Oleh: Cahyo Bintang Mardiko
Ia melangkah pelan menyisir gulana,
Menyimpan sepi yang tak ingin ia buka,
Mengusap ragu yang tumbuh di dadanya,
Menarik napas untuk tetap bertahan juga,
Sebab ia tahu hatinya belum menyerah begitu saja.
Ia merawat mimpi yang hampir sirna,
Membenamkan takut yang berusaha menggoda,
Menjaga bara meski redup cahaya,
Menolak runtuh saat dunia menekannya,
Karena dalam dirinya masih ada suara.
Ia mengumpulkan harap yang berserakan di jiwa,
Menjahit kembali yang pernah retak karenanya,
Menepis bayang yang ingin mencengkeramnya,
Melangkah perlahan meski gelap mengintainya,
Sebab ia tahu terang tak pernah benar-benar tiada.
Ia berdiri lagi setelah rapuh menyapa,
Menyusun ulang kekuatan yang hampir sirna,
Membiarkan luka menjadi guru yang setia,
Menghadapi angin yang datang tanpa suara,
Karena keberanian tumbuh dari hal-hal yang sederhana.
Ia menata langkah meski lelah menjelma,
Menatap esok dengan hati yang apa adanya,
Menguat perlahan meski rintangan menantinya,
Menyadari setiap jejaknya punya makna,
Sebab ia tahu perjalanan inilah yang menjaganya.




