Oleh: Nasrullah (Ketua bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi HMI KOMISARIAT SAINS DAN TEKNOLOGI Cabang Gowa Raya)
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun 2025 menjadi refleksi penting bagi generasi muda Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Di era yang dikenal dengan istilah VUCA volatility (perubahan cepat), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kerumitan), dan ambiguity (ketidakjelasan) tantangan bagi pemuda bukan lagi tentang mengangkat senjata, tetapi menguasai teknologi dan inovasi untuk mempertahankan eksistensi bangsa di tengah pusaran perubahan dunia. Jika pada 1928 para pemuda bersatu untuk memerdekakan bangsa dari penjajahan fisik, maka generasi muda hari ini berjuang memerdekakan Indonesia dari ketertinggalan digital dan teknologi.
Semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan yang diwarnai slogan dan simbolisme. Ia harus dimaknai sebagai momentum kebangkitan baru, ketika pemuda berani mengambil peran nyata dalam pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan, kreativitas, dan teknologi. Seperti disampaikan oleh pengamat sosial Nasrullah, “Di era VUCA ini, pemuda dituntut bukan hanya tangguh secara mental, tetapi juga adaptif secara digital. Teknologi adalah senjata baru perjuangan.” Ungkapan tersebut menegaskan bahwa daya juang masa kini terletak pada kemampuan beradaptasi dan berinovasi, bukan sekadar bertahan.
Generasi muda ditantang untuk menguasai berbagai teknologi mutakhir seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), big data, dan energi terbarukan. Penguasaan atas bidang-bidang tersebut tidak hanya menjadi penanda kemajuan individu, tetapi juga kontribusi strategis terhadap visi besar “Indonesia Emas 2045”. Dalam konteks ini, berpikir kritis, berkolaborasi lintas disiplin, dan berorientasi pada solusi menjadi keharusan. Dunia digital menuntut generasi muda yang mampu membaca arah perubahan, mengantisipasi risiko, dan menciptakan peluang baru bagi masyarakat.
Fenomena lahirnya berbagai startup dan komunitas teknologi di berbagai daerah adalah bukti bahwa semangat inovasi telah tumbuh subur di kalangan muda. Mereka tidak hanya mengejar profit, tetapi juga menghadirkan solusi bagi persoalan sosial, ekonomi, hingga lingkungan. Contohnya, aplikasi pertanian digital yang membantu petani mengakses pasar, platform pendidikan daring yang menjangkau daerah terpencil, hingga inisiatif energi hijau berbasis komunitas. Inilah bentuk baru dari semangat Sumpah Pemuda: kolaborasi lintas sektor yang memerdekakan rakyat dari keterbatasan melalui inovasi.
Namun, semangat inovasi ini tidak akan berkembang tanpa dukungan ekosistem yang sehat. Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta memiliki peran penting dalam menyiapkan ruang bagi pemuda untuk berkreasi. Inkubasi teknologi, pendidikan digital, serta pendanaan riset menjadi kebutuhan mendesak agar potensi generasi muda tidak hilang di tengah arus globalisasi. Pemerintah perlu menumbuhkan kebijakan yang mendorong riset lokal, memperkuat infrastruktur digital, dan memastikan akses teknologi yang merata ke seluruh pelosok negeri. Dengan demikian, semangat kolaboratif dapat tumbuh menjadi gerakan nasional.
Di sisi lain, ancaman terbesar bagi generasi muda bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri: degradasi kesadaran dan kemalasan berpikir akibat derasnya arus informasi di internet. Kecenderungan mencari hal instan dapat melumpuhkan daya kritis dan mengikis semangat belajar. Jika fenomena ini dibiarkan, bonus demografi yang semestinya menjadi kekuatan justru berpotensi berubah menjadi bencana demografi. Dari Indonesia Emas, kita bisa tergelincir menjadi “Indonesia Cemas”.
Karena itu, pertanyaan pentingnya adalah: siapkah pemuda menjawab tantangan zaman ini? Jawabannya bergantung pada sejauh mana generasi muda mampu menjadi “navigator perubahan”. Mereka bukan hanya harus tangguh menghadapi tantangan, tetapi juga berani menentukan arah baru bagi bangsa. Dengan karakter kuat, kolaborasi lintas generasi, serta kemampuan memanfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama, pemuda Indonesia dapat menjelma menjadi motor penggerak transformasi nasional.
Sumpah Pemuda 2025 harus menjadi panggilan kebangkitan baru: satu tanah air digital yang berdaulat, satu bangsa inovatif yang berdaya saing, dan satu bahasa kolaborasi lintas bidang untuk membangun masa depan. Hanya dengan kesiapan mental, spiritual, dan teknologi, generasi muda Indonesia akan mampu menjawab tantangan era VUCA dan membawa bangsa menuju kejayaan yang sesungguhnya yaitu Indonesia yang mandiri, berdaya, dan gemilang di tengah dunia yang terus berubah.




