya. Dan menjaga para penjaga peradaban itu adalah tanggung jawab bersama.




