Opini Oleh : Nur’ alim
Beberapa hari yang lalu, Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto, telah melantik beberapa Menteri yang menduduki bangku kosong hasil Reshuffle kabinet. Salah satunya adalah nahkoda baru di tubuh Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Terpilihnya Erick Thohir sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga telah menghadirkan optimisme baru di kalangan masyarakat. Sosok Erick bukanlah figur asing dalam dunia olahraga.
Kepemimpinan Erick Thohir di klub sepak bola internasional hingga perannya sebagai Ketua Umum PSSI, beliau sudah membuktikan diri sebagai manajer yang piawai dengan jejaring luas, baik di dalam maupun luar negeri.
Banyak yang berharap profesionalisme dan ketegasannya dapat membawa wajah baru bagi olahraga nasional. Olahraga menjadi salah satu ajang menorehkan prestasi dan menjadi ruang untuk mengibarkan bendera di puncak podium, yang akan menjadi bagian dalam Sejarah .
Di sisi lain terdapat banyak problematika. Dunia olahraga Indonesia selama ini tidak hanya berhadapan dengan persoalan teknis pembinaan, tetapi juga problem struktural yang sudah mengakar.
Keterbatasan sarana dan prasarana olahraga di daerah, pembinaan atlet yang tidak merata, serta budaya birokrasi yang sering melahirkan konflik kepentingan, menjadi ujian nyata bagi Bpk. Erick Tohir selaku Menpora.
Jika tidak ada pembenahan mendasar, maka kehadirannya di kursi Menpora bisa saja hanya melanjutkan pola lama: semarak sesaat tanpa pondasi jangka Panjang atau bahasa koboinya ; Orang baru pola lama.
Masyarakatpun Mengkritik bahwa olahraga indonesia lebih memetingkan pencitraan daripada pembinaan berkelanjutan. Prestasi yang muncul dalam satu atau dua event besar sering dijadikan legitimasi politik, sementara kesejahteraan atlet, transparansi anggaran, dan tata kelola organisasi masih jauh dari ideal.
Erick Thohir ditantang untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar sosok populer dengan jaringan besar, melainkan pemimpin yang berani membongkar praktik-praktik tidak sehat dalam dunia olahraga.
Di sinilah letak taruhan besar Erick Thohir. Jika beliau hanya mengulang pola seremonial, prestasi olahraga Indonesia akan kembali stagnan.
Namun, jika berani melakukan reformasi nyata membangun sistem pembinaan sejak usia dini, memperkuat infrastruktur di daerah, meningkatkan transparansi federasi, hingga memastikan atlet mendapat penghargaan yang layak, maka olahraga benar-benar bisa menjadi pilar pembentuk karakter bangsa.
Pada akhirnya, keberhasilan Erick Thohir tidak semata diukur dari jumlah medali, melainkan dari warisan tata kelola olahraga yang sehat, bersih, dan berdaya saing global.
Inilah tantangan yang harus dijawab: apakah ia akan menjadi Menpora yang meninggalkan jejak sejarah positif, atau sekadar nama dalam daftar panjang menteri yang gagal menjadikan olahraga sebagai kekuatan bangsa.
Mari mengambil andil dalam perkembangan dan kemajuan Olahraga Indonesia, baik itu kita sebagai akademisi, praktisi maupun pengamat olahraga, mainkan peran kita dengan sebaik-baiknya.




