Oleh: Yessi Alma’wa
I
seorang sutradara dengan tustel di tangan kiri
datang mengetuk membangunkan kuburan lama
di bawah selubung debu dan kenangan tua
teronggoklah sang primadona dengan raga renta
dari sorot Nikon D1X yang dulu memuja
kini rupa kanvas retak, menyimpan sandiwara
ia bukan lagi gadis belia
II
tustel adalah dewa artifisial
mengabadikan senyum via sorot lampu
dari tangis rekayasa dan semu kebahagiaan
dibayar dengan jiwa bersama kematian di setiap adegannya
sebuah simulacrum yang sempurna
Chiyoko bermedium boneka
menari lincah dan berduka
disaksikan jutaan mata
III
ia melesat bak komet, melintasi berbagai abad
dari zaman feodal berdarah hingga utopia yang steril
menoreh harap, mengejar si pelukis
sebuah obsesi dari hati seorang gadis
membenarkan angan-angan polosnya
menjelma dari ratu hinga geisha
demi menemukan pria secuil janji
membentuk kunci, cinta penantian abadi
IV
putaran waktu yang absud
menjebak Chiyoko di setiap peran
menciptakan suspense mengisi kekosongan
ilusi licik yang dipercaya seorang bintang
terjebak di pasir kenangan
V
Chiyoko, menepati ruang tubuhnya
mencari jalan
mengarungi kefanaan dunia
“lagi pula, yang benar-benar kucintai adalah mengejarnya.”
Jambi, 2025
***
*Penulis merupakan alumnus Sastra Indonesia, Universitas Jambi.




