Opini Oleh : Muh. Rezky. Z. S.Sos., M.I.Kom
Akhir-akhir ini ruang digital publik kembali diramaikan oleh berbagai konten viral. Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah jingle “MBG”. Namun MBG yang dimaksud bukanlah Makan Bergizi Gratis, melainkan “Mas Bahlil Ganteng”.
Tak lama berselang, muncul pula lagu lain berjudul “My Little Bolu Ketan” (MLBK) yang secara implisit juga ditujukan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Apakah fenomena tersebut salah? Tentu tidak. Kreativitas publik dalam memproduksi meme, lagu, maupun bentuk ekspresi digital lainnya merupakan bagian yang wajar dalam budaya internet kontemporer.
Bahkan dalam banyak kasus, humor dan satire justru menjadi sarana kritik yang efektif karena mampu menjangkau audiens yang lebih luas dibandingkan tulisan akademik atau diskusi formal.
Namun dibalik viralitas tersebut, terdapat satu pertanyaan yang patut diajukan: apakah fenomena ini sekadar hiburan digital, atau justru mencerminkan perubahan cara publik menyampaikan kritik politik di era algoritma?
Ketika Kritik Berubah Menjadi Hiburan yang Aman
Untuk memahami fenomena MBG dan MLBK, kita perlu melihat lebih jauh daripada sekadar jumlah tayangan, unggahan ulang, atau popularitas lagu tersebut.
Tetapi yang menarik bukan hanya lagunya, melainkan mengapa kritik terhadap tokoh politik kini lebih sering dibungkus dalam bentuk lagu lucu, meme, atau konten yang terkesan imut dan ringan.
Salah satu kemungkinan pembacaan adalah bahwa publik semakin terbiasa menyampaikan kritik melalui bentuk-bentuk yang ambigu, humoris, dan tidak konfrontatif.
Dalam konteks ruang digital yang sering dipersepsikan memiliki risiko sosial maupun hukum tertentu, humor menjadi medium yang relatif aman untuk menyampaikan sindiran politik.
Melalui cara ini, kritik tidak disampaikan secara langsung, melainkan disamarkan melalui candaan, ironi, dan permainan simbol. Akibatnya, kritik menjadi lebih mudah diterima, dibagikan, dan dinikmati oleh publik luas.
Namun disinilah persoalannya. Ketika kritik terlalu larut dalam format hiburan, terdapat risiko bahwa substansi kritik itu sendiri perlahan menghilang dari perhatian publik.
Dari Persoalan Kebijakan ke Lirik yang Viral
Di satu sisi, lagu-lagu semacam MBG dapat dipahami sebagai bentuk kreativitas politik digital. Akan tetapi, di sisi lain, terdapat kemungkinan bahwa perhatian publik lebih banyak terserap pada aspek hiburan dibandingkan isu kebijakan yang sebenarnya menjadi latar belakang kemunculan kritik tersebut.
Persoalan mengenai tata kelola energi, hilirisasi industri, konflik agraria, konsesi pertambangan, maupun kebijakan publik lainnya merupakan isu yang kompleks dan membutuhkan diskusi yang mendalam.
Namun ketika percakapan publik lebih banyak berkutat pada lirik-lirik yang mudah diingat dan menyenangkan untuk dijadikan konten, ruang untuk membahas substansi kebijakan dapat semakin menyempit.
Bukan berarti humor politik harus dihilangkan. Masalahnya muncul ketika humor tidak lagi menjadi pintu masuk menuju diskusi yang lebih kritis, melainkan berhenti sebagai konsumsi hiburan semata.
Infantilisme Politik di Era Algoritma
Fenomena semacam ini dapat dibaca melalui konsep infantilisme politik, yaitu kecenderungan ruang publik untuk mengonsumsi isu-isu yang kompleks melalui format yang semakin sederhana, emosional, dan mudah dicerna.
Dalam kondisi tersebut, warga negara berisiko lebih sering berinteraksi dengan simbol, sensasi, dan hiburan dibandingkan dengan argumentasi, data, serta perdebatan kebijakan yang substantif.
Akibatnya, perhatian publik dapat teralihkan dari persoalan struktural menuju bentuk-bentuk representasi yang lebih ringan dan menghibur. Tentu saja, tidak semua humor politik merupakan bentuk kemunduran berpikir.
Banyak satire politik yang justru berhasil membuka ruang kritik yang lebih luas. Namun yang perlu diwaspadai adalah ketika logika algoritma media sosial lebih mengutamakan konten yang menghibur daripada konten yang memperdalam pemahaman publik terhadap suatu persoalan.
Ketika Semua Orang Tahu, Tetapi Tetap Menikmatinya
Fenomena ini mengingatkan pada konsep cynical fetishism yang diperkenalkan oleh Slavoj Zizek. Dalam perspektif tersebut, individu sering kali menyadari adanya kontradiksi atau kepalsuan dalam suatu situasi, tetapi tetap berpartisipasi di dalamnya.
Dalam konteks MBG dan MLBK, banyak orang mungkin memahami bahwa lagu tersebut mengandung unsur sindiran politik. Bahkan mereka juga memahami adanya persoalan-persoalan kebijakan yang lebih besar di balik kemunculan fenomena tersebut.
Namun pada saat yang sama, fokus utama percakapan justru bergeser pada aspek hiburan yang ditawarkan. Akibatnya, kritik dan hiburan berjalan bersamaan.
Publik tetap dapat menyindir, tetapi juga tetap menikmati pertunjukan digital yang tercipta. Situasi inilah yang menarik sekaligus problematis, karena batas antara kritik dan hiburan menjadi semakin kabur.
Menjaga Nalar Kritis di Tengah Budaya Viral
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapapun, baik tokoh yang menjadi objek lagu maupun masyarakat yang membuat dan menyebarkannya.
Humor, kreativitas, dan budaya meme merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan digital saat ini.
Namun demikian, fenomena MBG dan MLBK dapat menjadi pengingat bahwa ruang publik digital tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga kedalaman refleksi. Jangan sampai perhatian kita habis untuk menikmati sensasi viral, sementara substansi persoalan yang menyangkut kepentingan publik justru terlupakan.
Hiburan dan kreativitas tentu boleh dinikmati. Akan tetapi, keduanya seharusnya menjadi pintu masuk untuk memperluas diskusi publik, bukan menggantikan diskusi itu sendiri.
Sebab demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan warga yang mampu tertawa, tetapi juga warga yang tetap kritis terhadap berbagai persoalan yang memengaruhi kehidupan bersama.




